
Semenjak pelaku kerusakan perpustakaan telah terungkap, Dhara tidak perlu was - was lagi. Karena semenjak ia difitnah, banyak siswi - siswi yang selalu mencibir dan ia hampir di bully karena itu. Kini semua siswi - siswi itu hanya diam ketika mengetahui bahwa bukan Dhara pelakunya.
Dhara berjalan menyusuri koridor yang ramai, semua mata tertunduk melihatnya. Kalau kemarin mereka berkoar - koar, kini mereka hanya diam dan tersenyum getir melihat Dhara.
"Pagi rara" sapa salah seorang teman sekelasnya.
"Pagi..." jawab Dhara dengan tersenyum manis.
Mereka pikir Dhara akan marah dengan apa yang telah mereka perbuat pada Dhara. Tapi sayangnya Andhara bukanlah orang yang seperti itu. Meskipun segala tuduhan dan makian yang mereka lontarkan tempo hari membuat hatinya sakit namun Andhara akan memaafkan mereka.
Kala itu Hendery hanya menatapnya dari jauh dan tersenyum kecil.
"Kenapa kakak senyum lihat dia?" Tanya Lia, membuat Hendery langsung menoleh kearah lain.
"Dia siapa?" Tanya Hendery lagi.
"Pura - pura gak lihat atau gimana?"
"Gak lihat..." jawab Hendery ketus.
"Dia cewek yang ikut kelas mandarin kemarin kan?" Tanya Lia lagi.
"Siapa?" Tanya Hendery.
"Cewek itu..." menunjuk kearah Andhara yang sudah masuk kelas. Hendery menatapnya sekilas.
"Emm iyah"
"Kemarin kenapa gak mau pulang bareng aku? Pasti nemenin Cewek itu kan?" Tanya Lia cemburu.
"Pertanyaan yang pertama gadak alasan tertentu dan pertanyaan yang kedua ia aku nemenin dia belajar hanzi " jelas Hendery.
"Bukannya guru zhang itu pamannya? Dia kan bisa belajar sama guru Zhang"
"Namanya Andhara kan?" Tanya Lia lagi.
Kali ini hendery benar - benar kesal ketika ada seseorang yang begitu penasaran tentang kedekatannya dengan orang lain.
Lia ini adalah tetangga Hendery. Mereka hanya beda dua tahun. Orang tua mereka sangat dekat. Dari kecil Hendery sudah menjadi abang angkat Lia, karena Lia adalah anak tunggal dikeluarganya dan dari kecil pula Lia sudah dititipkan ke keluarga Hendery karena orang tuanya sibuk pergi keluar negri untuk urusan bisnis.
Orang tua Hendery lah yang mengambil peran sebagai orang tua pengganti bagi Lia. Dan Hendery lah yang selalu menemani Lia.
Dan Lia sedari kecil sudah nyaman berada dekat dengan Hendery, dan selalu cemburu berlebihan ketika melihat Hendery dekat dengan orang lain.
Contohnya saja ketika Hendery SMP banyak anak perempuan yang mendekati Hendery dan Lia selalu menjaga Hendery agar tidak dekat dengan anak perempuan manapun kala itu. Hanya Lia yang selalu berada disamping Hendery.
Maka dari itu Hendery susah punya pacar. Soalnya baru - baru ini Lia pernah membuat Hendery putus dengan pacarnya yang baru empat hari pacaran. Dan Hendery sama sekali tidak mengetahui itu.
Dan hari ini Lia terus menanyakan hal - hal yang tidak disukai Hendery yaitu terlalu kepo atau penasaran dengan hal yang berkaitan dengan Hendery.
Hendery menatap Lia dengan tatapan malas.
"Bentar lagi bel, aku masuk dulu" Hendery meninggalkan Lia di koridor.
Hendery pun masuk kedalam kelas.
Bersama pak bambang di les pertama. Pagi ini pak bambang memanggil siswa - siswi yang ikut olimpiade fisika untuk memulai persiapan. Karena sekitar dua minggu lagi mereka akan segera ke Bandung untuk mengikuti olimpiade tersebut.
"Andhara, Adinata, Egan dan Kay ikut keruangan saya " perintah pak Bambang.
Mereka pun keluar dari kelas dan masuk ke keruangan pak Bambang.
