
Ian yang berjanji akan menjemput ku pukul 7, datang tepat waktu. Ia sudah menunggu di lobby apartemen saat aku tiba lebih 2 menit dari jam 7. Ternyata pesona lain dari sosok Ian adalah tepat waktu.
Ian yang semula sudah memberitahu ku bahwa ia akan mengendarai motor membuatku tidak sulit menentukan outfit. Celana panjang dengan kaos ditambah jaket rajut crop. Rambut digerai dan make up tipis. Sempurna.
Sesampainya di restoran tepi bukit, sudah ada beberapa yang sampai. Karena acara ini mengenakan dress code, memudahkan kami untuk mencari kerumunan. Kehadiran Ian yang ditunggu anggota lainnya menjadikan obrolan lebih hangat. Lagi-lagi entah bagaimana aku merasa menjadi bagian kecil. Manusia yang tak terlihat dan akan terlirik jika Ian ada di sampingku.
Beberapa dari mereka mulai menyapaku dan bertanya hal-hal dasar seperti: bagaimana setelah kuliah? Apakah menyenangkan? Mata kuliah ini bagaimana pendapatmu? Dan masih banyak lagi. Aku yang tidak begitu suka kerumunan ini mendadak mampu berbaur lebih baik dari biasanya. Jelas, aku berusaha menutupi kegugupan jika bertemu dengan Kak Meina.
Acara makrab ini ternyata tidak hanya makan bersama saja, aku tidak pernah tau jika mereka sudah menyiapkan semacam permainan dan pertunjukkan. Selama acara ini aku tidak mampu menatap Kak Meina. Aku lebih banyak diam dan berbicara jika ada yang mengajak ngobrol. Ian? Tentu saja ia akan menjadi bagian penting dalam acara ini. Pekerjaannya tidak melulu ada di sampingku. Memangnya aku siapa?
Saat sedang asik menuju akhir acara, Kak Meina menjeda acara menyanyinya dengan mengangkat telfon. Wajahnya mendadak panik dan..
“Kenapa Na?” tanya Kak Wira.
“Nyokap gue Wir.. masuk rumah sakit” jawabnya lirih. Semua yang mendengar mendadak panik. Dan diantara paniknya semua orang..
“Yaudah ayo kak gue anter ke rumah sakit sekarang juga” itu Ian yang menjawab. Ia melupakanku? Bukannya ia datang bersamaku? Mereka benar-benar pergi dari restoran. Acara tidak dilanjutkan. Lagi-lagi aku hanya menjadi bagian kecil.
“Sedih banget jadi lo ya Lian?” Ucapku pada diri sendiri.
Saat waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, acara benar-benar ditutup. Tentu saja karena restoran akan segera tutup juga. Semuanya pulang, begitupun dengan Kak Wira yang bertindak sebagai seseorang yang lebih tua. Aku? Tentu saja sendirian.
Ian benar-benar tidak mengabariku sama sekali. Tidak ada notif masuk dari dia atau siapapun. Benar-benar merasa sendiri lagi.
Saat ingin memesan ojek online untuk pulang, tiba-tiba saja motor scoopy putih menghampiriku yang sedang berdiri di parkiran. Pengendaranya membuka helm dan aku hanya menatap kaget kehadirannya. Itu Kak Brian.
“Ayo, gue anterin pulang” katanya. Entah sihir apa yang merasuki ku, aku menerima helm pemberiannya dan duduk di jok belakang.
Selama perjalanan aku hanya diam. Merapatkan jaket karena cuaca malam hari yang mendadak dingin, kemudian mulai terdengar gemuruh dari langit. Ah, sepertinya sebentar lagi hujan.
Baru saja selesai mengucap dalam hati, tau-tau saja hujan yang cukup besar turun. Kak Brian yang buru-buru mencari tempat berteduh dan aku yang sibuk menunduk bermaksud berlindung di belakang tubuhnya.
Motor kami akhirnya berhenti untuk berteduh. Aku melepaskan helm, begitupun Kak Brian.
“Sorry ya gue gak jemput lo pake mobil” ucapnya tiba-tiba.
“Gapapa kak, gak perlu minta maaf juga. Bukan tanggung jawab lo”
__ADS_1
Kemudian canggung. Hanya rintik hujan dan gemuruh yang makin menggelegar menjadi back sound kami. Angin yang makin kuat berhembus membuatku semakin merapatkan jaket.
“Butuh yang anget-anget?” tanyanya dengan senyuman, tak lupa tangganya direntangkan pertanda menawarkan sebuah pelukan.
“Mau kak.. mau banget. Gue kangen lo” jawabku yang sialnya hanya terucap dalam hati. Aku hanya menatap kosong pertanyaannya.
