
***Drrrt***!
***Drrrrt***!
***Drrrrrt***!
"Dev, " Allen menyenggol siku Devan. Tidak bisa melepaskan perhatiannya pada ponsel yang terus bergetar.
Sesibuk apapun Devan saat ini harusnya ia menyempatkan diri untuk mengecek ponselnya yang terus bergetar selama sepuluh menit terakhir. Siapa tahu itu pesan penting kan? Pikir Allen.
"Dev itu dicek dulu siapa tau penting."
Devan tetap diam. Ia terus saja membolak-balikkan lembaran buku latihan tebal di atas mejanya. Bertingkah seolah tidak terganggu sama sekali dengan getaran ponselnya yang membombardir konsentrasi Allen. Seingatnya ia sudah mengubah mode silent ponselnya pagi tadi.
"Dev, "
"Hm.."
"Devanaa....?"
Devan bergeming.
"Ganggu tau.." rengek Allen. Namun Devan tetap diam.
"DEV!"
"CK!!!" Devan membanting pensilnya ke meja dengan keras. Allen ini memangnya tidak bisa ya bicara baik-baik?
Terkejut dengan sikap Devan, urat sabar Allen pun putus. "Kamu budek ya?!" bentaknya kemudian.
Allen kesal sekali. Walau Devan tidak terganggu dengan getaran non stop itu, tapi kan bukan dia satu-satunya orang yang ada di kelas ini. Memangnya Allen yang duduk di sampingnya dianggap apa?
"NGGAK! Kalo mau kenapa nggak kamu aja yang buka hapenya!" balas Devan dengan teriakan tak kalah geram. Tidak peduli lagi dengan wajah-wajah bingung teman sekelasnya kala melihat dua anak berbeda ibu dan bapak yang selama ini begitu akur seperti saudara kembar saling menggeram seperti itu.
Devan heran, kenapa sih Allen jadi kasar sekali? Biasanya Allen begitu lembek sat berbicara padanya.
"Yaudah sini!" Allen merampas ponsel Devan yang tergeletak di atas meja sambil terus menatap Devan dengan tatapan permusuhan. Apa susahnya buka *chat* kayak gini sih?
__ADS_1
Devan meremas-remas lipatan bagian atas rok sekolahnya. Haruskah ia biarkan Allen membuka pesan itu? Apa tidak masalah? Apakah nanti Allen jadi ikut terlibat? Haruskah ia mengkhawatirkan Allen sekarang? Allen laki-laki sih, tapi..
Devan memejamkan mata, mengatur nafasnya, melemaskan otot-ototnya yang menegang semenjak pesan itu terus menerornya tiga hari lalu.
"**Halo Devan, selamat bergabung. Kamu adalah salah satu orang yang beruntung. Pilihanmu adalah pilihanku. Akan kupastikan hidupmu lancar selalu saat keinginanmu menjadi keinginanku juga. Ingat! Jangan tinggalkan ponselmu ya. Rabbite \^o**^/ "
"**Pagi Devan, kamu sudah memutuskan**?"
"**Halo Devan, kamu sudah selesai berpikir**?"
"**Malam Devan, apa keputusanmu? Hari ini berjalan dengan lancar kan**?"
"**Devan, tentang opsi yang kau terima kemarin, mana yang kau pilih? Merah atau biru? Aku yakin tidak keduanya bukan**?"
"**Hai Devan, waktumu tidak banyak tersisa. Kamu sudah pilih**?"
"**Pagi Devan, bagaimana kalu sekarang kau jawab**?"
"**Halo Devan, bagaimana kalau opsinya bertambah satu**?"
"**Devan, kau tahu waktumu tidak banyak kan**?"
*Hai Devan, hai Devan, hai Devan, hai Devan, Devan, Devan, Devaaaaaan*...
Seseorang itu terus bertanya padanya setiap saat seperti Dora. Segala macam notifikasi di ponselnya seketika berubah menjadi teror yang membuatnya phobia.
Awalnya Devan memang tidak terlalu peduli dan menganggap itu hal biasa yang dilakukan seseorang yang iseng atau kurang kerjaan, tapi sekarang hal itu mulai membuatnya terus geleng kepala.
Devan berusaha keras untuk menghindari kontak-kontak misterius. Ia bahkan tidak mau menyentuh aplikasi pesan di dalam ponselnya di malam hari. Mungkin hari ini rasa takut akan pesan yang tiba-tiba datang itu meningkat sehingga ia tidak mau menerima pemberitahuan apa pun dari ponselnya sejak tadi pagi.
Sekarang Allen akan segera mengetahui pesan lanjutan dari seseorang yang berinisial *R* dengan ikon anehnya itu.
Tidak apa kah?
Allen yang baik, Allen yang lemah lembut, Allen yang lebih mengutamakan PR Devan daripada PRnya sendiri, Allen yang lembek, Allen yang terkadang begitu begindang, Allen yang.. yang.. takut kecoa terbang, kulit seputih susu dan lebih lembut dari Devan itu, Allen yang seperti itu harus terlibat dengan teror itu?
Haha, tentu tidak!
__ADS_1
"E-eh! Ngga usah sini aku aja." Devan merebut benda persegi panjang tipis miliknya itu dari jari-jari panjang Allen. Allen sudah banyak membantunya. Tidak mungkin Devan menambah masalah Allen lagi.
"Kenapa?" tanya Allen bingung. Tadi Devan sendiri yang menyuruhnya membuka ponselnya. Kenapa sekarang dia berubah pikiran?
"I-itu dari pacarku!"
*Pacar*?
Allen diam sejenak, matanya menyipit. Mencoba fokus dan mencari kebenaran dari wajah sahabatnya itu, kemudian ber *oh* panjang. Jadi Devan sudah punya pacar.
"Beneran kamu udah punya pacar?" tanya Allen memastikan. Kalau gelagatnya sudah seperti ini sulit membedakan mana Devan yang bohong dan mana Devan yang jujur.
Devan menggenggam erat ponselnya, "Iya beneran." ucapnya yakin sambil mengangguk-ngangguk.
"Kamu ngga boong kan? Ngga cuma buat aku cemburu kan?"
Devan menaikkan satu alisnya. Maksudnya?
"Nggak lah, beneran ini ngga boong. Lagian kenapa juga kamu cemburu?" tanya Devan keheranan.
Allen terdiam. Benar juga, kenapa dia harus cemburu? Tak lama kemudian mulai tertawa, "Ahahaha.. becanda doang kaliii hehe.."
Devan membalasnya dengan ikut tersenyum dan tertawa paksa. Ia lupa bahwa ada yang harus ia cek sebelum sesuatu yang..
***TRING***!!!~
Pandangan Allen beralih kepada ponsel yang ada di genggaman tangan Devan. Bersamaan dengan itu wajah Devan berubah pucat dengan tatapan horor.
"Dev, itu ada chat masuk lagi."
"Aku tau Len." jawab Devan kaku.
Ia tahu hal ini akan terus terjadi dan berlanjut semakin mengerikan dari waktu ke waktu. Tapi sampai kapan?
"Kalo gitu dibuka lah. Pacarmu tuh." Allen kembali menghadap ke bukunya, "Your bae is waiting for your reply Dev." lanjutnya sebelum bersiap untuk melanjutkan apa yang ia kerjakan. Tidak menyadari kejanggalan dari raut wajah Devan.
"Ngga Len, kamu ngga ngerti, aku udah *silent* hapenya."
__ADS_1
...[]...