Dengarkan Aku Sebentar Saja

Dengarkan Aku Sebentar Saja
Les


__ADS_3

“Kamu kenapa tidak ikut teman yang lain ke kantin?” tanya Ana seraya berjalan mendekati Adit. Adit yang mendengar suara gadis cantik itu langsung mendongak melihat Ana.


“Aku tidak lapar” jawabnya sambil menahan perut dan jantungnya agar tidak sama-sama bernyanyi ria.


“Tapi kenapa kau lesu Dit?” tanya Ana sambil menyentuh dahi Adit. Dia memastikan agar Adit tidak saki.


“Kau tidak demam, dan..” sambung Ana, namun belum selesai ia berbicara seorang temannya Sinta sudah mengatakan sesuatu yang membuat Ana sedikit sedih.


“Dia memang suka begitu An, biarkan lebih baik kau jangan terlalu dekat dengannya. Karena dia itu memang anak yang suka menyendiri dan yaa mungkin dia berhemat agar bisa membayar ujian nanti” ucap Sinta yang melirik Adit dengan sinis tanpa memperdulikan perasaan Adit sama sekali.


“Sinta kamu jangan ngomong begitu” ucap Ana yang merasa itu tindakan yang salah atas apa yang dilakukan Sinta kepada Adit.


“Hah sudahlah” ucap Sinta dan diikuti Iren yang menarik tangan Ana. Ana pun meninggalkan Adit sendiri di kelas itu. Melihat Ana yang semakin menjauh, Adit hanya bisa diam dan pasrah.


Dirinya benar-benar sedih akan nasib yang menimpanya. Memang tidak ada yang salah dengan ucapan Sinta, tapi itu dilakukan dihadapannya secara langsung yang membuat dia sangat sedih.


Tak terasa air matanya menetes. Dia ingin sekali mendapatkan bekal seperti yang dulu ibunya lakukan padanya. Namun apa daya sekarang semua sudahlah sirna.


Kegiatan sekolah pun berlangsung, hingga tak terasa bel berbunyi tanda kegiatan sekolah telah usai. Adit buru-buru mengemas buku dan pulpennya. Saat dia ingin keluar dia dihadang oleh teman-temannya yang selalu mengejeknya di kelas satu dan dua.


“Mau kemana culun? Buru-buru amat hah?” tanya Zain kepada Adit sambil mengambil kacamata Adit dan memainkannya.


“Kembalikan, kacamata ku!” ucap Adit seraya mencoba mengambil kacamata dari tangan Zain.


“Hah lihatlah, dia sepertinya akan menangis dasar pria culun!” ucap Roni temanya Zain alias bisa dibilang anak buah Zain.


“Aku tidak mengganggu kalian, kenapa kalian selalu mengganggu ku!” ucap Adit yang sudah mulai berkaca-kaca.


“Ya ya ya kau memang tidak menggangguku tapi aku suka mengganggumu hahaha” ucap Zain dengab tertawa terbahak-bahak.


Tiba-tiba datanglah Ana yang meilhat Adit seperti diejek oleh Zain.

__ADS_1


“Hei apa yang kalian lakukan? Kembalikan kacamatanya!” ucap Ana mendekati keributan itu.


Seketika Zain menoleh dan seperti yang kalian duga Zain gengnya itu benar-benar langsung jatuh hati pada gadis cantik pindahan dari bandung tersebut.


“Oh ini aku tadi hanya sedang mengubah penampilannya” ucap Zain sambil menginjak kaki Adit. Adit yang diinjak kakinya pun hanya diam dan memakai kacamatanya kembali.


“Oh begitu apa kalian guy, sehingga ingin Adit terlihat lebih tampan?” tanya Ana sambil bergidik ngeri melihat tingkah Zain dan gengnya itu.


“Tentu saja tidak kita bukan guy, iya kan Adit?” ucap Zain sambil menekan kata ‘iyakan Adit’


“I..i..iyaa” ucap Adit melihat tatapan tajam dari Roni.


“Ya sudah kalo begitu mari pulang bersama-sama” ajak Ana


“Ah iya “ jawab Eki tanpa melirik Zain.


“Sepertinya aku masih ada urusan” ucap Zaib seraya melirik Eki. Menyadari bossnya itu menatap tajam padanya. Eki hanya menunduk kikuk.


