Desembersamamu

Desembersamamu
Bab 5: Pertemuan Tidak Terduga


__ADS_3

Lianna PoV.


Kejadian kecupan singkat dan pelukan hangat Kak Brian dengan Kak Meina terus berputar di otakku. Aku menjadi susah tidur karena itu. Pikiranku berkecamuk atas kebodohan diriku saat kemarin. Aku juga tidak lagi membalas pesan-pesan Kak Brian yang tiap harinya mengabariku.


Dasar pembohong. Hatiku remuk melihat adegan itu setelah ciuman pertamaku dicuri. Apakah aku harus menyesalinya? Kisah yang aku kira akan berjalan dengan mulus, hancur berantakan begitu saja.


Malam-malam aku habiskan dengan merenung dan menangis. Belum juga memulai perkuliahan, sudah ada saja yang membuatku lesu. Bagaimana caranya aku menampakkan diri di depan Kak Meina? Bagaimana caranya aku bersikap di depan Kak Meina? Bagaimana caranya?


Aku sudah seperti kehilangan wajah untuk bertemu dengannya. Aku, berciuman dengan kekasih pembimbingku sendiri.


Coba saja dari awal aku mengetahui fakta ini. Mungkin aku bisa sedikit lebih bisa mengontrol perasaanku. Lalu bagaimana dengan ini? Aku sudah terlanjur jatuh dan remuk.


Kak Brian menelfonku untuk yang kesekian kalinya. Mau apalagi? Aku tidak akan mengangkatnya dan mungkin dengan cara itu aku akan melupakannya.


Namun, apakah aku bisa?


Pagi yang kosong lagi-lagi terjadi padaku. Ternyata remuknya jatuh cinta rasanya seperti ini ya. Aku yang selalu mempersiapkan diri dengan segala sesuatu di hari pertama, kini entah keman perginya.


Tidak ada senyuman, tidak sarapan, dan hanya menampakkan wajah lesu. Seperti orang-orangan sawah tanpa berpikir, kepala dan hati kosong.


Berjalan gontai menuju kampus untuk pertemuan pertama kuliah. Harusnya aku senang karna ini hari pertamaku. Tapi ternyata semuanya dipatahkan karena nafsuku sendiri.


Aku datang menemui Ian di lobby fakultas. Ternyata kami satu kelas dan berencana akan masuk kelas bersama. Setidaknya masih ada Ian yang menemaniku agar tidak merasa sendirian.


"Lemes banget lo, belum sarapan?"


"Gak nafsu gue"


"Gue bawa coklat nih, senyum dulu dong" hibur Ian. Wajahnya cerah dan pakaiannya rapih. Secarik senyuman aku pancarkan karena wajah semangat Ian. Aku menerima wafer coklat darinya dan memakannya sambil berjalan menuju kelas.


"Istirahat sama Abel?"


"Belum juga kuliah yan, udah bahas istirahat aja"


"Hahahaha engga, soalnya kalo gak sama Abel gue mau ajak lo ke kantin FEB. Di sana ada nasi goreng gila yang enak banget"


"Siang-siang makan nasi goreng?"

__ADS_1


"Lo harus cobain pokoknya"


Karena tergiur dengan tawaran Ian dan aku yang belum membuat janji dengan abel, akhirnya aku menyetujuinya. Makan nasi goreng di siang hari, sedikit konyol menurutku. Aku belum pernah soalnya.


Kebanyakan orang makan nasi goreng kalau tidak pagi ya.. malam hari. Benar kan? Atau ada di sini yang makan nasi goreng di siang hari? Namun Ian benar. Nasi goreng gila di kantin FEB memang enak! Seumur hidupku, baru kali ini makan nasi goreng enak, hanya di nasi goreng gila. Seleranya Ian emang gak perlu diraguin lagi.


"How does it feel?"


"Amazing!! You have good taste". Ian tersenyum menanggapi. "Next time kita bisa ajak Abel kali ya buat makan di sini" lanjut ku.


Mataku tak sengaja menangkap sosok pria yang akhir-akhir ini aku abaikan. Aku membeku seketika. Jujur, aku tidak tau bagaimana caranya berekspresi saat ini.


