
Author pov.
Memasuki hari kedua Lianna ospek di kampus tercintanya itu, kesiapannya menjalani hari tidak kalah dengan hari pertamanya. Ia juga sudah bertukar kontak dengan Abel sesaat sebelum Abel dijemput ojek online.
Kegiatan hari ini akan dibagi kelompok sesuai dengan pembagian yang kemarin. Setiap kelompok akan mendapatkan 2 kakak pembimbing. Lianna mendapatkan urutan kelompok ke-9, dengan pembimbingnya bernama Meina dan Wira. Dua kakak tingkat yang cantik dan tampan.
Saat kelompok 9 masuk ke dalam ruangan untuk sedikit cuap-cuap, masuklah sosok pria yang kemarin Lianna tatap tanpa henti. Ia tersenyum kepada seluruh mahasiswa baru dan mulai memotret kegiatan.
Sesekali ia bergurau dengan Wira yang terlihat sangat akrab. Sepertinya mereka bersahabat, pikir Lianna. Senyumnya terus mengembang melihat gerak-gerik pria itu.
"Kak, kakak yang memang kamera kok gak kenalan sih?" Celetuk salah satu mahasiswa.
"Oh iya, bener juga dari tadi dia di sini tapi gak kenalan. Kenalan dulu dong kak" seru Wira.
"Oke, halo semua!" Sapaannya membawa ricuh ruangan. "Panggil aja gue Brian, oke?"
"OKE KAK BRIAN".
Brian. Lianna tersenyum dalam hati. Nama yang sangat cocok dengan wajahnya yang tampan.
Kali ini regunya disuruh untuk membuat yel-yel. Lianna yang tidak pandai membuat lirik pun hanya menjadi bagian kecil dari kelompoknya. Setidaknya ia tidak menjadi beban kelompok yang memberatkan tugas anggota lain.
Setelah yel-yel rampung disusun, mereka mulai latihan kekompakan. Mereka juga menambahkan gerakan-gerakan untuk menambah kesan lucu yang mengikuti lirik.
"Nama lo siapa?" Tanya seseorang.
"Lianna, lo?"
"Gue Hadian"
"Salam kenal" balas Lianna dengan senyuman sembari menjabat tangannya.
"Lo gak banyak omong ya?" Katanya membuka obrolan.
Lianna terkekeh pelan, baru kali ini ada orang yang berkata seperti itu. "Kenapa? Aneh ya?"
"Ya gak sih, cuma biasanya cewek cantik kaya lo gini suka pengen jadi pusat perhatian jadi banyak menonjolkan diri. Tapi dari tadi gue perhatiin lo cuma ngomong kalau perlu doang" jelasnya.
Lianna hanya mengangguk dan tersenyum, ia balas menatap tatapan Hadian. "Gue kurang suka kerumunan" balasnya singkat.
Hadian tersenyum dan mengangguk, "nice answer" Lianna hanya terkekeh pelan menanggapi ucapan Hadian.
Hadian pikir Lianna adalah perempuan pertama yang tidak neko-neko. Bertemu dengan banyak perempuan cantik, baru kali ini perempuan cantik seperti Lianna ia temukan.
Tidak banyak bicara omong kosong, tidak caper, tapi tetap elegan. Sungguh menarik perhatian.
__ADS_1
"Kedepannya panggil gue Ian aja" ucap Hadian tiba-tiba dan dibalas anggukkan oleh Lianna.
...***...
Lianna sudah baris di kelompoknya. Setelah ditugaskan membuat yel-yel dalam waktu singkat, kini tiap kelompok akan menampilkan yel-yelnya di hadapan kelompok lain. Satu persatu kelompok sudah menampilkan yel-yelnya. Kini giliran kelompok 9, kelompoknya Lianna yang akan menampilkan yel-yel.
Saat ingin bangun dari duduknya, kaki Lianna terpeleset dan sedikit terkilir. Untung saja ia langsung ditangkap oleh seseorang yang baris di belakangnya. Hadian.
"Eh lo gapapa?" Tanyanya panik.
"Kaki gue sakit banget yan, susah jalan" jawab Lianna.
"Sini gue bantu"
Baru saja berapa langkah Ian membantu Lianna jalan, kakak tingkat cantik bernama Meina datang menghampiri mereka.
"Ini kenapa?" Tanyanya panik.
"Kakinya kekilir kak, ini gue bantu dia jalan"
"Duh, kamu ke UKS aja ya. Sini kakak bantu, udah kamu ikut baris aja ke depan biar ini kakak yang urus" titah Meina.
