Dari Dhara Untuk Dery

Dari Dhara Untuk Dery
Aku harus apa?


__ADS_3

Percakapan dikelas Mandarin tempo hari membuat Hendery terus berfikir. Mungkinkah Andhara menyukainya tanpa alasan ? Tapi kenapa?


Kenapa gadis itu sangat mudah jatuh cinta kepada dirinya dalam kurun waktu yang singkat. Bukankah jatuh cinta itu juga butuh proses? Andhara memang gadis yang sulit untuk dimengerti, Kalau begini Hendery ingin sekali menjadi batu.


Pindah ke SMA WIRYA ternyata bukan solusi yang terbaik, Hendery benar – benar menyesal. Tapi seperti nasi yang sudah menjadi bubur, semua itu tidak akan pernah kembali lagi.


...***...


Keesokan paginya disekolah.


Pagi – pagi sekali Hendery sudah berada diperpustakaan, untuk mencari referensi. Andhara yang baru saja datang kesekolah langsung mencari keberadaan Hendery begitu melihat tas pria itu sudah ada dikursinya.


“ Ohh ternyata Hendery datangnya jam segini... pagi banget ” batin Dhara, ia langsung keluar kelas dan mencari keberadaan Hendery.


Jantungnya berdegup begitu kencang ketika melewati perpustakaan, ia pun masuk. Matanya langsung mencari keberadaan Hendery. Dan sampai pada rak buku disebelah kiri, ia melihat seorang pria sedang mencari buku. Tak salah lagi pasti itu Hendery.


“ Dery... selamat pagi ” sapa Dhara.


Hendery terkejut melihat Dhara yang sudah berada didekatnya.


Mungkinkah diperpustakaan ini ada cctv yang terhubung ke kelasnya, sehingga Andhara bisa tahu keberadaannya. Atau mungkin Andhara punya pelacak sehingga bisa tahu keberadaan dirinya? Hendery terus memperhatikan Andhara dari atas ke bawah.


“ Lo ngapain disini?” tanya Hendery dingin.


“ Hendery kalau disapa itu, yah disapa balik...”


“ Andhara kalau orang nanya itu dijawab...!!” tegas Hendery.


Andhara mendecak sebal.


“ Dhara kesini yah nyari Dery...”


Hendery menatapnya dengan wajah malas.


“ Ada urusan apa? Kenapa lo cari – cari gue? Gue punya utang sama lo?”


Dhara menatap pria didepannya itu dengan keheranan.


“ Ih... Dery kok jadi cerewet sih? Kayak cewek lagi pms”


Karena malas meladeninya, Hendery memilih pergi.


“ Dery... mau kemana?” tanya Dhara berlari


mencegahnya.


“ Apa lagi ?” Tanya Hendery kesal.


“ Tugas puisinya udah Hendery baca kan?”


“ Gak akan pernah gue baca...” jawab Hendery kasar.


“ Dan yah... jangan pernah lo nemuin gue lagi, dan jangan ganggu gue lagi”


Hendery pun pergi dari hadapan Dhara. Ada apa dengan Hendery pagi ini? Kelihatannya ia begitu kesal apa semua itu karena Andhara? Ya iyalah jadi karena siapa lagi?


Andhara pun berjalan keluar kelas dengan lemas sambil memikirkan perkataan Hendery. Apakah benar tugas yang sudah ia buat dengan susah payah tidak akan dibaca sedikitpun? Tapi kalau melihat dari ekspresi wajah serius Hendery, sepertinya pria tampan itu berkata jujur. Andhara kesal, hatinya benar – benar sakit terlebih lagi ketika Hendery bilang untuk jangan menemuinya lagi.


Entah kenapa rasanya Andhara hari ini jadi tidak mood masuk kelas mandarin siang ini. Andhara masuk ke kelas dan melihat Hendery tengah berbincang dengan Lia adik kelasnya. Andhara sangat kesal, bagaimana bisa seseorang dari kelas lain dengan seenaknya masuk kekelas nya dan berlagak seolah kelasnya adalah tempat umum. Padahal banyak mata sinis yang menatap kearah Lia, namun sepertinya dia tidak peduli. Andhara pun duduk dikursinya, dan Egan menghampirinya.


“ Ra? Lo kenapa?” tanya egan.


“ Gak kok Dhara gapapa...”


Egan tersenyum dan memberikan coklat kesukaan Dhara.

__ADS_1


“ Dimakan yah...” pinta Egan dan berlalu dari hadapan Dhara.


Dhara hanya mengangguk.


Tak lama kemudian bel pun berbunyi, Lia dengan segera meninggalkan kelas tersebut sebelum ketahuan Pak Bambang. Yang benar saja, saat Lia keluar dari kelas 12 Ipa 1 Pak Bambang langsung muncul dan masuk ke kelas. Dhara sempat mendumel di dalam hatinya, kenapa Pak Bambang dan Lia tidak dipertemukan saja. Sepertinya Andhara mulai tidak suka dengan gadis yang selalu mengekori Hendery kemanapun dia pergi.


