Dari Dhara Untuk Dery

Dari Dhara Untuk Dery
Pelajaran khusus bersama Hendery


__ADS_3

Setelah mengobrol dengan Hendery tempo hari, Dhara terus memikirkan perkataan pria yang disukainya itu.


Hingga terbawa tidur dan akhirnya keesokan paginya ia hampir kesiangan.


Dibawah bik Imah sudah menyiapkan sarapan.


"Sarapan dulu non..." siruh bik Imah.


"Gak deh bik, kayaknya Dhara udah telat " Memakai sepatu dengan terburu - buru.


"Bukan kayaknya lagi emang udah telat ini non, ayah non udah pergi ke kantor" kata bik Imah.


Dhara semakin mempercepat memakai sepatu. Dan ia langsung lari keluar rumah dan menghampiri pak imran supirnya yang sudah menunggu didalam mobil.


"Berangkat sekarang... cepetan pak... ngebut yahh"


"Iyah non Dhara..."


.........


Sesampainya disekolah, Dhara merasa bersyukur akhirnya pintu gerbang sekolahnya belum ditutup ia melihat masih banyak murid yang baru datang.


Mungkin sekitar Tiga menit lagi bel masuk akan berbunyi.


Dhara sampai dikelasnya dan langsung duduk di kursinya, karena masih ada waktu ia menyempatkan diri untuk sarapan dan memakan roti yang telah disiapkan bik imah.


Setelah selesai sarapan, Pak Fandy masuk kedalam kelas.


Pak Fandi meminta maaf pada Dhara karena telah menuduhnya merusak perpustakaan.


Ternyata pelaku perusak perpustakaan adalah beberapa siswa kelas 12 Ips 1 . Mereka bertengkar di perpustakaan beberapa hari yang lalu. Dan gadis yang dikira sebagai Andhara adalah gadis yang diperebutkan oleh kedua siswa tersebut. Kebetulan siswi itu sedikit mirip style nya dengan Andhara.


Kemarin Kedua siswa yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat perkelahian mendatangi ruang bimbingan konseling dan mengaku bahwa merekalah yang telah merusak perpustakaan. Dan video dari cctv yang terekam hanyalah gadis yang mirip Andhara tengah melempar buku - buku yang ada diperpustakaan tersebut. Dan keesokan harinya beberapa adik kelas ada yang mengadu keruang BK bahwa mereka melihat Andhara mengacak - acak perpustakaan. Padahal gadis itu bukan Andhara.


Dhara merasa lega akhirnya tuduhan - tuduhan itu terbukti tidak benar. Tapi tetap saja dituduh sebagai pelaku kerusakan perpustakaan disekolah masih membuatnya sedikit terluka.


Teman - teman yang menuduhnya pun meminta maaf pada Dhara. Dan pak bambang menarik kembali ucapannya dan meminta maaf kepada Dhara juga.


Tapi berkat kejadian itu, Dhara merasa jarak antara dia dengan Hendery menjadi sedikit lebih dekat.


Hendery yang awalnya cuek dan dingin ternyata bisa bersikap hangat padanya, bahkan percaya bahwa bukan Dhara pelakunya.


Dhara merasa sangat bahagia.


.........


Kemarin Dhara mengirimkan pesan pada ayahnya bahwa ia ingin kembali ke sekolah mandarinnya. Dan ketika pulang sekolah Dhara langsung menuju ketempat itu.


Betapa terkejutnya Dhara mendapati kehadiran Hendery ditempat itu.


Apa yang dilakukan pria itu?


"Wahh Andhara ternyata kamu kembali lagi kesini yah? " tanya Zhang laoshi (Guru zhang) oom nya Andhara.


Andhara hanya cengengesan.


Dikelas itu bukan hanya Andhara murid yang ingin belajar bahasa mandarin, tetapi sekitar 25 orang ada dikelas itu. Sama seperti sekolah umum pada biasanya, Sekolah itu juga punya banyak kelas tapi semua mata pelajarannya hanya berfokus pada aksara dan bahasa mandarin.


Andhara duduk dikursi paling depan. Dan dihadapannya ada Guru zhang dan juga Hendery.


"Di kelas ini akan diajar sama kak Nata yah" tutur Guru Zhang.

__ADS_1


Guru Zhang menyerahkan kelas itu pada Hendery, dengan senang hati Hendery menerimanya dan dengan hormat ia menundukkan kepalanya.


Guru Zhang meninggalkan kelas itu. Semua murid yang ada di kelas itu terpesona dengan ketampanan Hendery. Pria dengan kemeja berwarna hitam kotak - kotak itu menarik perhatian seisi kelas



"Nama saya Hendery Adinata, sebenarnya saya adalah guru pendamping disini. Dan saya hanya akan berada sebentar di kelas ini. Karena pada beberapa bulan berikutnya akan ada guru pendamping yang baru ngajar disini. Semoga kita dapat bekerja sama " tutur Hendery.


Setelah menjelaskan itu, Hendery menjelaskan tentang materi bahasa mandarin.


"Di dalam bahasa mandarin, apalagi ketika berbicara dengan seseorang ada beberapa hal yang harus diperhatikan"


Hendery mengambil spidol dan menuliskan materi sambil menjelaskan.


"Pengucapan adalah yang paling utama, Huruf e di pinyin Mandarin dibaca e dalam kata empat, bukan pada sate "


Semua murid tampak mengangguk angguk.