Ia yang tersenyum sambil bergurau dengan teman sebayanya. Duduk santai di kursi kantin. Hidupnya seperti tidak ada kesedihan sama sekali yang terpancar di wajahnya.


Lain halnya denganku yang porak-poranda. Ditambah hari ini melihatnya sangat baik-baik saja membuatku semakin remuk. Aku memejamkan mata sejenak. Menghirup udara lebih banyak daripada biasanya. Menghembuskannya perlahan. Sepertinya udara di sini mendadak tipis karena aku yang mulai kesulitan bernafas.


Saat Ian masih asik dengan makanannya dan mataku yang masih menatap nanar pria itu. Tanpa sengaja ia melihat ke arahku. Wajahnya kaget. Dia mendadak membeku sama sepertiku.


Tiba-tiba saja rasanya aku seperti ingin menangis. Nafasku sesak dan mulai tidak beraturan. Ian yang menyadari kondisiku mendadak panik. Makannya tidak ia lanjutkan.


Terbaring dengan tatapan kosong. Sendirian. Ian ada di luar setelah aku meminta untuk diberikan waktu sendiri.


Ternyata aku tidak siap melihatmu kak. Bagaimana caranya aku bertahan? Hati kecilku masih menginginkanmu. Namun kejadian tempo hari terus berputar di otakku.


Kalau boleh menawar, aku saja yang bersamamu apakah boleh? Apakah mungkin jika aku bisa terus bersamamu, kak? Apakah lancang jika aku ingin lebih dari sekedar mendapatkan ciuman pertama itu?


Aku membuka tirai, melihat Ian yang masih menungguku dengan wajah cemas. Aku tersenyum padanya yang berjalan menghampiriku.


"Lo udah mendingan Li?" Aku hanya membalasnya dengan anggukan kecil.


"Perlu gue bantu jalan?"


"Gue bisa jalan kok, thanks ya yan udah mau nemenin gue"


"Harus dong, kan gue yang ajak lo ke sini. Berarti gue juga harus bertanggungjawab kalo lo ada apa-apa" jelasnya. Memang tidak salah ketua kelompok 9 adalah Ian. Memang ia sangat bertanggungjawab atas sesuatu.


"Yuk, gue anter lo pulang aja ya?"

__ADS_1


Di sinilah aku sekarang. Duduk termangu dan hanya menatap kosong layar TV yang mati. Ponselku berdering pertanda telfon masuk. Saat aku lihat siapa yang memanggil, membuatku tidak nafsu untuk mengangkatnya.


Entah bagaimana aku harus menampakkan muka di acara makrab nanti. Bertemu dengan Kak Meina baik hati yang aku hianati secara tidak sengaja. Apakah akan terjadi seperti tadi lagi?


Ponselku berdering kembali. Pertanda telfon masuk. Kali ini bukan dari Kak Brian, melainkan dari Ian.


"Halo" sapanya dari sana.


"Halo yan, ada apa?"


"Lo beneran udah mendingan kan?"


"Lo khawatir banget kayanya, gue gapapa yan. Nih sekarang kan udah bisa ngomong"


"Ya abisnya siapa yang ga kaget lo tadi sesek nafas tiba-tiba gitu. Lo alergi udang ya?"


"Hah? Emang ada udangnya?"


"Anjir kan bener dugaan gue. Iya ada undangnya! Yaudah, lain kali kalo makan di sana gue pesenin yang tanpa udang"


Aku hanya terkekeh pelan mendengarnya, Ian ternyata sangat posesif. "Siap Pak Ian! Terima kasih banyak loh.."


"Hahaha iya. Sebagai permintaan maaf gue gimana kalo kita berangkat bareng ke acara makrab?"


"Lo gak harus bertanggungjawab segitunya Ian, lagipula kan kita sama-sama gatau. Gue gatau kalau itu ada udangnya dan lo gatau kalau gue alergi udang" jelas ku.


"Jadi gamau bareng gue?"


"Oke.. gue bareng lo"


"Oke gue jemput lo jam 7 besok, see you at campus!"


Telfon terputus. Aku tersenyum miris. Siapa yang alergi udang? Perlahan aku tertawa kecil dan memejamkan mata. Siapa yang alergi udang?


Sepertinya aku mendapatkan satu keahlian baru.


Berbohong.

__ADS_1


__ADS_2