
Pagi menjelang...
“Ayah aku berangkat dulu” ucap Adit kepada Ayah Hanto
“Iya. Hati-hati nak. Jangan pulang terlalu sore” kata Ayah Hanto yang kemarin melihat putranya pulang larut karena diajak jalan oleh Ana.
“Iya Ayah, assalamualaikum” pamit Adit mencium tangan ayahnya.
Ia segera mengayuh sepedanya menuju sekolah.
Sesampainya di sekolah Adit langsung masuk kelas, kebetulan sekali seminggu lagi ada acara ulang tahun sekolahnya.
Dan hari itu juga bertepatan dengan hari ulang tahun Adit. Maka wali kelas meminta setiap kelas untuk membuat suatu pertunjukkan untuk merayakan ulang tahun sekolah tersebut.
Para ketua kelas mendiskusikan apa yang akan ditampilkan di perayaan nanti.
“Apa yang akan kita tampilkan nanti, apa ada usulan dari kalian?” tanya Hendra ketua kelas 12 A.
“Bagimana kalo musikalisasi puisi? Aku pandai bermain gitar dan Intan juga pandai bermain piano” ucap Ana.
“Ide bagus, dan yang lainnya bisa menjadi illustrator dan paduan suara sebagai endingnya. Bagaimana apa kalian setuju?” tanya Hendra kepada yang lain agar memastikan mereka setuju dengan usulannya dan Ana.
“Setuju” ucap Intan
“ Aku juga” ucap Sinta.
Satu persatu teman mereka menyetujui usulan dari Ana dan Hendra.
“Lalu siapa yang akan membacakan puisinya?” tanya Sinta kepada yang lain.
“Bagaimana jika Adit saja?” usul Ana kepada
teman-temannya itu.
__ADS_1
Seketika mereka hanya bengong bagaimana dengan Ana yang bisa langsung menunjuk Adit sebagai pembaca puisi. Terkenal saja tidak, bagaimana dia bisa tampil dengan baik.
“ Adit kamu mau kan?” sambung Ana menoleh ke arah Adit.
“ A... Aku.. Aku tidak bisa” ucapnya terputus-putus karena melihat tatapan tidak suka dari teman-temannya kecuali Ana.
Mendengarkan dirinya berbicara saja teman-temannya sudah tidak mau, bagiamana ia akan membacakan puisi.
“Sudahlah nantikan kita pasti ada gladi bersih Dit jadi kau tenang saja. Iyakan teman-teman?” ucap Ana meyakinkan teman-temannya itu.
“Baiklah, kalo begitu Adit berlatihlah dengan tekun karena kami tidak mau kau mengecewakan kelas kami” ucap Hendra dengan sangat malas.
“Apa kalian yakin?” ucap Adit.
“Tentu Adit aku yakin seratus persen denganmu. Eh dua ratus persen deh” ucap Ana menyemangati Adit.
Akhirnya Adit pun menyetujui menjadi pembaca puisi dalam penampilan musikalisasi puisi nanti. Yang lain pun keluar untuk buru-buru ke kantin karena tidak mau kehabisan waktu istirahat karena rapat kelas tadi.
Adit seperti biasa hanya duduk di kursi dan membayangkan apa yang akan dia lakukan nanti saat penampilan musikalisasi puisi itu.
Sedangkan Ana yang habis dari kantin bertemu dengan Zain dan teman-temannya. Ana sebenarnya tidak suka tapi mau bagaimana dia sudah seperti orang yang ditilang oleh polisi.
“Aku mau lewat awas” ucap Ana dengan ketus.
“Kok gitu si cantik” ucap Zain mengedipkan matanya kepada Ana.
“Zain sebentar lagi akan masuk kelas, aku harus cepat” kata Ana menampik tangan Zain.
“Baiklah, tapi apa aku boleh tau apa yang kelas kalian akan tampilkan di perayaan sekolahku nanti?” tanya Zain dengan santainya.
“Rahasia” ucap Ana dengan penuh penekanan
“Kenapa harus dirahasiakan?” tanya Zain kepada Ana.
__ADS_1
“Namanya juga kejutan sudahlah aku ingin ke kelas”kata Ana dan menyusup lewat bawah tangan Zain dan berlari menuju kelasnya.
‘Untung aja selamat dari Si Gombal itu. Apa hari-harinya hanya seperti itu. Menggombal dan menggodaku saja. Hissh sungguh menyebalkan’ batin Ana.
Melihat Ana yang kabur begitu saja membuat Zain semakin tertarik dengan Ana. Sepulang sekolah Ana mengajak Adit ke sebuah taman sekolah untuk berlatih.
Sengaja Ana mengajak Adit untuk berlatih berdua karena sejujurnya Ana ingin jauh lebih dekat dengan Adit. Dirinya telah memilih beberapa puisi yang cocok untuk pertunjukkan nanti di perayaan.
“Bagaimana kau suka yang mana?” tanya Ana sambil menyodorkan beberapa kertas berisi puisi mengenai cinta.
“Kenapa aku jadi bingung ya” jawab Adit dengan tangan menggaruk kepalanya. Ana yang melihat tingkah Adit hanya tersenyum.
‘Kenapa saat melihatmu yang sangat lugu dan polos ini membuatku damai Dit. Entah perasaan apa yang aku rasakan sekarang. Sebelumnya aku belum pernah berada senyaman ini dengan seorang laki-laki kecuali kamu. Apa aku benar-benar sudah jatuh cinta denganmu?’ batin Ana
“An?Ana?” tanya Adit kepada Ana yang sedari tadi melihatnya.
“Ah iya bagaimana apa?” tanya balik Ana yang gelagapan
“Kalau yang ini saja bagaimana?”ucap Adit dengan menunjukkan selembar kertas yang berisi puisi dengan judul ‘Mencintaimu dalam Diam’.
“Sepertinya bagus, baiklah ayo mulailah berlatih!” jawab Ana menganggukkan kepala tanda ia setuju dengan pilihan puisi yang Adit pilih. Mereka pun berlatih Ana yang menjadi pengiring dia mulai memetik gitarnya. Ana sambil bernyanyi dengar suara lirihnya dan Adit yang mulai membaca puisi itu. Seketika setelah mereka berlatih, kedua mata mereka saling bertemu. Entah perasaan apa yang kedua insan tersebut rasakan sekarang. Manik mata yang saling menaut mengartikan sebuah perasaan yang tidak bisa ditebak bagi mereka.
‘Puisi ini memang sangat cocok denganku. Mencintaimu dalam diam adalah hal yang kini bisa aku lakukan.Aku tidak tau bagaimana perasaanmu padaku Ana. Sikapmu, caramu menatapku dan semuanya tentangmu selalu membuatku merasa nyaman. rasanya aku ingin dunia ini berhenti sejenak untuk memandangmu jauh lebih lama’ batin Adit.
“Dit” ucap Ana membuyarkan lamunan Adit
“Ah iya, sepertinya aku sudah bisa latihan dengan teman sekelas besok” kata Adit mengalihkan pandangannya menuju ke selembar kertas berisi puisi itu.
“Hhm baguslah semoga kelas kita dapat menampilkan yang terbaik” kata Ana.
Selesai berlatih mereka pun akhirnya pulang. Dan tak lupa adegan itu tentu disaksikan oleh Zain yang dari tadi ingin bertemu dengan Ana. Zain benar-benar geram dengan adegan itu. Zain pun memilih pergi meninggalkan mereka.
Jangan lupa like and comment
__ADS_1
Terima kasih semua💜😊✨