“Baiklah ayo”, ucap Adit dengan senyum merekah.


Adit benar-benar merasa senang karena barukali ini dia diajak oleh temannya untuk pulang meskipun hanya sampai depan gerbang saja. Karena selama ini dirinya tidak pernah diajak siapapun hanya ditengok pun itu rasanya hal yang sangat tidak mungkin.


Namun disisi lain Zain melihat keakraban si culun dengan si gadis yang belum ia tau namanya itu terpancar aura kebencian kejadian tadi.


Setelah Ana, Adit dan teman-temannya menuju ke gerbang. Zain langsung membicarakan gadis itu kepada teman-temannya mengenai gadis itu. Dirinya memiliki rencana agar ia bisa mendapatkan gadis itu untuk dipacarinya. Padahal dirinya sekarang sudah mempunyai tiga orang wanita sebagai pacarnya yang tidak tau kejelasan hubungannya.


Sesampainya dirumah Adit langsung bergegas berganti pakaian dan tak lupa ia bersembahyang.


“Kau mau kemana nak?”tanya Ayah Hanto kepada Adit seraya menata bahan dagangnya yang semakin hari semakin sedikit pembelinya


“Aku ada kerja kelompoj yah, aku akan pulang tepat waktu” jawab Adit sambil memcium tangan Ayahnya. Adit pun bergegas mengayuh sepedanya menuju sebuah pos ronda yang lumayan jauh dari rumahnya. Dalam hatinya sangat ingin meminta maaf kepada ayahnya karena ia telah berbohong.

__ADS_1


‘Maafkan aku Ayah karena telah membohongi Ayah, sebenarnya aku ingin pergi ke tempat les. Aku mengajari anak-anak smp Yah.


Meskipun hasilnya tidak seberapa tapi lumayan bisa ku tabung untuk membantu ayah’ tak terasa air matanya menetes.


Sesampainya di tempat les, Adit langsung memarkirkan sepedanya dan mulai megajari anak-anak disana. Dirinya adalah orang yang sangat suka dengan anak-anak selain itu dirinya juga senang mengajari karena berbagi ilmu adalah hal yang sangat dia sukai. Seperti yang ayahnya lakukan kepada teman-teman ayahnya dulu.


“Oke adik-adik kemarin kita sudah sampai di bab mengenai PGS ya ?” tanyanya pada anak-anak disana.


“Iya kak” jawab anak-anak dengan serempak.


“Oke kita lanjut mengenai peluang, kakak yakin kalian sudah tau mengenai peluang” ucap Adit sambil membuka buku pelajaran smpnya yang masih ia simpan.


“Iya kak aku ingin tanya kak, peluang itu paling besar berapa kak?” tanya Yani salah satu anak yang Adit ajari.


“Hhmm berapa ya,??” ucap Adit seraya memegang dagunya.


“Berapa ya kak?” tanya yang lainnya. Karena dirasa anak-anak belum tau akhirnya Adit memberikan jawabannya


“Jawabannya adalah satu” ucap Adit sambil menunjukkan jari telunjuknya.


“Ha satu?” tanya Yani yang masih bingung


“Iya Yani peluang terbesar itu satu. Coba kalian bayangkan jika kalian ingin menjadi juara di kelas kalian kali pasti harus mengalahkan beberapa teman kalian. Semisal dikelas kalian ada 30 anak, jadi kalian harus mengalahkan 30 anak itu. Jadi rumusnya adalah P\= a/n dimana n adalah jumlah anak dikelas. Jadi peluangnya adalah 1/30. Bagaimana apa kalian paham?” tanya Adit.


Ada beberapa muridnya yang paham namun ada juga yang kurang paham sehingga dia harus mengulangi materi tersebut.


Setelah selesai les dirinya langsung pulang. Mengayuh sepedanya hingga menuju rumahnya. Akan tetapi di jalan dirinya melihat Ana dan teman-temannya yang sedang mengobrol santai di suatu cafe yang terbuka.


Terlihat pancaran cantiknya wajah Ana. Namun apalah daya Adit, Ana sama sekali tidak mengetahui keberadaan Adit disana. Daripada bersedih Adit pun memilih menancap kayuh sepedanya dan bergegas pulang.


Jangan lupa like dan vote

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2