Dewa Sihir Dan Pedang Naga Hitam

Dewa Sihir Dan Pedang Naga Hitam
MEMASUKI PAGODA DEWA


__ADS_3

"Badai petir" teriak Zilong mencabut tombak tersebut dan menghujam kan ke lantai, sontak perisai pelindung arena dipenuhi dengan petir hitam laksana tombak yang di pegang Zilong. Pemuda ini telah memanipulasi udara menjadi tombak guan dao yang telah dialiri petir hitam.


Semua yang menyaksikan cemas akan keadaan Wong Er Lang. Jangan kan siswa akademi,guru akademi pun pasti akan sulit keluar dari serangan ini.


Menyadari dirinya dalam keadaan bahaya Er LangĀ  mengeluarkan jurus perisai terkuat yang bisa di keluarkan.


"Perisai petir Surgawi" teriak Wong Er Lang dengan mengerahkan segala kemampuannya. Benturan tak dapat di hindarkan.


Blam..duar...boom. Bunyi yang dahsyat, lebih keras dari sebelumnya. Perisai pelindung arena perlindungan pun hancur,suatu pertandingan yang tidak pernah terjadi sebelum nya. Ini lebih tepat di katakan pertarungan hidup dan mati.


Semua mata tertuju pada arena yang hancur, debu masih menyelimuti arena,masih belum tahu siapa pemenangnya. Para tetua serta pejabat kekaisaran mengkhawatirkan kedua peserta. Setelah asap menghilang nampak Wong Er Lang terkapar,sedang Zilong masih berdiri bertumpu pada guan dao miliknya.


Semua tabib langsung menuju tempat dimana Wong Er Lang terkapar, mereka memeriksa keadaan wong Er Lang yang mengenaskan.


"Tenang Tetua aku hanya mengerahkan sedikit kekuatan ku"ucap Zilong menuju tempat dimana Er Lang terkapar.


Mendengar ucapan pemuda itu dewa senior yang hadir merasa ngeri, "sedikit kekuatan" telah memporak-porandakan arena pertandingan,bahkan menghancurkan perisai arena, bagai mana jika dikerahkan dengan kekuatan penuh?. Setidaknya itulah yang ada dalam pikiran para dewa senior.


Tabib pun menyatakan bahwa Wong Er Lang hanya menderita luka dalam yang tidak begitu parah.


Ha...Ha...Ha...tawa penuh kegembiraan kaisar.


"Memang pantas menjadi anak mendiang panglima besar Zhao Tian Ang, sungguh layak" ucap kaisar kapada semua yang hadir.


Pertandingan dimenangkan Zhao Zilong dengan begitu panglima muda akan menjadi hak nya. Tapi kaisar meminta Zhao Zilong melaksanakan pemurnian darah di pagoda dewa.


"Satu bulan sebelum pelantikan kau harus melakukan pemurnian darah di pagoda dewa " perintah kaisar Bai Yun San pada pemuda tersebut tanpa memberitahukan apa alasannya.

__ADS_1


"Baik paduka kaisar,hamba siap" ucap Zilong dengan penuh hormat.


"Selamat cucu ku kau memang pantas menjadi putra Zhao Tian Ang" ucap kakek Zhao Tian Ren Pada cucunya. Zilong Hanya tersenyum mendengar pujian kakeknya.


"Slamat saudara ku...Aku sudah menduga pasti kau akan menang" ucap Wen Huang Jie yang di sampingnya sudah berdiri Long Meilin Nuhai.


"Trima kasih saudara ku" ucap singkat Zilong menjawab ucapan Wen Huang Jie.


"Selamat kakak Zilong"ucapan sama pun terlontar dari bibir mungil Long Meilin Nuhai.


"Trima kasih adik Meilin."Jawab Zilong dengan pandang mata yang entah apa artinya.


Flash Back


"Kakak Zilong mana bunga untuk ku?" Tanya gadis kecil usia 6 tahun pada bocah laki-laki yang berumur 7 tahun.


"Sabar ya...nanti aku ambilkan yang paling cantik untuk mu" ucap Zilong sambil memilih-milih bunga yang ada di taman.


