DEVMA

DEVMA
KOMPENSASI


__ADS_3


"Gilagilagila... aku bisa cepet gila kalo terus beginiii." erang Devan.


Kepala Devan panas. Otak di dalamnya mendidih dan terasa seperti diputar-putar menggunakan sendok sayur besar yang biasa Bi Iyem gunakan untuk memasak sup sayur ABCD kesukaannya.



Imbas dari perbuatan Allen kemarin, bukannya belajar, Devan malah ketiduran karena tergoda jejeran bantal di kamarnya. Tak heran ulangan fisikanya hari ini berantakan.



"Kenapa *say*?"



Devan menjengit kaget. Tubuhnya seperti dibekukan oleh suara yang baru saja ia dengar.



Apa? *Say* apa? Siapa makhluk durja yang berani memanggilnya *say* tadi?



Kepala Devan masih bertumpu pada kedua tangannya, "Siapa?" tanyanya tanpa mau tahu siapa orang yang sudah berdiri di sebelah bangkunya itu.



"Aku beb." jawab orang itu.



Devan mengusap wajahnya ke bawah. Jelas ia sudah hafal suara itu. Harusnya ia tidak tanya.


"Bab beb bab beb. Aku manusia, bukan 'beb'. Thon ****."


Devan mendorong Allen menjauh dengan kekuatan penuh. Kalau bukan karena pengalaman yang membuatnya siaga, Allen mungkin sudah terjengkang di lantai sekarang.



Allen bangkit sambil nyengir lebar, "Weeeits jangan emosi gitu dong say.."



"NAJIS!!" sepat Devana keras.



Lagi-lagi, Allen hanya bisa tertawa setelah melihat respon Devan yang kesal. Allen menduduki kursi di sebelah Devan. Kakinya bersila di atas papan kursi dan tangannya bertumpu di bagian kosong di sebelah kakinya.



"Iya deh *sorry*, gitu aja ngambek. *By the way*, Thon itu apaan? Super hero baru ya?" Allen menegakkan kepalanya.

__ADS_1



*Akhirnya seorang Devana menyadari keberadaan otot-otot heroku Tuhaan*.. gumam Allen dalam hati.



Devan mendengus, memiringkan sebelah bibir kemudian menjawab, "Makhluk macem kamu tuh namanya Thon."


Allen mengangkat satu alis tanda tidak paham, "Maksudnya?".


Memang benar ya super hero yang namanya Thon itu ada? Allen belum pernah dengar. Sejak kapan Devan tahu banyak soal super hero kece yang mirip dengannya? Jangan-jangan..



"Dia adiknya Thor? Tapi kok aku nggak pernah denger ya? Atau mungkin dia ngga tinggal satu planet sama Thor? Dia siapanya Loki?"



Devan mengangguk. Menebar senyum-senyum misterius sembari membereskan alat tulisnya yang berantakan di meja.



"Darimana?"



"Dari Arab!" jawab Devan yakin.



Bisa jadi sorban Thon itu seberat palu kakaknya, Thor.


Belum puas, Devan kembali memancing, "Mau tau artinya apa?"



Untuk sementara waktu, Allen diam. Memang sebagian super hero punya arti nama, seperti misalnya Captain Amerika yang bisa diartikan kapten dari Amerika. Itu yang Allen pikirkan. Kalau Thor itu bisa dimaknai dewa kan? Kalau adiknya, Thon, sudah pasti dewa juga lah.


Wiiih... Allen kuat! Kekaaar!!


"Emang apaan artinya?"



Senyum Devan mengembang lebar sebelum dia berkata, "Setan!" sambil terbahak-bahak menatap wajah Allen yang kebingungan.



Devan menegakkan posisi duduknya, "Thon itu Syaithon! Syaithon tuh kayak kamu! Udah tau aku pusing habis ulangan kamu malah dateng terus ngomong babebabeb ngga jelas gitu. Ganggu tau nggak?!" cerocos Devan sambil tertawa, namun berhenti dan langsung berganti dengan tatapan garang.



Allen yang sudah berubah menjadi dingin berdecak sebal, "Iya tapi ngga gini juga. Lagian udah minta maap juga."

__ADS_1



"Maap maap. Maap aja ngga bisa bikin *mood* aku jadi baik dan lulus ulangan. Ini semua gara-gara kamu tauk! Coba kalo kamu nggak *CURI* catatan aku! Ngga bakal aku jadi pusing campur mules kayak gini."



Devan menyambar botol minumnya lalu menenggak isinya kasar. Masa bodoh dengan wajah Allen yang sudah terlihat se-datar piringan besi dari Antartika.



"Iya iya maaf." Allen menunduk, merasa bersalah sedikit. Tapi kan dia juga lupa, dia juga sudah minta maaf dan sempat-sempatnya mengembalikan buku Devan malam-malam. Bagaimana pun Devan harusnya tidak menyamainya dengan setan hanya karena dia memanggilnya *beb* dan *say* tadi kan?



"Maaf lagi maaf lagi." jawab Devan sinisme. Bibirnya menyinyir ke kanan dan ke kiri. Menolak permintaan maaf dari Allen.



Sebenarnya Devan tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Lagi pula salahnya juga yang selalu ceroboh. Harusnya Devan lebih giat belajar, bukan menyalahkan orang lain atas kegagalannya seperti tadi. Namun karena situasinya memungkinkan untuk mem-*bully* Allen, jadi Devan memanfaatkannya untuk bersenang-senang.



"Ngapain kamu ke sini?" Devan melirik lingkaran kaca arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, "Ngga biasanya ada di sini jam segini."



Allen menatap wajah Devan beberapa saat. Memastikan kalau perkataan Devan benar. Lagipula dia sudah minta maaf kan? Salah Devan membuatnya jadi tersinggung begini.



"Aku mau-"



"Bentar!" Devan memotong, "Berhubung habis ini ada pelajaran PAI jadi aku mau nanya dulu. Kamu kan pinter Len, nah kebetulan temanya nyerempet-nyerempet sama.." Devan menggantungkan kalimatnya. Siapa tahu Allen bisa melanjutkannya.



Allen memerhatikan dengan serius, "Nyerempet apa?"



Devan terkekeh kemudian menjawab, "Syaithon Len, hehe." godanya sambil nyengir lebar.



Allen menghela napas berat, menggeser kursi sambil mengelus dada, "Astaga tega, padahal tadinya aku mau minta maaf beneran."



Allen berdiri dari duduknya. Meletakkan bingkisan kecil yang sedari tadi ia sembunyikan di atas meja kemudian berbalik pergi. Meninggalkan Devana yang terpaku dengan wajah bingung.


__ADS_1


"Idih, ngambek." gumamnya sambil melihat Allen pergi.


...[]...


__ADS_2