"Pelajaran saya akan dilanjutkan oleh guru pengganti yah"
Semua murid tampak senang karena pak Bambang yang galak tidak jadi mengajar mereka pagi ini.
...***...
Andhara dan yang lainnya sudah duduk rapi di ruangan itu. Disusul pak bambang dan bu Riska.
Kedua guru itu pun menjelaskan apa - apa saja yang kemungkinan akan keluar dari olimpiade tersebut. Bu Riska pun membagian kertas berisi soal - soal dan rumus - rumus yang harus mereka selesaikan.
"Di olimpiade nanti kalian akan diberikan waktu sekitar satu jam yah kalau gak salah untuk ngerjain semua soal - soal itu, jadi ibu harap kalian bisa bekerja sama untuk ngerjain soal - soalnya yah nak" kata Bu riska.
"Ah yah... kalian kan ada empat orang nih, tugasnya ntar dibagi. Dua orang ngerjain nomor satu sampai 50 soal dan dua orang lagi dari 50 soal sampai seratus soal" tambah pak bambang.
"Iyah nak, berarti satu orang dapat 25 soal" lanjut bu Riska lagi.
"Iyah buk..." jawab mereka serentak.
"Waktu ngerjain soal dimulai dari sekarang" seru pak bambang.
Mereka pun langsung antusias mengambil kertas soal yang diberikan pak bambang dan bu riska.
"Gue sama Egan ngerjain nomor 50 sampai seratus" kata Kay.
"Oh oke berarti gua sama Dhara nomor 1 ampe 50 yah" kata Hendery.
Mereka mengangguk.
Mereka pun langsug mengerjakan semua soal tersebut.
Dhara menatap sinis kay yang telah menentukan soal yang akan dijawab Dhara dan Hendery. Ternyata soal itu sangat sulit dan membuatnya sakit kepala. Tapi ia tetap konsisten mengerjakannya.
"Kalo ada yang lo gak tau, lo bisa tanya gue" Kata Hendery.
"Iyah..." Dhara tersenyum.
Menit demi menit berlalu, kepala mereka mulai pening dengan soal - soal yang ada.
"Dhara udah siap"
__ADS_1
"Ehh cepet banget lo" kata Kay
"Nih lo kerjain punya gue juga" kay memberikan sebagian kertas soal pada Andhara.
Tanpa protes Andhara pun mengerjakannya.
Setelah Andhara siap Hendery pun tampaknya sudah siap.
"Der... tolong periksain punya Dhara yah... kalok ada yang salah bilang" Dhara memberikan kertas soal yang sudah ia jawab kepada Hendery yang duduk disampingnya.
Hendery mengangguk dan mengambil kertas tersebut. Hendery cukup takjub dengan dua puluh lima soal yang telah dijawab Andhara. Hendery tidak menemukan kesalahan apapun di kertas tersebut. Tampaknya Hendery sedikit kagum dengan kerja keras Dhara.
Waktu yang dipakai untuk mengerjakan soal tersisa 10 menit lagi, namun mereka sudah siap mengerjakannya.
Pak Bambang dan bu Riska memeriksa semua jawaban mereka. Dan kedua guru tersebut puas murid - muridnya berhasil menjawabnya dengan benar.
Pak Bambang pun mentraktir mereka makan di kantin.
.........
Karena masih sedikit lelah karena telah mengikuti persiapan olimpiade, pak Bambang selaku wali kelas mereka mengizinkan mereka untuk beristirahat kembali.
"Tau aja pak Bambang kalo gue masih pusing" kata Kay.
"Soalnya lumayan susah sih... tapi syukurlah kita bisa jawab semuanya tanpa ada salah sedikitpun" tambah Egan.
Dhara dan Hendery hanya mengangguk dan saling menatap satu sama lain.
Egan dan Kay pun kembali ke kantin meninggalkan Andhara dan Hendery berdua diperpustakaan.
Suasana seperti ini mengingatkan Andhara saat pertama kali ia dan Hendery bertemu.
"Der... kaya de javu yah?"
"Apa yang de javu?"
"Suasananya" Dhara tersenyum menatap Hendery.
Hendery langsung peka dengan apa yang dimaksud oleh Dhara.
"Gimana hanzi nya?" Tanya Hendery.
"Tinggal dikit lagi"
"Udah tiga hari..." Hendery mengingatkan gadis itu.