Dan sekarang Lianna sedang dipapah oleh Kak Meina. "Thanks ya kak, jadi ngerepotin"
Sesampainya di UKS, Meina menelpon seseorang. Ia menelepon seseorang yang bisa menangani cidera kaki seperti ini. Tak lama setelah telepon ditutup, datang seorang pria dengan almamater biru dan kamera di lehernya.
Lianna kaget, pria itu ternyata punya keahlian lain selain membuatnya tersenyum. Dia Kak Brian, sosok yang sudah mencuri senyumannya sedari kemarin.
"Bantuin anak aku ya Bri, kakinya kekilir"
"Iya, udah sana kamu balik ke barisan nanti dicariin yang lain"
Tunggu... Aku-Kamu? Pikir Lianna. Ini aneh. Pikirannya melayang, ada hubungan apakah mereka berdua sampai kosakata memanggilnya pakai aku dan kamu?
"Kaki mana yang kekilir?" Tanya Brian. Karena tidak ada respon dari Lianna, Brian menepuk pelan pundak Lianna.
"Hah? Kenapa kak? Sorry.. sorry.." jawab Lianna kaget. Brian hanya terkekeh pelan. Sial, jantung Lianna sudah mau copot melihat pria itu tertawa di depannya.
"Kok ngelamun sih? Emang ngelamunin apaan?"
"Hah? Engga kok kak.. maaf ya maaf.. tadi ngomong apa kak?"
"Kaki mana yang kekilir? Tadi gue nanya itu" ulangnya.
"Kaki kanan kak, yang ini" tunjuk Lianna.
__ADS_1
Brian pun mulai mengurut pelan kaki Lianna. Lianna hanya memejamkan matanya menahan rasa sakit. Sesekali ia meremas sprai kasur melampiaskan rasa sakitnya.
"Sshh a-aahh kak, pelan-pelan"
"Eh.. sorry sorry, gue terlalu keras ya?" Panik Brian. Lianna hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Brian.
Brian terkekeh pelan melihat ekspresi wajah lucu Lianna. Ia pun memelankan tekanan pijitannya di kaki Lianna.
"By the way, gue belum tau nama lo" ucap Brian.
"Lianna kak"
"Oke Anna" balas Brian.
"Anna?" Tanyanya aneh.
"Panggilan dari gue" jawab Brian. Lianna hanya tersenyum menimpali sambil mengangguk.
"Kenapa? Aneh?" Buru-buru ia menggeleng cepat.
"Hah? Engga kok kak, gak aneh hehe bagus panggilannya" jawab Lianna. Keduanya tersenyum sambil menatap mata. Ada desiran aneh yang mengalir di tubuh Lianna. Seperti ada kupu-kupu terbang di dalam perutnya. Senyumnya tak berhenti dan tak pernah luntur melihat Brian yang melanjutkan aktivitasnya.
"Acara udah mau selesai, lo gue anter pulang aja ya?" Tawar Brian.
"Gak ngerepotin kak?"
"Santai aja, yuk. Mau gue gendong apa gue titah jalannya?" Tawar Brian lagi.
"Wah, modus ya lo kak?" Kekeh Lianna.
"Hmm... Bisa jadi?"
"Gendong deh, gimana?" Tantang Lianna bercanda.
Tanpa menunggu lama dan berpikir panjang, Brian langsung menggendong Lianna ala bridal style. Lianna kaget karena tawaran Brian tidak bercanda. Ia langsung mengalungkan tangannya di leher Brian.
"Kak.. gue kira lo bercanda" ucap Lianna pelan yang masih syok.
"Ssstt..." Hanya itu yang ia dapatkan dari mulut Brian. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, sesekali Lianna menghirup aroma tubuh Brian. Wangi.
Lianna tersenyum dalam diam, ia tak berani menatap ke atas untuk melihat wajah Brian. Ia tidak kuat jika harus salah tingkah karena menatapnya. Brian sangat tampan. Entah apa yang ada dipikirannya dan dipikirkan oleh Brian sehingga adegan ini harus terjadi secepat itu.
Jantung Lianna berdebar hebat, ia mendengar jantung Brian tidak kalah hebatnya sekarang. Apakah Brian juga memiliki rasa yang sama pada Lianna?
Mengapa bisa seberani itu Brian menawarkan diri untuk menggendong adik tingkat yang baru dikenalnya?
__ADS_1