
Senyuman Lianna mengembang setelah menutup layar handphone. Tak disangka akan secepat dan semulus ini kisah cintanya di masa perkuliahan. Baru saja Senin ospek hari pertama, bertemu Brian yang menarik perhatian. Sekarang, selasa sudah dekat dan bahkan berciuman. Konyol.
Entah, mungkin dipikiran orang lain akan beranggapan bahwa ini tidak masuk akal. Tapi, siapa boleh buat jika memang keduanya saling menginginkan? Hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin jika takdir sudah berkehendak.
Lianna sangat tidak menyangka.
Senyumnya selalu mengembang setelah berukar pesan sampai ia bawa tidur dan kembali bangun untuk menjalani ospek di kemudian hari.
Hari-hari berikutnya Lianna semakin bersemangat untuk mengikuti ospek. Tak jarang ia sering curi-curi pandang pada pria yang mencuri ciuman pertamanya itu. Tak jarang pula Brian memergokinya yang sedang tersenyum menatapnya. Keduanya saling melempar senyum dan berusaha untuk act like nothing happened.
Sungguh kisah cinta anak muda.
"Li, semangat banget ospeknya. Ada ya orang senyum-senyum lagi dimarahin gini?" Ucap seseorang. Itu Ian yang duduk di samping Lianna.
"Hmm.. gimana ya?" Jawab Lianna meledek. Ia kembali tersenyum sambil menatap Ian. Ian yang mendapat balasan seperti itu hanya ikut tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Setidaknya dengan melihat Lianna tersenyum, mampu menenangkan hatinya dari celotehan kakak tingkat yang sedang marah-marah.
"Istirahat nanti mau ke kantin bareng gak?" Tanya Ian.
"Bisa aja sih, tapi gue bareng Abel juga. Lo gapapa?"
"Ya gapapa, kan siapa tau bisa nambah kenalan baru"
"Oke deh, meluncur"
Semenjak bertemu Abel dan banyak mengobrol dengannya, skill berkomunikasi Lianna sedikit berkembang. Ia sedikit demi sedikit belajar bagaimana caranya membangun obrolan bersama orang lain. Meskipun baru dua hari bertemu, akan tetapi Lianna sudah banyak belajar.
Buktinya, ia mampu banyak ngobrol dengan Ian teman satu kelompoknya itu. Meskipun masih sedikit canggung dengan yang lain, setidaknya berbicara dengan Ian ia tidak terlalu pasif.
Pertemuan dengan Ian kala itu membuahkan hasil. Di hari berikutnya, Ian selalu menyapa Lianna terlebih dahulu dan duduk di sampingnya. Lianna tidak pikir panjang, siapa juga yang akan menolak berteman dengan pria baik seperti Ian?
Ian sama seperti Abel. Ia supel dan mudah berteman. Ian juga tidak canggung untuk mengajak orang lain mengobrol. Di mata Lianna, Ian sudah seperti sosok calon Presma BEM-U. Ada-ada saja. Namun memang begitulah aura yang dipancarkannya.
Meskipun terlihat ramah, ada sedikit sisi mengintimidasi dan tegas. Tidak aneh juga jika Ian ditunjuk sebagai ketua kelompok. Memang semua itu karena kepribadiannya.
...***...
Istirahat ospek sudah diumumkan, banyak mahasiswa yang langsung menyerbu kantin untuk makan siang. Tak sedikit juga yang membawa bekal dan makan di taman atau area kampus lainnya. Ada juga yang berkeliling atau sekedar mencari-cari lawan jenis yang bisa dijadikan crush. Anak muda.
Lianna datang ke kantin bersama Ian. Mereka akan berjanji untuk makan siang bersama Abel. Abel berbeda kelompok dengan Lianna.
__ADS_1
"Eh sorry gue lama ya?" Seru Abel sesampainya di meja makan.
"Gak kok, kita juga baru sampe ya kan?" Jawab Lianna. "Eh ini, kenalin temen sekelompok gue bel" lanjutnya.
"Hadian" sapanya sambil mengulurkan tangan.
"Abel" balas abel sambil menjabat tangan Ian.
"Nice to meet you"
"Nice to meet you too"
Setelah acara kenalan antara Abel dan Hadian, mereka makan siang bersama. Obrolan yang diperkirakan tidak akan canggung itu terwujud.
Abel banyak bicara, begitupun Ian yang sering menimpali. Mungkin karena kami berbeda kelompok, jadi banyak hal seru yang bisa diceritakan.
Mulai dari gibahan kakak pembimbing, beban kelompok, tingkah anak kelompok yang lucu juga diceritakan, dan hal lainnya seputar kampus.
