
Seharian ini mas Satrio hanya tidur dan tidur saja , bangun pun itu cuma makan lalu tidur lagi .
"Maaass bangun dong , sudah hampir seminggu kita menikah dan mas Satrio hanya tidur dan bangunpun hanya untuk makan saja ".
"Apa mas gak malu sama ibu , bangun sebelum subuh terus masak dan setelah selesai pergi ke sawah , kemarin pak Tarjo nawarin kerja di sawahnya tapi mas diam saja gak jawab ". Sahutku .
Lalu mas Satrio bangun mendengar ucapanku , ku pikir dia akan berkata baik namun aku salah .
"Apa kamu bilang tadi , kamu suruh aku kerja di sawah , udah panas berlumpur juga gaji ya hanya Rp.20.000 seharian , tidak sebanding dengan tenaganya tahu kamu !". Kata mas Satrio membentakku.
"Terus mas ya mau apa dan mau kerja apa mas , di kampung ya cuma kerja di sawah yabg ada kecuali mas merantau mungkin ". Sahutku masih dengan nada sopan.
"Yaa aku mau merantau saja daripada disini bikin pusing saja , kerja di sawah hanya capenya doang tidak sesuai hasilnya kamu tahu itu ".
"Di belikan rokok saja sebungkus sama kopi sudah habis , mana bisa buat beli motor kalau begitu caranya . Mending kerja di kota sudah jelas gajinya besar , lihatkan kamu sodaraku pada merantau bisa beli motor , mobil sampai bisa bangun rumah ". Kata mas Satrio .
"Jadi mas Satrio mau merantau gitu ?". Aku bertanya pada mas Satrio .
"Sudah aku bilangkan tadi , aku bilang iya . Aku mau buka usaha di rantauan ".
"Emang ya mas ada modal buat buka usaha ?". Aku masih bertanya .
"Kamu kan masih ada uang dari hasil amplop orang pada kondangan ". Kata mas Satrio.
"Tapi mas .. uang itu mau di gunain sama ibu beli pupuk juga obat - obatan tanaman ". Sahutku .
"Halahhh emangnya beli pupuk bisa ngabisin uang 7 juta gitu , beli saja yang murah paling 2 juta juga dapet ". Mendengar mas Satrio berbicara seperti itu aku merasa sedikit tidak enak jiga sampai ibu tahu .
Niatnya sisa uang ya nanti aku mau di tbung untuk Anela masuk SMP .Namun mendengar penuturan mas Satrio aku masih berpikir lagi .
"Lagian kalau sampai aku sukses , kan kamu juga bakal merasakan hasilnya juga ". Sahut mas Satrio lagi .
"Ya sudah mas nanti aku bilang sama ibu dulu ya , soalnya bagaimanapun itu juga uangnya ibu . Biaya kemarin itu kan ibu yang keluar modal semuanya ". Jawabku.
"Terserah kamu yang terpenting aku bisa buka usaha , mau darimana uangnya bukan urusanku ".
__ADS_1
Aku keluar kamar dan menuju ruang tv untuk menghibur hatiku yang entahlah.
Dulu pas awal bertemu dengan mas Satrio , dia baik banget serta perhatian juga sayang banget sama Anela.
Setiap dia berkunjung ke rumah tidak lupa dia membawa makanan serta mainan buat Anela , Namun baru juga seminggu kami menikah sikapnya mulai berubah .
Ketika aku sedang melamun terdengar suara salam dari luar , lalu aku berjalan ke arah luar untuk melihat siapa yang datang bertamu .
Aku membuka pintu depan dan terlihat ibu mertuaku yang datang .
"Ibu .. kenapa ibu tidak ngabari dulu kalau mau kesini ?". Tanyaku .
"Memangnya harus ya saya kesini ngasih kabar dulu sama kamu , lagian saya kesini mau ketemu anak saya bukan sama kamu !". Ucap sinis ibu mertuaku .
"Maksud aku kan kalau ibu mau kesini biar mas Satrio yang jemput ibu ? terus tadi ibu jalan kaki apa di anterin ?".Tanyaku .