"Aduh...hu...hu...kaki ku berdarah"ucap Long Meilin Nuhai sambil menganis menahan sakit. Sontak Zilong yang tahu akan kaki gadis kecil ini berdarah dia pun mengambil sapu tangan yang dia punya untuk menutup luka gadis ini.


"Kakak,apa kalau sudah besar kakak mau menikah dengan ku" tanya Long Meilin Nuhai pada Zilong.


"Iya Aku akan menikah dengan mu,tapi jangan nangis lagi ya" pinta Zilong pada gadis naga ini.


Baik Zilong atau pun Meilin belum tahu apa itu pernikahan,gadis ini hanya pernah menyaksikan paman dan bibinya menikah,dengan gaun merah yang cantik,dia berfikir menikah adalah duduk bersama dengan baju merah,dimana gadis ini suka dengan warna tersebut.


Ibu Zilong berasal dari ras Naga, namun darah dewa lebih dominan dalam tubuhnya,walau dilahirkan dari ibu yang berasal dari ras Naga Zilong tak memiliki tanduk di kepalanya.

__ADS_1


Hubungan kedua bocah ini mulai renggang mana kala Zilong masuk akademi dewa langit,dia jarang bahkan hampir tak pernah menemui teman kecilnya ini. Bahkan hingga usianya menginjak 25 tahun Zilong belum pernah menemui teman kecilnya ini.


Hingga 1bulan lalu keluarga perdana Mentri Wen melamar Long Meilin Nuhai untuk di nikah kan dengan putranya,Wen Huang Jie.


Long Meilin Nuhai sebenarnya berharap keluarga Zhao lah yang melamarnya,berhubung ayah nya sudah menerima lamaran tersebut, gadis ini pun setuju dengan usul sang ayah.(Flash back selesai).


"Saudara Zhao kenapa kau memandang tunanganku seperti itu?...Apa kau tak takut dengan ku yang jenius ini"ucap bercanda Wen Huang Jie.


"Aku takut...tapi ingat suatu saat pasti akan ku rebut"jawab Zilong dengan membalas candaan Wen Huang Jie. Sontak ketiga nya pun tertawa bersamaan.


Batin Long Meilin Nuhai berteriak Girang mendengar candaan dar Zilong,dan memang sebenarnya dia lebih suka dengan Zilong dari pada dengan calon Tunangannya ini.


Setelah acara pemberian selamat usai,Zilong dan kakeknya menuju pagoda dewa.


"Cucuku kau akan menjalani proses pemurnian darah,setiap dewa yang akan menjadi pejabat menjalani proses ini,kakek harap kamu dapat melewati rintangan ini." Harap sang kakek pada cucu kesayangannya ini. Zilong Hanya mengangguk tanda menyanggupinya.


"Ini,ada undangan untuk mu,moga kau tak lupa,"ucap kakek menyerahkan undangan warna merah. Zilong membuka serta membaca isi surat tersebut. Matanya seketika berkaca-kaca,batin nya terasa sakit membaca undangan tersebut.


"Sudahlah tak perlu di pikir...kekasih waktu kecilmu akan menikah dengan sahabat karib mu" ucap sang kakek di serta candaan agar pemuda ini tak terlalu sedih.


"Tak akan lari Gunung dikejar Cucuku" ucap kakek disertai anggukan Zilong.


Zilong memasuki pagoda dewa dengan perasaan campur aduk, bukan ingin merebut seperti apa yang dia ucapkan waktu bercanda dengan Wen Huang Jie, dia hanya berfikir antara hadir dan tidak.


Zilong pernah kehilangan orang tua, tapi waktu itu dia masih balita maka tak merasakan kehilangan seperti saat ini.


"Yang yang semula tak berarti, sesuatu yang semula kita anggap tak penting ,pada waktu kehilangan hal tersebut,entah itu barang,benda ,atau makluk hidup pasti kita akan merasa kehilangan dan membutuhkan hal tersebut. Inilah yang menjadi beban Zilong saat ini.

__ADS_1


Zilong memantapkan batin nya,memasuki pagoda,meninggalkan semua perasaan yang berkecamuk dalam batinnya. Pemuda ini yakin dan percaya dengan perkataan kakeknya sebelum memasuki pagoda ini.


"Tak akan lari Gunung dikejar" sebuah pepatah lama yang bijak tak tepat menggambarkan suasana hatinya saat ini.


__ADS_2