
Author PoV.
Coba sekarang lihat siapa yang bodoh di dunia ini? Tapi tunggu, apakah ini benar-benar bodoh? Lianna tidak tau. Menurutnya, ia hanya mengikuti apa kata hatinya. Bodoh tidaknya Lianna adalah bagaimana seseorang melihatnya dari suatu sudut pandang.
"Lian!" seru seseorang. Perempuan berambut sebahu itu tersenyum cerah. Ia datang menghampiri dan memamerkan dua botol minuman dingin yang ada di tangannya.
"Heboh banget? Kenapa nih?" tanya Lianna.
"Gue ada gosip baru!!" Serunya masih bersemangat. Dan memberikan satu botol minumannya kepada Lianna.
"Lagi?" Abel hanya membalas anggukan semangat dari lawan bicaranya.
Sebenernya Lianna tidak merasa risih sama sekali berteman dengan Abel yang penuh dengan gosip. Hitung-hitung jadi tidak ketinggalan update tentang cerita di kampusnya. Lianna pernah bertanya pada Abel, dalam waktu satu minggu kuliah sudah berapa banyak temannya? Dan Lianna hanya menelan kikuk air liurnya lantaran sebanyak itu koneksi yang dimiliki Abel. Sangat berbeda dengan dirinya.
Mereka sudah duduk di taman kampus. Tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi. Suasana yang cukup cocok untuk bergosip.
"Jadi apa yang mau lo gibahin?" tanya Lianna sedikit antusias.
"Ini tentang kakak tingkat lagi Li, kakak pembimbing lo" jantung Lianna sudah dibuat ketar-ketir saat Abel menyebutkan kakak pembimbingnya. Kak Meina? Ataukah Kak Wira? Yang mana?
"Kak Meina atau Kak Wira nih?"
"Yang cewek, Meina ya namanya? Oke Kak Meina berarti" mampus... Lianna semakin dibuat deg degan tapi harus pasang wajah yang paling biasa aja supaya Abel tidak curiga. Ia menebak-nebak apa yang akan dibicarakan oleh temannya ini.
"Jadi, ternyata Kak Meina ini punya pacar Li"
"Gue udah tau yang itu" ucap Lianna dalam hati.
"Lo tau gak pacarnya yang mana?" tanyanya. Lianna hanya menggelengkan kepala cepat tanda tidak tau dan bersikap seolah-olah penasaran.
"Lo tau kating yang megang kamera gak sih.. yang.." lanjutnya.
"Yang pakai jam warna item di tangan kirinya?" tanya Lianna.
"IYA IYA YANG ITU" serunya bersemangat.
"Sstt.. pelan-pelan anjir Bel" Lianna mulai panik karena beberapa pasang mata mulai melirik ke arah mereka.
"Hehe... oke gue lanjutin. Gue awalnya pas tau mereka pacaran tuh ya, kaya yang anjir masa iya? Gak keliatan kaya pacaran sama sekali" Lianna begitu fokus mendengarkan. Ia sangat penasaran meskipun ia sudah tau fakta bahwa kakak pembimbingnya berpacaran dengan Kak Brian. Namun Lianna berasumsi bukan itu yang ingin disampaikan oleh temannya.
"Dan lo tau kenapa?" sialan si Abel, bikin penasaran aja.
__ADS_1
"Kenapa? Jangan bikin gue penasaran dong"
"Nah itu, justru itu. Justru itu cerita ini jadi gosip" lanjut Abel.
"Maksud lo?"
"Ya.. Lo pikir aja. Kakak pembimbing lo cantik, pacarnya juga ganteng. Gak pernah keliatan mesra tuh mereka berdua? Kaya bukan orang pacaran. Gue denger-denger sih dari awal mereka pacaran emang gak keliatan kaya pacaran. Tapi aneh gak sih?"
Lianna ikut berfikir. Benar juga. Kenapa tidak seperti sepasang kekasih pada umumnya? Ia membuka tutup botol minuman pemberian Abel kemudian meneguk pelan isinya. Tatapannya menerawang. Apakah ini ada sangkut pautnya dengan yang disampaikan Kak Brian tempo hari? pikirnya.
“Can we back? Can we go back to how we used to be? I need your existence”
“Please lupain kalo Meina pernah ada. You’re something for me. I know it’s *******, gue brengsek, iya. But can we stay together? Meskipun kita baru ketemu sebentar I feel... I feel something different when I’m with you”
"Please.."
“Ann… ada hal yang gak lo tau kenapa sampe gue segininya sama lo. Please Ann… can we back?”
Kalimat-kalimat yang dilontarkan Kak Brian memenuhi isi pikirannya. Apakah keputusannya selama ini sudah benar? Apakah benar begitu?