Pak Bambang memberi tahu bahwa olimpiade sudah dekat, ia memperingatkan murid – murid yang ikut olimpiade tersebut untuk belajar ekstra. Yah bukan waktu bagi Andhara untuk mengejar – ngejar Hendery lagi. Ia harus fokus dengan olimpiade ini.


Mereka pun pergi keruang belajar dan kembali membahas materi untuk olimpiade. Andhara, Hendery,Egan dan Key duduk diruangan itu sambil membaca beberapa materi fisika.


“ Ini soal baru, silahkan dikerjakan. Kali ini kalian harus lebih fokus, tinggalin dulu becanda – becanda gajelas kalian itu...” perintah Pak Bambang.


“ Oh iyah untuk Key... tolong lebih diperhatikan lagi rumus – rumusnya, jangan sampai ceroboh menjawab soalnya” lanjut pak Bambang.


Key nampaknya sedang banyak pikiran belakangan ini, bahkan seluruh soal yang ia isi, jawabannya hanya beberapa saja yang benar. Sehingga Dhara dan Hendery ikut turun tangan membantunya.


Mereka pun lanjut mengerjakan soal – soal tersebut.


Setelah selesai, semuanya keluar dari ruangan tersebut kecuali Key. Ia duduk termenung sambil menatap lembaran soal yang ia jawab dengan salah. Tidak lama kemudian seorang pria berkacamata dengan setelan jas berwarna hitam masuk keruangan itu dan duduk dihadapan Key.


“ Gimana soal nya? Bisa kan kamu jawab? Benar semua kan? Gak ada yang salah kan?” tanya Pria itu dengan pertanyaan yang bertubi tubi. Key merapikan kacamata nya karena gugup.


Key hanya diam dan menunduk.


“ Kenapa kamu gak jawab??? Jangan bilang kamu ceroboh lagi !!!” bentak pria itu.


“ Maafin aku pa...”


Pria itu mengepalkan tangannya dan menghampiri Key. Ia mengambil kertas soal yang dipegang oleh Key dan melihat nilai yang key peroleh. Pria itu mengatur nafasnya.


“ Jawab papa... apa maksudnya ini?? Kenapa bisa salah gini??” bentak pria itu.


“ Maaf pa... aku gak sengaja”


“ Jadi ini.... jadi ini hasil dari les kamu selama ini??? Percuma papa bayar guru itu mahal – mahal tapi kamu gak bisa berhasil... !!! nyesal saya”


“ Kalau kayak gini apa yang bisa saya banggain dari kamu ha???? Awas aja kalau sampai olimpiade kamu gagal ”


Key berdiri dari kursi.


“ Sebelumnya aku udah pernah bilang sama papa, aku gak tertarik dibidang Ipa kayak gini pa... aku capek” keluh Key kepada ayahnya.


Pria itu menarik kerah baju putranya.


“ Jaga mulut kamu itu, kamu gak boleh sampai kalah dari kakak mu” pria itu melepas kerah baju putranya dan melemparkan kertas soal itu ke wajah putranya. Lalu pergi dari ruangan itu. Ia menendang kursi dihadapannya dengan kesal.


Kevin Alvaro atau yang biasa dipanggil Key ini adalah sepupu Hendery. Hardi Wijaya ( ayah Key ) adalah adik dari Ayahnya Hendery (Andi Wijaya ). Sejak kecil Key selalu dipaksa untuk melakukan ini dan itu agar setara dengan Hendery dan Wisnu kakak laki – lakinya yang sekarang telah kuliah kedokteran di University of Oxford,di Inggris. Hardi ingin sekali jika Key mengikuti jejak kakaknya itu bisa mengambil beasiswa dan kuliah di luar negri juga.


Namun sayangnya minat Key bukan seperti yang di inginkan ayahnya. Sebenarnya Key tertarik dengan sastra dan ingin menjadi seorang Dosen namun ayahnya tidak setuju dengan keinginan putranya itu. Oleh karena itu, sedari kecil Key selalu mengikuti les dengan biaya yang mahal bersama dengan Hendery. Sedangkan Hendery ia memang sangat menyukai Ipa dan bercita – cita menjadi seorang Dokter.


Key punya impian sendiri, Key punya mimpi namun semua itu bertolak belakang dengan keinginan ayahnya. Sejak Key kecil ia sudah di didik dengan begitu keras oleh ayahnya. Bahkan sedari kecil ia sangat dilarang untuk bermain – main seperti anak – anak kecil pada umumnya, karena ia harus fokus belajar.


...***...


Hendery melihat Om Hardi baru keluar dari ruang belajar tersebut, tak lama kemudian Key juga ikut keluar dengan kerah baju yang berantakan.


“ Semua baik – baik aja kan?” tanya Hendery.


