Desembersamamu

Desembersamamu
Bab 1: Hari Pertama


__ADS_3

Lianna PoV.


Matahari mulai menampakkan sinarnya pada dunia. Dengan gagah ia tegap menyongsong hari dan menemani milyaran manusia dan makhluk lain di pelosok alam semesta. Keberadaannya selalu dinantikan. Karenanya, semua mampu tersenyum di pagi cerah. Ah, masih diberikan kehidupan, contohnya.


Pagi ini aku menatap bangga pada setelan putih-hitam yang menggantung di pintu. Itu seragam yang akan aku kenakan esok hari. Yap! Besok adalah hari pertama aku berkuliah. Yaa.. tidak langsung kuliah sih, aku harus menjalani ospek terlebih dahulu.


Aku membayangkan bagaimana cerita esok hari. Apakah aku akan mendapatkan teman? Ataukah aku akan melihat cowok tampan di sana? Adakah kakak tingkat rese? Konyol sekali. Tapi, nyatanya lamunan itu sukses mengantarkanku pada secarik senyuman tulus saat bangun tidur.


Setelah mandi dan berganti baju, aku pergi ke dapur untuk memasak sarapan pagi. Tidak begitu menarik, hanya sepiring nasi goreng yang nasinya pun hasil dari menghangatkan kembali yang semalam. Tapi tetap enak.


Tinggal di perantauan gini, ayahku memberikan 1 unit apartemen tidak terlalu mewah tapi tetap nyaman sesuai dengan seleraku. Tidak terlalu besar dan tidak sempit juga. Tipe rumah yang cukup nyaman untuk dihuni seorang diri.


Selepas mencuci piring aku menuju ruang tv untuk menonton apa saja yang bisa ditonton. Wi-Fiku masih belum dipasang jadi hanya tontonan biasa yang terlihat. Kisah sinetron tidak masuk akal dengan editan seadanya. Tawaku sedikit keluar lantaran adegan yang terlalu dibuat-buat terpampang di layar.


Satu jam aku habiskan menonton sinetron itu. Meskipun tidak begitu suka, namun tetap saja aku menontonnya hingga selesai.


Memang ya, hidup jauh dari orang tua itu bikin gatau mau ngelakuin apa. Sekarang cuma bengong, seperti aku yang sedang ditonton televisi.


Aku tidak punya teman. Ralat, aku sulit mendapatkan teman. Mungkin karena aku susah berkomunikasi dan terbiasa sendiri membuatku sulit bergantung pada orang lain. Namun tidak semenyedihkan itu. Aku masih bisa bersosialisasi normal, hanya saja aku tidak begitu menyukai kerumunan. Makanya aku berfikir, mungkinkah di hari pertama aku mendapatkan teman?


...***...


Jam wekerku berdering nyaring. Waktu menunjukkan pukul 03.30 pertanda aku harus mulai bergegas mandi dan bersiap. Untungnya semalam aku sudah mengabsen segala sesuatu yang harus aku bawa, jadi tidak ada yang tertinggal.


Jarak apartemen ini tidak terlalu jauh dari kampusku. Mungkin sekitar 15 menit jika berjalan kaki. Dan ya.. saat matahari belum menampakkan wajahnya, aku sudah berjalan kaki menuju kampus.


Ospek hari pertama. Aku tidak ingin membawa kesan buruk pada segala hal yang pertama di hidupku. Aku benar-benar mempersiapkan diri dan tidak ingin telat. Saat hampir menuju kampus, sudah banyak terlihat manusia-manusia yang berpakaian sama denganku.


Langkah kakiku dipercepat lantaran teriakan dengan toa itu menusuk telingaku. Ini masih lama tetapi kakak tingkat itu sudah mengomentari jalan kami yang lambat. Huh!


Saat di barisan, aku hanya diam menatap ke depan. Melihat orang-orang yang berseragam sama menuju barisan. Melihat kakak tingkat yang mondar-mandir, berteriak, bersila tangan memperhatikan kami. Lucu sekali.


Tatapanku tertuju pada seseorang dengan jas almamater biru yang sedang memegang kamera. Mungkin tugasnya sebagai seksi dokumentasi. Senyumku mengembang karena ia begitu fokus dengan aktivitasnya. Ia terlihat tenang dan santai ditengah teriakkan teman-temannya.

