DEVMA

DEVMA
Satu.. Dua.. Tiga! (bagian 1)


__ADS_3


...|[ Anda berhasil YEEEAY!!! ]|...


...Raihan Adhy Saputra...


...Gemma Aditya...


...Selamat menjalani kehidupan baru!...


...Informasi selanjutnya akan Anda terima via email untuk sementara...


...Pemberitahuan ini akan hilang dalam lima detik....


...CP : xxxxxxxxx - Rabbite ^o^/...


Sudah dua hari pesan aneh itu terus berputar-putar di pikiran Gemma dan Raihan. Setelah mendapat pesan singkat yang juga bersuara itu, Raihan langsung merebut ponsel Gemma kemudian mematikannya. Menurutnya ini aneh. Pada awalnya keduanya tidak terlalu ambil pusing. Namun, suara itu terus terngiang siang dan malam. Pikiran mereka terus menyangkut pautkan kejadian itu dengan rumor game yang telah mereka mainkan sebelumnya.


Lama kelamaan gambar-gambar aneh mulai berkeliaran dalam rutinitas Raihan dan Gemma. Termasuk gambar dimana mereka sedang mengemasi baju-baju, buku, dan kebutuhan primer lainnya. Sadar atau tidak keduanya sudah meninggalkan pintu asrama tanpa pamit pada siapapun.


...*****...


Bi Iyem mendadak pulang kampung pagi-pagi. Devan sendiri masih terpikirkan soal kepergian Bi Iyem yang begitu tiba-tiba. Sampai hati Bi Iyem meninggalkannya tanpa membuatkannya sarapan pagi. Untung resep coba-coba Devan yang hanya sekedar feeling tidak sampai membuatnya jatuh sakit. Setidaknya sampai siang ini tidak ada respon aneh dari tubuhnya.


Bagaimana dengan Papa & Mama?


Papa Mama hanyalah dua kata formal yang Devan ucapkan saat bertemu dua orang sok sibuk, sok tua, sok tau, dan banyak sok nya itu.

__ADS_1


...Tidak penting....


Devan lebih khawatir ditinggal Bi Iyem satu minggu daripada ditinggal Mama Papanya berbulan-bulan. Selagi uang jajan lancar, tidak masalah asalkan ada Bi Iyem yang mau memasakkannya makanan yang enak dan mau diajak curhat.


Ding dong..


Selepas bel pulang sekolah yang berdering membuat teman-teman satu sekolahnya menggila, Devan tidak tahu harus kemana lagi selain menyambangi rumah Allen. Setidaknya di dalam rumah itu ada makhluk yang mau jadi lawan bicaranya walau dimaki-maki sekalipun.


Tidak lupa, Allen lah orang yang tidak pernah keberatan menghabiskan uangnya untuk membeli kebutuhan perut Devan saat sedang kelaparan. Hemat, hari ini sudah masuk akhir bulan. Masa-masa kritis dompet Devan.


"Alleeen.. main yuk!" ucap Devan seperti anak kecil yang berteriak mengajak temannya bermain dari depan rumah.


Devan kembali mengetuk pintu, sebelah tangannya lagi sibuk mengetik pesan. Hari ini orang-orang semakin gila karena game. Kalau nanti virus itu ikut menjangkitnya, ia pasti sudah gila.


"Ngapain kamu?" Allen yang menghampiri dari arah samping rumah menepis bahu Devan yang berdiri menghalangi pintu.


'Kok kamu ada di sini? Kirain ada di dalem, makanya aku ketok pintunya.'


Allen memonyongkan bibirnya, "Maaf, Anda siapa ya?" balasnya. Mengikuti alur acting dagelan sahabatnya yang cantik-cantik gila itu.


'Nggak inget apa dia pulang bareng aku tadi?' dumal Allen dalam hati.


Tidak mau tampak bodoh, Devan menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan berdiri bertumpu di satu kaki, mencoba menarik Allen masuk ke dalam permainannya lagi.


"Khem.. anda mau tahu siapa saya?" ucap Devan sok misterius.


Mimik wajah Devan berubah-ubah. Mencoba mencocokkan diri semirip mungkin dengan seseorang. Tetapi karena bakatnya yang kurang, objek tiruannya selalu berubah menyesuaikan dengan kemampuan otot wajahnya menirukan setiap kerut khas seseorang itu.

__ADS_1


Jika sudah aneh seperti ini, terpaksa Allen mengalah. Kalau dia ikut-ikutan, gejala ini bisa semakin rumit dan mengkhawatirkan.


"Nggak tuh." jawab Allen santai. Mendorong wajah Devan yang mendadak tak bergerak dengan mulut yang masih miring-miring ke samping lalu memasukkan kunci ke pintu kemudian terdengarlah bunyi,


klik~


"Wiiiiii...."


Devan belum berhenti sampai disini. "Kamu bisa buka pintunya? Khereeeen....." ucapnya girang.


Firasat Allen tak salah.


Plak!


Allen mendaratkan telapak tangannya yang lebar ke kening Devan. Sepertinya di perjalanan menuju rumahnya tadi kening Devan yang tidak tertutup kaca helm ditabrak satu koloni lalat, jadi Allen bermaksud untuk mengembalikannya dengan tamparan di kening. Siapa tahu ini berhasil? Di film-film seperti itu kan?


"Udah ngga usah sok bloon."


Allen melangkahi tanjakan di bawah pintu yang sudah terbuka. Melewati Devan yang wajahnya sudah berubah datar.


"Kesambet apa orang ini bisa jadi normal begitu?" pikir Devan dalam hati. Masih berdiri di ambang pintu.


"Jadi masuk atau nggak?" gertak Allen sambil berusaha menutup pintu.


Devan mengangguk, tapi bukan masuk, Devan justru menarik Allen keluar sambil berkata, "Bayarin ke minimarket depan dulu."


...*****...

__ADS_1


__ADS_2