DEVMA

DEVMA
Datang Bukan Tak Diundang


__ADS_3


"Ma, kenapa kita ada di sini?"


"Ngga tau Han."



"Ma, ini di mana?



"Ngga tau Han."



Semilir angin dingin mulai menusuk tubuh Raihan dan Gemma. Kaki dan tangan kaku, kepala berat, bahkan hanya untuk menoleh. Seakan enggan bekerja sama dengan pikiran yang mulai sadar akan sesuatu.



Pikiran mereka tidak bisa fokus, memikirkan segala kemungkinan yang ada yang mungkin menjadi penyebab mereka bisa sampai di tempat mereka berdiri. Masih berusaha mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk akan sesuatu yang sedang, atau bisa dibilang baru saja mereka alami.



"Ma, " kali ini Raihan menepuk pundak Gemma. Berharap mendapat respon lebih dari sahabatnya itu. Namun sayang, sama seperti dirinya, sahabatnya itu tampak masih belum menyadari apa yang terjadi.



"Hm?" Gemma hanya bergumam pelan.



"Ini rumah siapa? Kenapa kita bisa sampe ke sini?" tanya Raihan lagi. Namun Gemma hanya menggeleng.



Raihan mengangguk-angguk lemas. Baik dirinya maupun Gemma sama-sama tidak tahu di mana mereka berada. Bagaimana mereka bisa berakhir di tempat itu dan kenapa mereka membawa begitu banyak barang.

__ADS_1



Raihan berbalik dari tempatnya. Berjalan menjauhi pintu kayu dengan puncak setengah lingkaran besar yang belum lepas dari pandangan Gemma.



Halaman rumah itu begitu luas. Sangat luas dan penuh dikelilingi pepohonan tinggi sampai Raihan mengira ia sedang berada di tengah hutan.


Memang


Cuaca di tempat Raihan berdiri sedikit berkabut. Jejeran pohon-pohon pinus yang mengelilinginya adalah satu-satunya pemandangan di sekitar rumah yang mampu Raihan tangkap dengan mata telanjang. Hal yang menambah kebingungan Raihan adalah ukuran dari pohon-pohon pinus itu begitu besar sampai membuatnya merinding.



Saat ia kembali berbalik, terlihat sebuah rumah panggung dari kayu yang besar dan tua. Itulah rumah yang baru saja ia cap dengan kaki-kakinya.



Saat Raihan menundukkan kepala, ia baru sadar kalau dirinya dan Gemma menapaki alas kayu rumah itu tanpa alas kaki. Entah bagaimana caranya mereka sampai di antah berantah itu membawa koper besar, bertelanjang kaki, tanpa sedikitpun luka.




"Ma, " tanya Raihan lagi.



"Ngga tau Han.."



Kening Raihan berkerut, "Tapi gue belum nanya Ma."



Gemma hanya menggidikkan bahu, kemudian berbalik. Sekarang ia bisa melihat Raihan menaiki tangga kayu dan berjalan ke arahnya.

__ADS_1



Raihan menarik kopernya dan berjalan mendekati pintu, "Kita masuk aja." ucapnya sambil berjalan menyambangi pintu.



"Nanti dulu," cegah Gemma sebelum Raihan berhasil mengetuk pintu.



"Kita ngga tau ini rumah siapa." jelas Gemma pelan.


Entah kenapa pemandangan sekitar yang ia lihat saat berbalik dan melihat Raihan menaiki rumah tadi terasa sangat janggal sampai membuatnya takut.


Gemma menggeleng pelan, "Gue ngga yakin Han. Ini aneh." jelasnya lagi. Ini lebih daripada segerombolan serigala kelaparan yang membuatnya khawatir.



Raihan hanya menatap Gemma. Dari matanya, ini bukan Gemma yang kemarin. Baguslah jika Gemma sudah menyadari semua keanehan ini. Kalau sahabatnya itu tidak sampai pucat setelah melihat hutan remang-remang di belakang sana, Raihan berencana untuk menyadarkan Gemma dengan satu bogem mentahnya tadi.



Raihan menghela napas pelan, "Gue tau ini aneh. Tapi lebih aneh lagi kalo kita tetep di sini. Dan gue rasa lo pasti tau kalo di dalem rumah ini lebih aman daripada kita terus diem tanpa tau apa-apa kayak gini, di sini." jelasnya, diakhiri dengan tangan yang menunjuk ke tempat mereka berdiri.



Gemma melihat sekeliling sekali lagi. Ia menelan liurnya sebelum akhirnya mengangguk dan ikut membawa barang-barangnya bersama Raihan.



"Oke, siap?" tanya Raihan memastikan dan dibalas satu anggukan kepala dari Gemma.



***Tok tok tok***..


...[]...

__ADS_1


__ADS_2