Desembersamamu

Desembersamamu
Bab 3: Apartemen


__ADS_3

Sesampainya Lianna di dalam mobil, Brian menelfon Wira untuk mengambilkan barang-barangnya Lianna. Setelah telfon tertutup, Brian masuk di kursi kemudi, kemudian menunggu kedatangan Wira. Ia mengetuk-ngetukkan jari di stir mobil.


"Kak Brian, ini gak ngerepotin kan?" Tanya Lianna.


Brian menoleh, "gak kok" jawabnya sembari menatap mata Lianna.


"Gue jadi ga enak sam-" ucapannya terputus lantaran telunjuk Brian yang menempel di bibir Lianna.


"Sshhh... Gapapa" ulangnya lagi dengan sedikit senyuman terukir di wajah tampannya.


Lianna termangu, ia dibuat kikuk karena pria ini. Sudah gila kah?


Tak lama dari itu, Wira datang membawakan tas Lianna. Setelah mengucapkan terima kasih dan Lianna memangku tasnya, Brian langsung keluar dari parkiran menuju gerbang kampus. Ia menglaksonkan mobil pada satpam untuk pamit pulang.


Mobilnya membelah jalanan dengan santai, karena jalanan menuju apartemen Lianna one way, mereka harus muter balik. Padahal kampus dan apartemen Lianna tidak terlalu jauh.


Sesampainya di basement apartmen, Brian menolehkan wajahnya ke arah Lianna. "Gue anterin sampe depan kamer lo ya?" Tanya Brian.


Lianna yang serasa diberi kesempatan emas, lagi-lagi ia tidak menolak ini. Ia tau hati kecilnya menginginkan untuk selalu dekat dengan pria ini. Sejak awal bertemu, memang sudah ada getaran aneh yang mengatakan bahwa Brianlah orangnya.


Brian membuka pintu mobil di sebelahnya, menggendong Lianna kembali ala bridal style.


"Digendong lagi kak?" Tanya Lianna polos. Brian menundukkan pandangannya sambil terkekeh pelan.


"Biar cepet" balasnya dengan kedipan mata. Lianna yang melihat itu langsung memukul pelan dada bidannya.


"Ishh dasar"


Setelah menutup kembali pintu mobil dan menguncinya, Brian berjalan gontai masuk ke dalam gedung. Ia berjalan ke arah lift untuk naik ke lantai 8 sesuai arahan Lianna.


"Emang gue gak berat ya kak?" Tanya Lianna lagi.


"Gak Anna, gak berat sama sekali. Lo jarang makan ya? Lebih enteng ini daripada bawa box tissue" balas Brian bercanda.


Lianna yang mendengarnya tersipu malu, ia menahan senyumannya dan memukul pelan lagi dada bidang Brian. Tawa Brian membuncah dan terdengar jelas di telinga Lianna. Mereka sudah seperti pasangan suami-isteri yang sedang dimabuk asmara.

__ADS_1


Bagaimana tidak? Brian menggendong Lianna yang jika orang awam melihatnya seperti suami yang sedang menggendong istrinya. Mereka tertawa bersama memancarkan kebahagiaan seperti pasangan yang baru saja mengucap janji.


Bel lift berbunyi dan pintu terbuka, menandakan lift sudah sampai di lantai 8. Brian melangkah gontai mencari kamar 808 dimana itulah unit yang dihuni oleh Lianna.


Setelah sampai di depan pintu, Brian menurunkan Lianna dengan perlahan. Lianna mengambil key card apartmennya di dalam saku. Setelah menempelkannya di gagang pintu dan pintu terbuka, ia kembali menatap Brian.


"Mau masuk dulu kak? Biar gue bikinin minum. Hmm... Sebagai tanda terimakasih udah gendong dan anter gue" tawar Lianna.


Brian pun menyetujuinya, ia memapah Lianna yang berjalan menuju sofa untuk menaruh tas. "Duduk aja kak, gue ke dapur dulu ya"


Brian hanya menurut dan duduk di sofa ruang tamu. Ia menyenderkan punggungnya dan memejamkan mata sebentar. Pikirannya sedang melayang-layang dan senderan sejenak begini membuatnya rehat akan dunia."Tinggal sendirian?" Tanyanya.


"Iya, kenapa?"


"Berani?"


Lianna terkekeh pelan, "berani lah.. emangnya kenapa?"


Brian membuka matanya, menengok ke arah belakang. "Gapapa, keren". Lianna hanya terkekeh pelan menimpalinya.


"Jus jeruk?" Lianna kaget dengan kedatangan Brian yang tau-tau sudah ada di sampingnya. Untung saja jusnya tidak tumpah atau gelasnya jatuh. Brian yang melihat ekspresi itu hanya tersenyum kecil.


"Kayanya hobi baru Ka Brian selain jail, ngagetin orang ya?"