“Kok diem?” lanjutnya.
“Mmm… lo pacarnya kakak pembimbing gue kak, sorry gue baru tau” jawabku sembari menunduk.
“Meina ya?” ucapnya pada angin. Bermonolog maksudnya. “Lo kecewa ya sama gue?” tanyanya. Dan aku hanya bisa menaikkan bahu tanpa sedikitpun melihatnya.
“Jadi itu ya alasan kenapa lo menghindar dari gue Ann?” hanya anggukan yang dapat aku berikan. Kak Brian mengembuskan nafas beratnya. Entah apa yang ada di pikirannya. Karena pikiranku saja sudah berkecamuk.
Sejujurnya aku sangat menginginkan Kak Brian di hidupku. Apa yang aku rasakan padanya mengalir begitu saja. Meski hanya sebuah pertemuan singkat dan bisa dibilang remeh. Hey… sejak kapan jatuh cinta harus melalui proses rumit? Semua bisa jatuh cinta karna hal-hal remeh!
“Sorry ya… ciuman itu. Gue…” ucapannya menggantung dan tiba-tiba saja sebuah mobil melaju kencang yang menginjak genangan air dan..
PYAARRR
Aku hanya memejamkan mata, tidak tau apa yang terjadi selanjutnya.
Wajahku juga tidak basah.
Perlahan aku membuka mata dan betapa kagetnya wajah Kak Brian yang hanya berjarak satu jengkal di hadapanku. Ia sekarang berposisi di hadapanku. Sudah aku pastikan kalau punggungnya basah.
Entah keberanian dari mana aku begitu menikmati tatapan ini. Menatapnya dan mengatakan bahwa aku merindukannya, apakah lancang?
Aku melupakan kejadian panik sesaat ku hingga sesak saat itu. Entah keberanian dari mana. Aku tidak tau.
“I miss you” itu kalimat yang aku dengar. Tatapanku berubah sendu. Kenapa dia berani sekali mengatakan itu saat dia sudah memiliki kekasih. “Can we back? Can we go back to how we used to be? I need your existence” apa katanya? Tidak salah?
Aku hanya menelan ludah. Masih menatapnya. Sejak kapan kami memulai? Kenapa harus kembali? Sejak ciuman itu? Harusnya ciuman itu hanya menjadi hal remeh bukan? Ia sudah memiliki kekasih.
“Please...” lanjutnya. Saat aku ingin membuka suara, ia melanjutkan lagi perkataannya. “Please lupain kalo Meina pernah ada. You’re something for me. I know it’s *******, gue brengsek, iya. But can we stay together? Meskipun kita baru ketemu sebentar I feel... I feel something different when I’m with you”.
Air wajahnya terlihat sungguh-sungguh. Matanya tidak berbohong saat memintaku untuk tetap berada di sisinya. Sejujurnya jika boleh nekat, aku juga ingin tetap bersamanya. What is this? Cheating? Hell.
__ADS_1
“Gu-gue… gatau kak harus ngomong apa” akhirnya aku bisa ngomong juga.
“What do you feel?”
“…”
“Nothing? Really? After our first kiss?"
“Our first kiss?” tanyaku memastikan.
“Gak pernah ciuman bibir”
“Dengan sejago itu?” ******. Kenapa aku malah ngomong gini?! Kak Brian tertawa pelan menimpali.
“Want it?” godanya. Lagi-lagi aku hanya diam. Dia ini gak sadar apa kalau perlakuannya itu mengkhianati pacarnya?
“Tadi Kak Meina pulang duluan karna mamanya masuk rumah sakit. Gue ke sini bareng Ian. Dia kaya lupain gue gitu aja, anter Kak Meina dan gak pamit sama gue sama sekali”
“Gue tau” aku menoleh heran sambil menyeritkan dahi.
“Gue di sana tapi dari jauh”
“Ngapain?”
“Liatin lo”
“Ngapain?”
“Kangen Ann, lo gak bales chat gue dan gak pernah angkat telfon”
“Gue liat lo kak cium kening Kak Meina di koridor kampus setelah lo chat gue di hari terakhir ospek”
“Gue gak cium dia. Gue gak pernah cium dia Ann” oke, nice info.
“Tapi lo pacaran sama dia kan, kak?”
“Mungkin” jawabnya sambil mengedikkan bahu.
__ADS_1
Aku jengah menimpali Kak Brian. Mungkin? Ada ya orang pacaran jawabannya mungkin? “Whatever you are-“
“Ann… ada hal yang gak lo tau kenapa sampe gue segininya sama lo. Please Ann… can we back?”