Tatapannya masih menerawang. Ia ikut berfikir keras.
"Li.."
"Lianna"
Lianna terperanjat kaget dengan tepukan Abel. "Yee.. malah ngelamun lo. Tenang aja, selagi ada ratu gosip di sini lo gak usah ikut mikir keras gitu deh. Nanti gue cari tau" ucap Abel dengan kepercayaan dirinya. Lianna hanya tersenyum sambil mengangguk menanggapi.
Di perjalanan pulang Lianna masih memikirkan yang dibicarakan Abel. Kak Brian tidak pernah mengatakan apapun padanya. Pikirannya berkecamuk, menerawang ada apakah diantara mereka?
Berpacaran secara terpaksa? Perjodohan? Gimmick? Huh! Bikin pusing saja.
Lianna mampir sejenak di minimarket. Ia harus mengisi jajanan yang ada di kulkasnya. mengambil beberapa snack ringan, ramen, dan minuman ke keranjang belanja kemudian berjalan menuju kasir.
"Lian ya?" tanya seseorang.
Lianna yang sedikit kaget mendadak kikuk harus berhadapan dengan perempuan cantik yang menyapanya. "Eh iya kak, halo!" sapanya canggung. Sangat canggung.
"Apa kabar? Waktu makrab kemarin dateng?" dalam hati Lianna hanya tersenyum miris. Sedih sekali, bahkan eksistensinya saat itu hanya sebagian kecil saja yang merasakannya. Bagi orang-orang yang menjadi pusat atom mana bisa melihat elektron terluarnya.
"Baik kak, kakak gimana? Gue dateng kok kemarin sama Hadian"
__ADS_1
"Gue baik, oh ya? Kok gak keliatan?"
"Udah biasa" dengusnya dalam hati.
"Hehe.. oh ya, mama kakak gimana keadaannya?" basa-basi.
"Mama udah mendingan sekarang, thanks ya udah khawatir"
Canggung sekali.
"Semoga sehat selalu ya mamanya Kak Meina, kalo gitu gue duluan ya kak"
"Amin, makasih sekali lagi. Hati-hati ya"
Lianna menghembuskan nafas lega. Akhirnya keluar juga dari kecanggungan itu. Jantungnya sedikit berdetak lebih kencang dari biasanya.
Setelah sekian lama dari kejadian tempo hari, di hari ini ia bertemu lagi dan berbicara langsung! Tepuk tangan dulu untuk Lianna atas keberaniannya.
Langkah kakinya dilanjutkan menuju apartemen. Ia sudah tidak sabar untuk merebahkan badannya pada sofa. Mata kuliah hari ini bikin ia sakit punggung. Bagaimana tidak? Dosen yang mengajar paling anti mahasiswa yang menopang dagu saat ia sedang mengajar. Ya.. mau tidak mau Lianna harus tetap terjaga dengan keadaan duduk yang tegak.
Key card apartemen itu dikeluarkan dari dompetnya. Meskipun bisa memasukkan sandi namun ia lebih menyukai benda persegi panjang itu untuk membuka pintu.
Saat masuk ke dalam ruangan, tercium aroma lain dari dalam. Aroma ini adalah aroma yang akhir-akhir ini menjadi favoritnya. Tak sadar secarik senyuman manis terukir indah di bibir Sang Puan.
Ia berjalan pelan menuju dapur, mengikuti arah suara yang sedang asik membuat sesuatu. Jalannya mengendap-endap bermaksud untuk mengagetkan.
"Aku tau kamu di sana Ann" tawa Lianna pecah, wajahnya yang tadinya lesu menjadi bersemangat kembali.
"Kok gak bilang mau kesini?"
"Harus bilang ya?"
"Ya.. engga juga sih.. tapi.." lelaki itu datang mendekat. Direngkuhnya pinggang perempuan yang ada di hadapannya. Ditatap lekat mata cantiknya sembari mengusap pelan pelipisnya.
"Aku kangen" senyuman indah terukir di bibir keduanya. Dihadiahi kecupan singkat untuk melepas rindu. Pandangannya saling beradu. Menatap saling sayang.
"Lagi bikin apa?" tanya Lianna penasaran.
"Kopi"
"Aku abis ke minimarket beli snack, malem ini mau makan ramen gak?"
__ADS_1
Semoga keputusannya tidak salah. Semoga pilihannya kali ini tidak lagi membuatnya sakit dan dapat membuatnya bahagia. Meski ia tau bisa saja duri itu menusuk dan menerobos siapa saja diantara mereka. Tapi kali ini Lianna ingin egois.
Ia begitu menginginkannya. Sama, Kak Brian juga sangat menginginkan Lianna.