DEVMA

DEVMA
Prolog


__ADS_3

...*Tring.....


"Pasti seru kalau kita bisa masuk ke dalam game!"


Big bullshit. Volume otaknya pasti cuma seperempat.


"Ya.. mungkin. Kemarin lusa aku dapet websitenya, tapi begitu masuk cuma ada diagram iklannya aja."


Kasian.


"Masa? Iih sayang banget. Coba aku bisa masuk. Aku bakalan seneng banget!"


Masa? Iiih sayang banget. Coba kalian masuk beneran dan ngga balik lagi sekalian. Seneng deh.


"Katanya, itu masuk salah satu trending topic loh.."


"Oh ya?"


Iyain aja..


"Iya beneran. Ada yang bilang creatornya masih misteri!"


Uka.. uka..


"Whaah.. jadi makin penasaran! Nanti malem aku bakalan main lagi!"


"Eh, tapi kan besok masih UTS!"


Tuh denger, kayak udah pinter aja.


...*Tret tet tet.....


"Ada lagi tambahannya?"


"Ngga ada Mas."


"Ok, totalnya jadi dua puluh satu ribu sembilan ratus. Adek lagi pada ngomongin game itu ya?"


Yaah nyambung, bisa lama nih. Es krimnya nanti cair. Emang ya orang-orang jadi tambah ****. Game diurusin, diri sendiri ngga diperhatiin. Di sana game di sini game. Kalo nanti ketemu orang ngomongin game lagi liat aja..


"Eh Mas kok tau?!"


"Iya, itu kan lagi heboh banget Dek."

__ADS_1


"Bener banget Mas, makanya habis ini saya mau coba main lagi."


...*Beep beep.....


...[]...



...Buku Devan...


"Udah berisik, lama lagi. Dasar nista. Maunya apa sih mereka? Emangnya minimarket ini punya neneknya? Kakeknya? Buyutnya? Jadi cair kaaan.. ih!"


To : Kodok Bangkong


Allen, kamu liat catatan fisika aku nggak? Warna biru tua. Udah aku cari kemana-mana tapi ngga ada


Begitulah sepetik pesan yang Devan ketik secepat kilat untuk Allen setelah melepas gagang pintu minimarket. Akhir-akhir ini Devan sering sekali kehilangan bukunya, padahal ia tidak pernah meminjamkannya pada siapa pun, seingatnya. Allen adalah satu-satunya orang yang belum Devan introgasi tentang masalah ini.


Besok ada ulangan fisika. Ditemani setumpuk buku saja sulit membayangkan lulus tes pak Budiman yang mengerikan itu, apalagi tanpa buku?


Mustahil! Ini musibah.


Devan masih menyusuri jalanan aspal menuju rumahnya sambil sesekali menepikan kerikil-kerikil kecil yang menghalangi jalannya.


Sekarang Devan sudah berada di depan rumah. Menggeser pintu gerbang, memencet bel, tersenyum kepada Bi Iyem, melepas sepatu, kemudian berlari melompati dua anak tangga sekali langkah menuju surga kecilnya.


Devan menekan saklar lampu kamarnya. Dinding dan atapnya yang bergambar Galaxy tampak seperti nyata saat cahaya lampu mengenai permukaannya.


Devan bersimpuh di bawah meja belajar sambil terus mengorek isi tas sekolahnya. Memastikan buku yang baru ia baca tadi malam itu masih ada di sana bersama dengan teman-tamannya. Berharap ada sekelebat kilau biru yang bisa menghentikan matanya yang lelah mencari, juga tangannya yang sudah tak mampu lagi menguras habis isi lemari, tapi nihil.


Devan menjambak rambutnya yang terurai kuat-kuat. Menetralisir rasa pening yang kini mulai merambat ke ubun-ubun, "Ssshhh.... harus cari kemana lagiii?" erangnya.


Kelakuan Devan itu membuat Bi Iyem yang sedang menyapu lantai semakin khawatir. Sejak tadi malam, gadis yang sudah ia urus seperti anaknya sendiri itu masih saja berkutat di hadapan bukunya yang berserakan di lantai.


"Cari apa sih Non?" tanya Bi Iyem basa-basi saat menyapu lorong di depan pintu kamar Devan.


"Iniii.. Bibi liat buku tulis warna biru tua ngga?" keluh Devan tanpa memalingkan wajahnya. Masih bersimpuh frustasi di lantai.


"Ngga Non. Emang kenapa? Hilang ya?"


"Iya nih dari tadi dicari ngga ada. Bibi beneran ngga liat? Warnanya biru terang. Teraaaang banget loh Bi masa ngga liat sih?" jelas Devan nyolot. Menekankan kata terang sambil melotot dan membuka mulutnya lebar-lebar. Mencoba memasukkan sugesti biru terangnya kepada Bi Iyem.


Siapa tau dia pernah melihatnya di suatu tempat kan?

__ADS_1


Bi Iyem menggeleng, "Yaudah nanti kalo liat, saya kasih tau Non."


Berusaha untuk tidak peduli lagi, Bi Iyem yang jelas tidak bisa membantu melanjutkan menyapu lantai bagian lain. Membiarkan Devan menyelesaikan masalah, baru kemudian Bi Iyem akan mengurus sisa kekacauan yang dibuatnya.


Drrrt!!


Getaran ponsel di lantai seketika mengalihkan wajah Devan yang menatap lesu ujung ijuk di depan pintu yang semakin menjauh. Devan menyambar ponselnya yang tergeletak di lantai bak singa yang menemukan seonggok daging kala kelaparan.


From : Kodok Bangkong


Iya, aku liat.


Kenapa?


Devan mendecakkan lidahnya sebal. Memangnya dia tidak tahu kalau besok ada ulangan? Dasar Kodok!


To : Kodok Bangkong


Besok kan ada ulangan


Kamu liat dimana?


Aku perlu buku itu sekarang


Devan tidak sabar menunggu ponselnya bergetar lagi. Kenapa Allen membalasnya lama sekali sih? Memangnya dia tidak tahu kalau ini urgent?! Ish!


From : Kodok Bangkong


Ooh


Buku yang biru bunga-bunga itu punya kamu?


Ini lagi aku pake buat belajar


APA? DIMANA?!!


Dengan penuh emosi, Devan menggerakkan dua ibu jarinya kasar di layar ponselnya. Keterlaluan, kalau pinjam bilang dulu kek. Tidak tahu apa betapa kalutnya dia karena kehilangan salah satu benda keramat mengerikan itu?


Awas saja kalau ketemu nanti. Pokoknya habis!


To : Kodok Bangkong


BALIKINBUKUKUSEKARANG!!!

__ADS_1


Habis kamu Allen!


...[]...


__ADS_2