__ADS_1


Mataku selalu menatap gerak-geriknya. Pria itu sukses membuatku merasakan getaran aneh hanya dengan menatapnya. Pria tampan seperti itu apakah masih jomblo? Tidak mungkin. Tapi boleh dicoba.


"Semuanya, taruh tas kalian di depan. Kita mau cek barang bawaan kalian ada yang terlewat atau tidak" teriak salah satu kating.


Aku dan yang lainnya pun segera menuruti perintah. Satu persatu tas kami dibuka dan dicek isinya. Untungnya, tasku aman dan aku tidak pindah barisan menuju barisan lain.


Kegiatan ospek berjalan dengan lancar meski telingaku pengang mendengar teriakkan orang. Kali ini kami diarahkan menuju ruangan untuk mendapatkan materi baru. Salah satu orang baru muncul dan duduk di sebelahku. Ia terlihat sibuk mencari barang di dalam tasnya.


"Sorry, lo bawa pulpen 2 gak? Punya gue kayanya jatuh pas mau kesini" tanyanya padaku.


"Boleh, nih pake aja biar gue ambil lagi"


"Thanks ya, gue Abel. Lo?"


"Lianna, salam kenal" jawabku sambil membalas uluran tangannya.


"Salam kenal, semoga kita bisa berteman baik ya?" Aku tersenyum membalas senyumannya. Aku pikir kita bisa berteman baik.


Selama materi berlangsung dia sesekali mendumel tidak jelas dan hanya aku balas dengan kekehan kecil. Lucu bagiku punya teman baru yang cerewet begini.


"Eh Li, lo tau gak kating yang tadi pagi teriak-teriak mulu?" Aku tau ini pasti awal mula pergibahan.


"Semua dong? Yang mana? Spesifik dikit ngasih taunya"


"Yang pake tas selempang hitam tuh, yang pake jam tangan biru dongker!" Serunya bersemangat.


"Oohh iya iya gue inget, kenapa dia? Nyebelin?"


"IYAAA!!! Anjir ya itu orang, sumpah. Gue baru pertama kali liat orang rese sedunia tuh dia doang!" Wajahnya berubah kesal, Abel lucu sekali.


"Kenapa? Lo diisengin sama dia?" Balasku sambil terkekeh pelan.


"IHH LO CENAYANG?"

__ADS_1


"Naksir lo kali, ya gak sih? Bisa jadi kan" ledekku.


"Idih, males banget gue. Mending gue jomblo daripada pacaran sama tu orang"


"Hati-hati loh omongan lo dijaga, jangan gitu. Siapa tau nih ya, someday... Who knows"


"Lo ngomongnya jangan aneh-aneh dong, merinding gue"


Dan kami pun tertawa bersama.


Selepas ospek, aku dan Abel pulang bersama. Memang hanya jalan bersama sampai gerbang, namun itu sangat berarti bagiku. Abel, teman pertamaku.


"Lo tinggal dimana?" Tanya Abel.


"Apartemen Nusa Indah"


"Enak banget dapet apart, boleh dong gue main nanti?"


"Apartemen gue akan selalu terbuka untuk lo, tenang aja hahaha. Lo dimana?"


"Asiikk. Gue di Kostan Dahlia, agak jauh sih. Ga kebagian kost deket kampus jadi gue di sana"


"Naik busway dong?"


"Iya bisa, tapi gue males naik angkutan umum jadi pake ojek online aja"


"Mau gue tungguin?"


"Yuk"


Dan kini kegiatan selanjutnya adalah aku yang menunggu Abel. Menunggu ojek onlinenya datang di halte depan kampus. Entah agak terasa aneh bagiku karena aku belum pernah melakukan ini sebelumnya.


Aku yang dahulu tidak seperti ini karena rata-rata orang tidak begitu tertarik denganku. Namun Abel lain, ia sangat baik dan menggerakkan hatiku dan dengan gampangnya membuat aku nyaman bersamanya.

__ADS_1


Abel, teman pertamaku. Kakak tingkat marah-marah di hari pertama. Pria tampan memegang kamera yang merebut senyumku. List dalam khayalanku satu persatu terwujud.


__ADS_2