"Halahh tidak usah baik kamu sama saya , lagian walaupun kamu sudah menikah dengan Satrio tetep saja saya tidak bisa nganggep kamu menantu saya tau kamu !".
"Jangan kamu tidak usah pasang muka sedih begitu , saya tidak akan luluh dengan itu semua ". Jawab mertuaku .
"Baik sebentar ya Bu , aku panggilin dulj mas Satrio ya ".Aku meninggalkan ibu mertuaku dan melangkah masuk ke kamarku.
Tanpa mengetuk pintu , aku masuk ke dalam kamar dan melihat mas Satrio lagi main hp.
"Maaf mas .. di luar ada ibunya mas , katanya mau ketemu sama mas Satrio ". Lalu mas Satrio keluar untuk menemui ibunya sexangkan aku ke dapur untuk bikin teh manis .
"Bu ..ada apa sih ibu kesini , aku tuh belum dapet duitnya dari Mela , Bu ".
"Ini sedang aku usahain Bu , Ibu yang sabar ya ?". Sahut mas Satrio pada ibunya .
Sambil celingak celinguk mas Satrio mulai berbicara lagi .
"Pokoknya nanti kalau aku sudah mendapatkan uangnya , aku langsung kasihin sama ibu ..ok ".Kata mas Satrio.
Dari arah dapur aku mendengar mas Satrio berbicara pada ibunya namun tidak jelas membicarakan apa .
__ADS_1
Melihat aku yang sudah berjalan mendekati ruang tamu tiba - tiba saja ibu mertuaku bangun berdiri dan langsung pamitan .
"Ya sudah Ibu pulang dulu Sat , nanti kamu langsung saja kalau udah ". Sahut Ibu mertuaku entah ngomongin apa .
"Bu.. ini sudah aku bikinin minum , Ibu minum dulu ya ". Aku berkata pada mertuaku .
"Buat kamu saja minum , kalau tidak mau kasihin saja pada Satrio suruh minum . Ogah saya minumnya ".
Entah kenapa mertuaku masih tidak suka sama aku walaupun kami sudah menikah .
Mungkin karena statusku yang seorang janda sebelum menikah dengan mas Satrio , apakah salah jika seorang janda menikah dengan bujang ? .
Tanpa banyak berbicara aku pergi ke dapur untuk membawa lagi minuman teh yang ku buat untuk mertuaku.
"Kamu mau kemana ?". Tanya mas Satrio .
"Aku mau naro minuman ini ke belakang mas ". jawabku.
"Tidak usah ..sini biar aku saja yang minum , mubazdir di buang - buang ". Sahut mas Satrio .
Aku pun kembali meletakkan gelas berisi teh yang masih hangat .
"Sekarang kamu siapin makan buat aku , aku sudah sangat lapar . Jadi istri bukannya bangunin suami buat sarapan , ini malah bangunin buat sholat ".
"Emangnya sholat bisa bikin jadi kaya , terus bisa membuat orang - orang tidak meremehkan keadaan kita ". Sungut mas Satrio.
Mendengar penuturan mas Satrio , aku hanya bersabar dan mengelus dada saja .
"Dulu kamu sangat perhatian mas dan selalu mengingatkanku jika aku belum sholat . Selalu menasihati agar jangan sampai lupa sholat tapi sekarang kamu kenapa kaya begini mas ?". Sahutku pada mas Satrio .
"Apa tadi kamu bilang , sudah berani ya kamu sama aku . Sudah syukur kamu tuh aku nikahin malah seperti itu , kamu mau di sebut janda oleh orang - orang di luaran sana . orang akan menyebut kamu sebagai janda gatel dan banyak lagi sebutan janda lainnya ". Jawab mas Satrio.
"Sudah sana kamu ke belakang , siapin saja makanan buatku . Mendengar kamu berbicara membuat perutku tambah lapar saja ".Kata mas Satrio .
Lalu tanpa banyak berkata lagi aku berjalan ke belakang untuk menyiapkan apa yang di minta mas Satrio.
__ADS_1