
Bima Aditya adalah seorang remaja laki-laki yang bersekolah di SMA swasta ternama di kota Jakarta. Dirinya dari keluarga sederhana, ayahnya bernama Hanto hanyalah seorang penjual toko kelontong di dekat rumahnya. Ibunya yang bernama Sri sudab meninggal sejak lima tahun yang lalu karena terserang penyakit gagal jantung. Saat itu dimana Adit masih duduk di bangku sekolah smp, ayahnya memberi kabar jika ibunya pingsan karena mendengar kabar kebangkrutan perusahaan ayahnya. Meskipun sudah diusahakan yang terbaik oleh dokter spesialis jantung, namun nyawa ibunya tidak tertolong. Semenjak itulah keluarga Hanto benar-benar berubah dari awalnya bahagia menjadi penuh derita. Disamping perusahaannya yang bangkrut, Adit yang masih bersekolah membutuhkan banyak biaya akhirnya Hanto terpaksa berusaha membuka usaha toko kelontong. Adit memang terbilang anak yang penurut. Musibah yang menimpa keluarganya tidak menjadikan penyesalan baginya.
Pagi hari setelah selesai bersiap ia tak lupa membantu ayahnya menyiapkan barang dagangan. Setelah itu ia pamit untuk berangkat ke sekolah tentunya dengan sepeda kecilnya. Karena mobil dan motor yang pernah ia punya sudah dijual oleh ayahnya untuk melanjutkan kehidupan keluarganya. Meskipun ada rasa sedih tapi dia sebisa mungkin untuk terbiasa akan keadaan yang ada.
Sesampainya di sekolah ia memarkirkan sepeda kecilnya di parkiran. Terlihat deretan motor dan mobil mewah milik teman temannya. Terkadang ia iri mengapa ia harus dalam keadaan seperti ini tapi apa boleh buat takdir sudah menentukan jalan hidupnya.
“Hai culun” kata seorang laki laki alias temannya yang selalu mengejeknya karena dia tidak sekaya temannya itu.
“Minggirlah, aku tidak ingin berurusan denganmu. Lagi pula ini adalah awal semester, aku yakin tidak akan sekelas denganmu lagi” ucap Adit
“Hoho sekarang sudah berani menjawab ya dasar culun miskin lagi!” ucap laki laki itu, dengan melirik teman-temannya.
“Ya. Aku pergi” jawab Adit mencoba menahan amarahnya. Dirinya sudah sering diejek dan dihina oleh teman temannya dengan alasan ekonomi keluarganya. Serta penampilannya yang sangatvkampungan dan sangatlah tidak pantas masuk SMA elit di jakarta ini. Dia mampu masuj ke sekolah karena dia memiliki kepandaian yang menurun dari ayahnya. Namun tetap saja teman-temannya selalu mengejeknya karena di anggap sok pintar dan rajin.
Sesampainya ia di depan mading sekolah ia mencari-cari celah untuk dapat menerobos kerumunan untuk mencari namanya. Tiba-tiba seorang gadis cantik yang cukup terkenal menabraknya sampai kacamata yang Adit jatuh ke lantai.
Braaaakkkk
“Eh aduh maaf, maaf ya aku tidak sengaja” ucap gadis itu sambil mengambil buku dan kacamata Adit
“Ah iya tidak apa apa” ucap Adit sambil menerima sodoran kacamata yang diberika oleh gadis itu.
__ADS_1
“Kamu sedang mencari namamu juga?” tanya lembut gadis itu kepada Adit.
“I..i.iya” ucap Adit dengan sedikit terbata-bata karena jujur dirinya baru kali ini berbicara dengan seorang wanita yang sangat cantik dan tentunya sebelumnya dirinya belum pernah melakukan hali itu. Karena teman-teman di kelasnya selalu menjauhinya.
“Hhhmmm... sepertinya masih sangat ramai” ucap gadis itu dengan membenarkan dasinya.
“Iya” jawab Adit kembali.
“Apa kamu sudah di sekolah ini sejak dari awal?” tanya gadis itu kepada Adit kembali.
