DEVMA

DEVMA
Klik Lagi, Klik Terus!


__ADS_3

"Klik klik KLIK KLIK KLIIIIIIIIK HlAAAAAHH!!!"



"KIIAAAAAAH!!!"



"GHAAAAGH!!!!"



"HUAAAAAGH STOP-STOP-HAAAAN!!!"



"NGGAAAAAAKK!!!"



"LEPASINHANHAPEGUAMAUJATOH!! BEGOOOOOO"


PRAK!!!


Kedua mata Singa balita yang sedang menganga meratapi sebuah telepon pintar yang terbang dengan indahnya terbuka dengan sempurna.


Ups~


"REHAN \*\*\*\*\*\*!!!!"



Seseorang yang disapa Rehan, hanya bisa diam sambil mengintip serpihan ponsel makhluk buas yang sedang mengerang-ngerang di sampingnya dari sela-sela jari tangannya yang menutupi wajah ketakutan.


Bahaya. Ini bahaya!


Daripada membayangkan bagaimana Singa balita di sampingnya tumbuh semakin besar dan menjadi-jadi, akan lebih baik jika ia memikirkan cara untuk menyelamatkan diri.


Tidak ada yang terjadi, tidak ada yang terjadiii, tidak!


"S-s-sori, gue kebelet mau ke--" ucap Rehan tergagap sambil perlahan berdiri dan bersiap mengambil langkah seribu, tapi..



"Kenapa Han??!"


tapi, sebelum ia berhasil mengangkat kaki, auman Singa yang terdengar begitu nyata memanggil namanya.


Raihan Adhy Saputra, kini hanya Tuhan yang tahu bagaimana nasibnya.



Tangan *Singa* baru gede itu mencengkram kerah baju bagian belakang Rehan. "Nasib buruk apa lagi yang menimpaku Tuhan?" pikirnya sambil menelan liur susah payah.

__ADS_1



*Singa* itu mengukir senyum yang kemudian disusul tawa, "Belakangan kuping gue agak budek. Tadi lo bilang apa Han? Haha-haha-ha-HAAAAAAAH?!!"



Raihan tersenyum kikuk. Ia berpikir keras. Keringat dingin sudah mulai menelusup keluar dari sela pori-pori kulit di keningnya. Ini salahnya atau bukan? Ponsel si *Singa* yang tadi terbang dan berakhir menabrak tembok itu salahnya bukan? Ini semua hanya karena rumor iklan *game online* gila. Harusnya tadi ia tidak memaksa *singa* untuk menekan *icon* kelinci pada iklan yang kebetulan muncul.



Kalau begitu ini salahnya? Jadi sekarang ia harus apa? Siapa yang tahu apa yang akan *Singa Naga - Sinaga - Nagasinga*, siapa pun jelmaan singa itu lakukan padanya.


Pikir lagi Raihan..


"JAWAB!!!" seru si Singa memecah sesi tanya jawab yang sedang berjalan di otak Raihan.



"Ng... nggak, ngga jadi. Sori tadi gue agak kebelet liat.."



"Liat apa?!" bentak si Singa sambil mengeratkan cengkeramannya.



Sekarang Raihan diperlakukan tidak lebih dari anak kucing yang hendak dibuang pemiliknya.




Singa tersenyum begitu misterius. Tangannya melepas kerah baju Raihan, "Nah, pinter. Rencananya kalo tadi lo ngga liat, mau gue **COLOK** mata lo." gertaknya sembari mengacungkan jari tengah dan telunjuk yang membentuk huruf V di depan wajah Raihan.



Raihan mengangguk pelan kemudian berjalan dengan terpaksa, dituntun satu makhluk berperawakan singa berkelakuan naga di belakangnya menuju perangkat ponsel pintar yang berserakan di lantai di bawah papan tulis.



"Cepet benerin! Awas lo macem-macem ntar gue cekek!"


Raihan meringis, siapapun tolong~


Apa boleh buat. Toh Raihan juga sudah tidak bisa menghindar. Ia memang berpengalaman merakit benda elektronik. AC, TV, sampai microwave tetangga berhasil selamat dari maut dengan tangannya. Itung-itung nambah uang jajan.



Mau bagaimana lagi, Raihan sudah tidak punya pilihan. Semoga saja nanti telepon genggam si Singa bisa kembali hidup.


Terangkanlah.. terangkanlah


Dua menit yang sangat sangat menegangkan pun berlalu. Iya, hanya dua menit! Ini mudah tapi berbahaya. Dilihat dari kondisinya, tidak ada bagian yang rusak. Semuanya hanya saling terlepas satu sama lain. Saking cepatnya Raihan merakit, Singa dan dirinya sendiri pun masih sangsi.

__ADS_1



Raihan menekan lama tombol *power smartphone* Singa. Setelah merasakan getaran, diberikannya benda tipis itu kepada sang pemilik



"Sorry Ma." ucap Raihan pelan sambil menunduk, seperti kucing yang habis dimarahi majikan.



Sayang sungguh sayang, kata maaf tak mampu menyentuh hati makhluk setengah naga.



Tak lama kemudian, ponsel Singa menyala dengan sempurna. Sebuah iklan *online* memenuhi layar ponsel siswa bernama Gemma.



Sebelumnya iklan itu memang sudah ada. Itulah sebab ponselnya bisa terlempar tadi, tapi sebelum itu ukuran iklannya tidak sebesar sekarang. Tanda *log in* juga hilang. Iklan ini mirip, yang berbeda hanyalah animasi mirip kelinci joker sekarang berada tepat di tengah-tengah, memegang kertas besar bertuliskan tulisan dengan huruf yang aneh.



Singa a.k.a Naga a.k.a Gemma memandang Raihan, begitu pula sebaliknya.



"Menurut lo, ini harus diapain?" tanya Gemma kemudian.



Raihan menanggapinya santai, "Menurut gue lo tunggu sampe iklan itu ilang sendiri."



Gemma terdiam sejenak kemudian menyinyirkan bibir bawahnya, "Ngga percaya! Kalo gue klik klik klik kenapa emang? Ini juga hape gue. Ngapain juga gue nanya lo!"


IDIHH!!!


Raihan membalas dengan mengkomat-kamitkan bibirnya sambil memutar bola mata sebal, "Terserah!". Tidak mau berkomentar dan membuat amarah Singa kembali berkobar.



Setelah kembali tersenyum menang, Gemma menyentuh layar ponsel pintarnya yang baru saja bangkit dari kematian dengan membabi buta. Seakan-akan melampiaskan kemarahannya pada kelinci jelek yang terpampang besar di layar ponselnya.



"KELINCI JELEK! GARA-GARA LO HAPE GUE JATOH KAN?! Rasain nih Heuuuhhh Hahahaa.. ha-kok-EH!"


...|[ KAMI BERHASIL YEEEAY!! ]|...


Raihan yang tadinya sudah tidak peduli akhirnya mendekat. Ingin tahu apa yang telah terjadi. Yang satu ini bukan salahnya kan?


...[]...

__ADS_1


__ADS_2