"Hahaha.. sorry sorry. Mana minumnya, haus banget gue"


"Nih"


Dengan tidak sabaran, brian meneguk habis segelas jus jeruk instan. Ia minum di hadapan Lianna yang tengah mematung. Dalam hatinya, pemandangan apa ini? Leher Brian yang mengadah ke atas dan jakunnya yang naik turun. Lianna menahan nafas dan sedikit syok.


Hari ini seperti tidak bisa istirahat sedikit saja. Hatinya terus dibombardir oleh pria bernama Brian. Kalau boleh teriak, ia mungkin sudah teriak sekencang mungkin. Menumpahkan rasa gembiranya dan salah tingkahnya akan oknum Brian.


Brian yang sudah menghabiskan segelas jus jeruknya, kemudian menaruh itu di atas meja.


"Ah.. seger. Thanks ya" Lianna masih mematung.

__ADS_1


Brian yang menyadari ada jus yang menempel di sisi bibirnya kemudian mengelap itu dengan ibu jari dan menempelkan sisaan jus ke bibirnya untuk dihisap.


Gila. Bisa gila Lianna.


Lianna masih mematung dan syok dengan kejadian yang terjadi di hadapannya. Karena salah tingkah, ia berjalan menuju sofa dengan tergesa-gesa dan terpeleset. Brian dengan sigap menahan badan Lianna yang hampir jatuh.


"Hati-hati Ann.. kaki lo belum sembuh" Lianna masih mematung. Jantungnya berpacu dengan cepat. Posisinya dengan Brian sangat dekat. Ia bisa merasakan deru nafas kakak tingkat tampannya dengan jarak sedekat ini.


Lianna menegakkan tubuhnya. Ia berusaha bernafas sedikit lebih banyak dan masih menahan gejolak yang ada dalam dirinya. Bagaimana tidak? Bayangkan jika pria yang kamu cintai bersikap seperti itu di depanmu. Apakah hatimu akan baik-baik saja? Sepertinya tidak.


Melihat tingkah Lianna yang gelagapan membuat Brian semakin tertantang. Sejak bertemunya ia dengan Lianna memang sudah menciptakan hal aneh dalam benaknya. Namun mengapa bisa secepat ini?


Langkah kakinya perlahan mendekat. Memojokkan Lianna pada pintu kulkas. Pandangannya menurun dan mensejajarkan dengan wajah Lianna.


"Gue tau, lo juga ngerasain hal yang sama kan?"


Dengan berani, Lianna membalas tatapan Brian. Tatapannya berbeda. Seperti ada adrenalin dan kilatan di sana. Lianna yang mengerti akan tatapan itu, tanpa sadar menaruh kedua telapak tangannya pada dada bidang Brian.


Seperti diberi lampu hijau, Brian mulai mengikis halus jarak diantara mereka. Menciptakan desiran aneh semakin membuncah. Degupan jantung kedua insan ini menggema di dirinya masing-masing.


Kecupan singkat itu berubah menjadi pagutan sesaat setelah Brian sedikit menggigit bibir bawah Lianna. Tangannya yang berada di dada, beralih menuju leher. Mengalungkan tangan dan merapatkan badan.


Sesapan kecil dan berlangsung lama itu sangat dinikmati oleh keduanya. Lianna yang begitu menyukai dan tergoda dengan Brian sejak pertama bertemu, ia tidak pernah menyangka akan sejauh ini dengan kakak tingkatnya.


Brian yang merasa ada desiran aneh saat bertemu dengan Lianna mencoba memanfaatkan keadaan. Usahanya tidak gagal untuk menaklukkan Lianna. Ia berhasil menciumnya di kali pertama bertemu.


Tangan Brian tidak tinggal diam, ditariknya tengkuk perempuan itu untuk memperdalam ciuman. Tidak ada kesan menuntut, semuanya santai dan saling menikmati. Lianna pun membalas sebisanya.


Ciuman memabukkan. Mungkin begitu kiranya.


Pagutan itu usai setelah Lianna kehabisan nafas. Brian sangat ahli dalam ini. Ia dibuat mabuk kepayang akan ciuman pertamanya. Ia tidak banyak membalas, ciuman itu tidak banyak menuntut namun Brian seperti ingin melahap habis bibir Lianna.


Suasana mendadak canggung. Lianna menunduk dan berusaha untuk berfikir. Ia mengulum bibirnya merasakan jus jeruk yang begitu terasa saat berciuman dengan Brian.


Senyum kecil terukir di wajah Brian. Lianna menatapnya dan ikut tersenyum setelahnya. Suasana canggung itu berubah menghangat. Lianna dan Brian tidak denial akan kejadian tadi. Mereka mengakuinya dan sama-sama menikmati.

__ADS_1


__ADS_2