"Apa ada yang bisa menjelaskan lagi? " tanya Hendery.


Dhara tampak sangat kebingungan ia benar - benar tidak tahu.


Lalu seorang gadis mengangkat tangan.


"Iyah kamu..." tunjuk Hendery.


Gadis itu tampak tersenyum. Ketika Dhara menoleh kearah gadis itu, Dhara seperti tidak asing. Ia seperti pernah melihat gadis itu tapi dimana?


"Huruf h di pinyin Mandarin dibaca dengan sedikit kh-, seperti dalam khawatir"


Hendery tampak tersenyum senang, sepertinya penjelasan gadis itu benar. Dhara memperhatikan keduanya, kelihatannya Hendery mengenal gadis itu. Barulah Dhara ingat, bahwa gadis yang duduk dibelakangnya itu adalah gadis yang ditemui Hendery saat jam istirahat.


Hendery kembali menjelaskan materi bahasa mandarin.


.........


Tak terasa habis sudah kelas bahasa mandarin hari ini. Cukup banyak materi yang dengan mudah Dhara fahami. Dhara sudah mengerti cara pengucapannya. Hanya saja Dhara belum mengerti tulisannya. Sepertinya untuk menarik perhatian Hendery Dhara harus benar - benar giat belajar.


"Dhara kamu harus lebih teliti lagi yah... perhatikan pelafalannya, ingat yang sudah kamu catat. Jangan ceroboh" omel Hendery.


Dhara hanya bisa mengangguk mengerti.


"Oke sampai sini materi nya, besok akan kita sambung lagi " kata Hendery sambil merapikan mejanya.


Semua murid sudah keluar, kecuali Dhara, Hendery dan Lia.


"Kak pulang sama siapa? " tanya gadis itu.


"pulang sendiri "


Mendengar kata pulang sendiri, Gadis yang bernama lengkap Amelia Agatha itu tampak menahan senyum.


"Aku pulang bareng kakak yah? " pinta Lia


"Gak usah... aku lama, masih nunggu temen " kata Hendery tak memperhatikan gadis itu.


"Gimana sih... tadi katanya sendiri, sekarang sama temen"Lia tampak kesal.


"Yaudah aku duluan " kata Lia meninggalkan kelas itu.


Kini dikelas itu hanya ada Hendery dan Dhara. Dhara yang masih sibuk mengerjakan soal yang diberikan Hendery. Karena hanya Dhara yang belum mengerti tulisan hanzi. Murid - murid yang lain sudah mengerti.

__ADS_1


"Susah banget sih..." kesal Dhara.


"Kalau dalam seminggu kamu gak bisa nulis Hanzi, silahkan keluar dari kelas saya " kata Hendery dengan galak.


"Lihat aja aku bakal buktiin... gak sampe seminggu aku pasti bisa kok..."


aduhh mampuss... ngomong apa gue barusan??


batin Dhara


"Oh oke... saya tunggu"


Hendery tersenyum kecil. Lalu ia kembali bertanya dengan informal.


"Kalau boleh tau... kenapa tiba - tiba lo mau ikut kelas ini? kata guru zhang lo udah lama ninggalin kelas ini sekitar dua tahun yang lalu "


"Ah itu... Kalau aku jawab jujur, kira - kira bisa ngejawab pertanyaan dery gak yah?" jawab Dhara.


"Justru gue butuh kejujuran lo "


"Simple sih alasannya... aku cuman pengen tau arti dari kalimat yang dery ucapin waktu pertama kali kita ketemu..."


Hendery mengedipkan matanya beberapa kali, Tak percaya dengan apa yang Dhara ucapkan.


"Hanya karen itu?? bukannya lo bilang... lo gak ingat gue ngomong apa aja? "


"Itu mah gampang... yah tinggal aku tanya lagi sama Dery..."


Hendery terkekeh pelan.


"Tapi by the way... gue juga gak ingat gue ngomong apa... udah lupa"


Dhara menatap Hendery sinis.


"Masa sih... cowok sepintar dery bisa lupa? kesan saat pertama kali kita ketemu sama seseorang itu yang paling mudah diingat loh der..."


"Kesan pertama gue tentang lo buruk... nanti kalo lo tau artinya ngambek lagi..." kata Hendery.


"Masa sih?? bukannya waktu itu Dery senyum yah? pasti kesannya baik..." Dhara sangat percaya diri.


Hendery hanya diam.


"Pak guru... kalau dalam seminggu aku bisa nulis hanzi mau ngabulin permintaan aku gak? "


"Pasti yang aneh - aneh... "


"Gak kok... janji deh gak bakal aneh..."


"Emang apa?" tanya Hendery.


"Jangan minta kencan yah" lanjut Hendery.


Dhara langsung tersipu mendengar perkataan Hendery. Sepertinya memang tidak mungkin yah...


Dayana Andhara dan Hendery Adinata berpacaran???


"Gak minta kencan kok... cuman pengen punya kelas khusus sama pak guru Hendery... hahaha" Dhara tertawa.


"Merasa tua gue dipanggil gitu..."


Hendery tertawa, untuk pertama kalinya Dhara bisa tertawa bersama Hendery. Orang yang biasa selalu pasang tampang cuek dan dingin di kelas kini sikap nya terasa hangat sore itu.

__ADS_1


__ADS_2