"Iyah tenang aja... pokoknya Dery siap - siap aja dengerin apa permintaan Dhara nanti"
"Tinggal dengerin kan?"
Dhara menatapnya sinis.
Hendery terkekeh melihat ekspresi Dhara.
"Nyari buku apa sih der?"
Hendery tetap diam karena sedang fokus mencari buku.
Dhara terus mengikutinya tanpa lelah sedikitpun padahal Hendery saja sudah lelah melihat Dhara terus mengikutinya.
"Jangan ngikutin gue" kata Hendery.
"Kenapa?" Tanya Dhara.
"Lo gak capek ngikutin gue terus? Gue aja capek lihat lo" kata Hendery.
Andhara hanya tersenyum.
"Gak kok..."
"Mending lo baca nih rumus fisika, buat olimpiade nanti..." Hendery menyodorkan buku paket tebal kehadapan Andhara.
"Dhara udah pernah baca buku ini... udah hafal luar kepala..."
Hendery menatap Dhara dengan tatapan kesal dan kembali mencari buku.
Dhara berdiri disamping Hendery, Dhara juga ikutan mencari buku.
"Dery boleh tanya sesuatu gak?" Tanya Dhara tanpa menoleh sedikitpun kearah Dery yang berada disampingnya.
"Tanya apa?" Balas Hendery.
"Boleh atau gak?"
Hendery menoleh ke Dhara.
"Boleh... tanya apa?"
"Hendery udah punya pacar?"
Pertanyaan itu membuat Hendery terdiam dan memberhentikan aktivitasnya mencari buku. Dhara yang menyadari bahwa Hendery sedang menatapnya pun ikut menatap Hendery.
"Jangan liatin Dhara kaya gitu Hendery... tatapan Hendery tuh punya makna tersendiri buat Dhara"
"Apa maknanya?"
"Makna seperi tertarik gitu... sama Dhara"
Hendery langsung menoleh kearah lain.
"Gue gak gampang untuk tertarik sama seseorang" ketus Hendery.
__ADS_1
"Yaudah kalau gitu jawab dulu pertanyaan Dhara yang tadi..."
"Yang mana?" Hendery pura - pura tidak ingat.
"Hendery udah punya pacar atau belum?" Tanya Dhara dengan penuh kesabaran.
"Udah"
"Masa sih?" Tanya Dhara tidak percaya.
"Memang kenapa kalau gue udah punya pacar atau belum?"
"Ya kalau belum punya Dhara mau jadi pacarnya Hendery... yah kalau udah punya Dhara akan tunggu sampai Dery putus dari pacar Dery" jawab Dhara dengan sangat polos.
Hendery menghembuskan nafas panjang. Bagaimana mungkin ada seorang gadis seperti Dayana Andhara ini. Gadis yang terkadang kelihatan dewasa dan tegas ini kini begitu polos dan lugu dihadapannya. Seperti ada dua kepribadian dalam diri Andhara ini.
"Gue gak bakal putus dari dia..." tegas Hendery.
"Kalau gitu Dhara bakal ngebuktiin ke Hendery betapa tulusnya Dhara mencintai Hendery "
Hendery terbelalak kagetnya bukan main. Jadi ceritanya dia sedang ditembak oleh seorang cewek gitu?? Tapi pernyataan Dhara seolah - olah Hendery itu sudah tahu akan perasaan Dhara terhadapnya. Hendery mengedipkan matanya beberapa kali tidak percaya yang didengarnya barusan.
"Hendery kok diam? Kenapa?? Pasti terkesan yah sama perkataan Dhara?"
Hendery masih diam, Hendery berfikir bahwa gadis dihadapannya ini sedang mengerjainya ataukah ada kamera tersembunyi disini atau dia sedang berada dalam reality show Jebakan mampus. Hendery masih ngebug guys...
Tanpa menjawab pertanyaan Andhara, Hendery berjalan mundur dan berlari keluar dari perpustakaan.
"Ehhh Deryy??? Kok lari sih??"
"Emang perkataan aku salah yah? Apa terlalu cepet yah nanyak nya?" Dhara memukul dahinya dengan telapak tangan.
...***...
Pulang sekolah Andhara langsung pergi ke tempat kelas mandarinnya. Disana sudah ada Hendery yang sedang duduk dimeja guru.