Lianna pun sedikit heran kenapa Abel bisa secepat itu mengetahui hal-hal yang seharusnya calon mahasiswa belum tau. Tapi ia tidak heran lagi setelah Abel mengatakannya dengan sangat antusias. Ratu gosip, pikirnya.
Lianna tidak terlalu banyak bicara, ia sesekali menimpali dan lebih banyak mendengarkan. Ian yang melihat itu pun tak jarang malah curi-curi pandang padanya. Lianna? Tentu saja tidak menyadarinya. Ia terlalu sibuk mendengarkan Abel bercerita.
"Kaki lo udah sembuh Li?" Tanya Abel.
"Pulang sama siapa lo waktu itu?"
"Ada deh.. hahaha"
"Males gue mainnya rahasia-rahasiaan"
"Engga engga sumpah, gue waktu itu naik ojek online dianter kating sampe gerbang"
Lianna berbohong. Ia masih takut menceritakan kejadian kemarin pada Abel.
...***...
Setelah kejadian makan siang bersama, hari-hari terus berlanjut hingga di ospek terakhir. Lianna yang duduk bersama Hadian di bangku kelas, mendengarkan dengan baik setiap ucapan yang kakak pembimbing lontarkan.
Karena kelompok 9 adalah kelompok paling kompak, eitss siapa dulu ketuanya? Hahaha...
Dan mereka sangat dekat dengan kakak pembimbing, maka diputuskan bahwa setelah acara ospek mereka akan mengadakan malam keakraban untuk melanjutkan tali pertemanan.
__ADS_1
Lianna banyak berkembang dengan duduknya yang disamping Hadian. Ia jadi banyak dikenal oleh teman lainnya karena itu. Tak jarang juga ia diledeki pasangan serasi. Ada-ada saja.
"Kak, makrabnya gimana kalau di tepi bukit?" Usul salah satu dari mereka.
"Boleh juga tuh, gimana yang lain? Kakak sih ngikut aja kemauan kalian" jawab Meina.
"Setuju sih, ada restoran enak daerah sana tuh"
"Boleh juga kalo budgetnya gak melambung tinggi hahahaha"
"Oke kalau sepakat di tepi bukit dan ada saran tempat yang oke dengan budget sesuai, langsung aja ya pak ketu recanain acaranya" titah Wira.
"Oke kak, siap nanti saya share jelasnya di grup kelompok"
"Oke, dirasa cukup ya diskusi untuk makrab kita. Setelah ospek ini berakhir, semoga hubungan kita akan terus berlanjut dan jangan canggung buat nyapa duluan, oke?" Lanjut Wira.
"Nah sekarang kalian bisa baris lagi ke lapangan buat upacara penutupan ospek ya" ucap Meina.
Setelah instruksi itu, semuanya bersiap menuju lapangan. Akhirnya, segala rangakaian ospek dari universitas dan jurusan telah selesai dilewati. Lianna sangat bangga pada dirinya.
Selamat menjadi mahasiswa, cie bajunya udah bukan kaya oreo lagi
Liana tersenyum membaca pesan dari kakak tingkat yang akhir-akhir ini dekat dengannya. Kak Brian. Ia mencuri-curi waktu dan kondisi untuk saling bertukar pesan selama kegiatan ospek. Jangan ditiru ya..
Setelah membalas pesannya itu, Lianna buru-buru dan berlari menuju barisan. Saat berada di lorong menuju lapangan ia melihat Kak Meina tengah mengobrol dengan perempuan lain yang Lianna tebak itu adalah temannya.
"Pulang sama pacar lo hari ini?"
"Hahaha iya nih, udah lama gue ga berduaan sama dia. Gara-gara ospek mampus ini gue kurang belaian ayang" jawab Meina bercanda.
"Najis bucin banget lo"
"Brian!!!"
Lianna mematung, ia mendadak berhenti. Ia mendengar semua percakapan tadi. Lalu melihat adegan Brian datang menghampiri kedua perempuan tadi. Brian langsung merangkul dan mencium kening Meina.
Semuanya mendadak tidak bersuara setelah Lianna melihat adegan tadi. Adegan dimana sepasang kekasih pada umumnya. Hubungan yang diakui dan semua orang tau. Kak Brian berpacaran dengan Kak Meina.
Maksudnya apa? Dunia sedang bercanda? Kakak tingkat yang akhir-akhir ini dekat dengannya adalah kekasih orang lain? Kakak tingkat yang tempo hari mencuri ciuman pertamanya adalah pacar dari kakak pembimbingnya?
Lianna kembali melanjutkan langkah kakinya dengan kosong. Ia berusaha mencerna semua fakta yang baru ia dapatkan dengan mata kepalanya sendiri.
__ADS_1
Lalu, kejadian kemarin itu maksudnya apa? Pantas saja Kak Meina dan Kak Brian memanggil dengan aku-kamu saat di UKS.
Brengsek.