Namun dengan kasar Key menabrak bahunya melewatinya begitu saja. Hendery berpikir pasti telah terjadi sesuatu. Hendery dan Key memang dekat, Hendery tahu bahwa sebenarnya Key tidak punya minat untuk mengikuti olimpiade itu, namun Om Hardi terus memaksa Key untuk mengikutinya. Padahal tidak semua anak itu sama, mereka punya kelebihan dan kekurangan masing – masing.


Hendery cukup kasihan dengan nasib sepupunya itu. Bahkan sepertinya setelah lulus SMA, Key akan segera dikirim keluar negri untuk kuliah disana.


Setelah bertemu dengan Key, Hendery bertemu dengan Andhara yang sedang membaca buku diperpustakaan. Sepertinya perpustakaan adalah tempat dimana selalu ada Andhara. Karena sudah sampai, mau tidak mau Hnedery melanjutkan kegiatannya mencari buku referensi. Namun diluar dugaan Andhara sama sekali tidak menganggu Hendery kala itu. Entah Andhara memang sengaja mencuekinya atau benar – benar tidak tahu kalau ada Hendery di belakangnya yang jelas Andhara sama sekali tidak melihat kearahnya. Muncul sedikit rasa penasaran di dalam pikiran Hendery, tumben gadis ini tidak histeris ketika melihatnya, tumben gadis ini tidak menyapanya. Ada apa??


“ Ehmmm...” Hendery berdeham beberapa kali, namun Andhara tidak menyadarinya. Ternyata kalau sedang serius membaca buku,mungkin jika ada gempa bumi yang terjadi pun gadis ini pasti tidak akan sadar.

__ADS_1


Hendery duduk disebelah Andhara. Namun Andhara masih melihat bukunya. Kemudian Andhara menoleh kesamping kiri dan mendapati Hendery sedang melihatnya.


“ Loh ada Dery...”


“ Iyah gue...”


Andhara segera memundurkan kursinya dan beranjak pergi namun Hendery memanggilnya.


“ Dhara....”


“ Iyah kenapa Der?”


“ Lo baik – baik aja kan?”


Andhara hanya mengangguk lalu pergi.


“ Gitu doang?? Cuman ngangguk?” batin Hendery.


Hendery menyesal sekali menanyakan keadaannya kalau tahu reaksinya begitu. Sungguh gadis yang sulit dimengerti.


...***...


Saat pulang sekolah Andhara pulang paling akhir, sepertinya ia belajar begitu keras untuk olimpiade kali ini. Sampai – sampai ia tidak memperhatikan kondisinya, bahwa ia tidak bisa terlalu lelah. Di depan gerbang sekolah Hendery melihatnya berjalan keluar, ia melihat wajah gadis itu terlihat pucat dan lesu. Semua murid sudah pada pulang, hanya Dhara sendiri yang sedang berdiri menunggu jemputan. Hendery pun menghampirinya.


“ Mau pulang ?” tanya Hendery.


“ Iyah” jawab Dhara.


“ Mau gue anterin? ”


Saat itu raut wajah Andhara berubah menjadi sedih. Bukannya menjawab pertanyaan Hendery, Dhara malah balik bertanya.


“ Hendery kenapa masih disini? ”


“ Gue tadi dipanggil pak Bambang ke kantor teru sgak sengaja lihat lo disini ”


“ Yaudah urusan Hendery udah selesai kan? Yaudah pulang ”


Nampaknya Andhara masih sakit hati dengan perkataan Hendery pagi tadi.


“ Lo kok jadi aneh gitu sih? ”


“ Aneh gimana Hendery?


“ Ya aneh aja, gak kayak biasanya...”


“Hendery lupa yah, dengan apa yang Hendery bilang pagi tadi? Hendery gak mau di ganggu... “


“ Dhara tau kok, Hendery gak suka kan sama Dhara ”


Hendery menghela nafas, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“ Aku harus apa? ” tanya Hendery.


“ Hendery sadar gak sih... perkataan Hendery tuh nyakitin ”


Saat Hendery ingin mengatakan sesuatu, Andhara tiba – tiba saja pingsan dengan sigap Hendery menolongnya. Ia melihat darah segar mengalir keluar dari hidungnya. Untung saat itu pak Bambang melihat mereka dan langsung membawa Andhara masuk ke mobil pak Bambang.


Hendery merasa bersalah karena telah mengatakan hal itu pada Andhara pagi tadi. Tidak menyangka kalau Andhara benar – benar terluka atas perkataannya.


Hendery hanya tidak faham, bagaimana mengatakan pada Andhara bahwa ia hanya tidak ingin diganggu. Hendery hanya belum bisa beradaptasi dengan Andhara.


Hendery mengakui bahwa ia menyukai puisi yang Andhara buat untuknya, Hendery hanya tidak tahu cinta itu apa? Dan bagaimana ia harus memulainya? Bahkan ketika ia mencoba berpacaran dulu hanya karena seorang gadis yang menyatakan cinta padanya. Kalau tidak begitu ia tidak akan mau.


Hendery benar – benar tidak tahu dia harus apa...

__ADS_1


__ADS_2