“Iya” jawab Adit dengan lugu.
‘Haishh kenapa cowok ini hanya jawab iya iya saja, memang sangat aneh. Kenapa ayah harus pindah ke sini sih dan aku harus terpaksa bersekolah di sini bertemu orang-orang yang sangat aneh. Saat di depan tadi aku sudah diliatin banyak orang sekarang malah ketemu patung setengah robot yang cuma jawab iya iya aja’ batin gadis itu.
“Ah iya” jawab gadis itu sambil bergegas menuju mading.
Mereka berdua melihat dengan seksama dan tanpa disadari dua jari telunjuk mereka saling bertemu di kertas bertuliskan kelas 12 A. Mata mereka pun saling bertatapan.
“Wah ternyata kita sekelas, oh iya namamu Adit ya?” ucao gadis itu pada Adit.
“Iya. Darimana kau tau?” tanya Adit sedikit kebingungan.
__ADS_1
“Yaampun Adit, apa kau tidak lihat itu dari name tag di bajumu” ucap gadis itu sambil menunjuk baju seragam putih yang dikenakan Adit.
“Oh iya” ucap Adit gelagapan karena dirinya baru kali ini jantung lnya berdegup kencang saat bertemu gadis yang sekarang ada dihadapannya.
“Hah ya sudah ayo masuk bersama. Kau mau mengantarkanku kan ?” tanya gadis itu menelisik mata Adit.
“Ah iya ayo” ucap Adit sambil membenarkan kacamatanya karena mendapat tatapan dari gadis itu.
Mereka pun segera menuju ruangan kelas 12 A, sepanjang perjalanan menuju kelasnya tidak ada pembicaraan apapun. Sesampainya dikelas teman-temannya pun melihat gadis itu dengan sorot mata kagum akan kecantikannya. Membuat para kaum pria di kelas itu tak berkedip sama sekali. Sementara para perempuan hanya merasa iri dan khawatir akan pacar mereka.
“Terima kasih bu, baiklah teman-teman sekalian salam kenal namaku Anastasya Safira. Kalian bisa memanggil aku dengan Ana. Oh iya aku pindahan dari sini karena ayahku ada pekerjaan yang harus diurus disini selama beberapa bulan ke depan. Aku harap bisa berteman baik dengan kalian. Terima kasih.” Ucap Ana berjalan menuju kembali ke tempat duduknya.
“Baiklah kalian sudah kenalkan sekarang kita mulai pelajaran kita yaitu matematika” ucap Bu Mirna dengan membuka buku. Murid-murid yang masih malas belajar pun harus terpaksa karena bu mirna memang dikenal guru yang sangata galak.
‘Ternyata namanya Ana, cantik seperti mukanya. Aduh kenapa aku jadi berpikiran seperti itu’ batin Adit dengan buru buru melupakan hal yang ada dipikirannya sekarang.
Tinggggg tinggggg tinggggg...bunyi bel istirahat berbunyi semua murid berhamburan keluar menuju kantin. Namun berbeda dengan Adit yang selalu setia dengan kelasnya itu. Dia rela menahan lapar karena dirinya benar-benar tidak memiliki uang apalagi untuk kebutuhan sehari-hari dan sekolahnya. Dirinya harus bisa menabung sedikit demi sedikit apalagi ini sudah kelas tiga dia harus mempersiapkan uang agar mampu mengikuti ujian akhir.
Disamping itu terlihat Ana yang sedang berbincang dengan beberapa teman barunya, dirinya merasa sangat senang karena ternyata dugaan awal mengenai sekolah ini salah. Nyatanya teman-temannya suka padanya dan mau berteman dengannya. Saat dirinya hendak mengambil uang di tas untuk membeli makanan di kantin bersama temannya dirinya tak sengaja melihat Adit yang hanya duduk lesu dan termenung memainkan pulpennya. Ana pun berinisiatif untuk mengajaknya ikut makan di kantin.
Jangan lupa like dan vote
__ADS_1
Terima Kasih