Dhara duduk di kursinya sambil menatap Hendery yang tengah fokus membaca buku.
Dhara pun membuka tasnya dan membaca buku bahasa mandarin.
Setelah semua murid datang barulah Hendery membuka kelasnya dengan formal.
Mereka mulai membahas materi baru.
Seperti biasa pembahasan ini membuat Dhara merasa sangat bosan. Namun karena perasaannya terhadap Hendery mau tidak mau ia harus memperhatikannya. Hendery yang tengah mengajar menyadari bahwa Dhara merasa bosan dan terus menguap beberapa kali.
Namun Hendery tetap melanjutkan materi.
Dua jam pun berlalu, pelajaran selesai. Semua murid mengumpulkan tugas yang diberi oleh Hendery dan seperti biasa Dhara selalu berada di urutan terakhir pengumpulan tugas. Dengan senang hati Hendery tetap menunggunya dan untuk yang kedua kalinya Hendery menolak ajakan Lia untuk pulang bersama.
Dengan kesal Lia meninggalkan kelas dan menatap sinis kearah Dhara yang tengah fokus mengerjakan tugas.
Suasana kelas menjadi hening karena semua murid sudah pulang.
Padahal materi kali ini Hendery hanya menyuruh untuk membuat puisi, namun ia tidak menyangka kalau Dhara akan mengerjakannya selama ini. Mungkin karena ia belum bisa menyusun kalimat? Hendery mencoba berfikir positive.
"Sesulit itu yah?" Tabya Hendery memecah keheningan.
"Lumayan..." jawab Dhara tanpa menoleh kedepan.
"Kan saya suruh buat puisi singkat. Yang lain aja udah pada siap kenapa kamu belum?" Tanya Hendery lagi.
"Yang namanya puisi pasti harus bagus kan? Saya mau buat anda terkesan dengan karya yang saya buat"
Hendery kembali mengingat kejadian diperpustakaan.
"Mau coba nembak saya pakai puisi mandarin yah ?"
Andhara yang tadinya tengah fokus kini berhenti menulis dan mencerna perkataan Hendery dengan baik.
Apa maksudnya ini? Kenapa tiba - tiba pria didepannya itu mendadak tahu isi pikirannya.
"Kok diam?? Kenapa? Pertanyaan saya bener yah?" Tanya Hendery lagi.
Dhara tetap diam dan mencoba fokus menulis.
Hendery terkekeh.
"Semenjak saya pindah ke SMA WIRYA saya perhatiin kayaknya kamu berusaha ngedeketin saya terus... kenapa?" Tanya Hendery menghampiri meja Dhara.
"Kenapa mendekati saya?" Tanya Hendery lagi.
"Kalau saya bilang saya suka? "
"Kasih saya alasannya" pinta Hendery.
"Kalau gak punya?"
"Pasti punya"
Dhara tidak bergeming. Ia malah menatap keluar jendela. Melihat hujan yang mulai turun.
"Seperti cuaca sore ini, padahal gak ada tanda - tanda akan turun hujan, tapi dia malah datang, apakah itu bisa disalahkan? Itu kan rencana Tuhan. Sama seperti perasaan saya,saya gak tahu kenapa...Tapi mungkin itu juga bagian dari rencana Tuhan"
...***...
Sama seperti Hendery yang tidak menyukukai hujan, Hendery juga tidak menyukai siapapun saat ini. Namun mustahil bahwa ia tidak tertarik dengan Gadis cantik dan pintar seperti Andhara. Hanya saja Hendery belum siap untuk membuka hati kepada siapapun.
Dan sama halnya seperti Hendery yang selalu terjebak ditengah hujan mustahil jika Hendery terus - terusan untuk menghindari keinginan yang ditetapkan oleh Tuhan. Mau tidak mau Hendery harus menyediakan jas hujan untuk melewati semua itu. Sama seperti saat ini, Hendery terus bertanya - tanya kenapa harus Andhara???
Bagi Hendery, Andhara adalah butiran hujan yang sangat mengganggu aktivitasnya. Sangat berisik untuk di dengar.
__ADS_1
Namun meskipun begitu, Hendery tetap mendengarkannya.
Suatu saat nanti Hendery pasti akan merasakan bahwa, suara hujan itu sangat nyaman untuk didengar. Begitu juga dengan kehadiran Dayana Andhara.