
Proses pemurnian darah adalah proses dimana semua darah yang di miliki akan di ganti serta penempaan Tulang. Hal ini amat sangat menyakitkan, bahkan para dewa jarang yang berani melakukan hal tersebut. Sang kakek berbohong karna dia takut cucunya akan di keluarkan dari kekaisaran jika masih memiliki darah iblis.
Setelah Zhao Zilong tiba di depan pagoda dia disambut oleh dewa yang sudah cukup tua.
"Selamat datang di pagoda dewa, apa kau Zhao Zilong?" Tanya dewa tua sambil tersenyum.
"Benar kakek aku Zilong, bagai mana kakek tahu?"tanya dewa muda penuh dengan heran.
" Kaisar langit telah memberitahuku"jawab dewa tersebut.
"Aku kira kakek punya kemampuan untuk melihat masa depan" Ucap ketus Zilong yang memang ingin bertanya mengenai wanita dari ras naga yang dia suka.
"Dasar anak bodoh, mana ada sihir atau kekuatan seperti itu. " Jawab dewa tua tersebut menipu Zilong, sebenarnya memang ada kemampuan seperti yang di harap Zilong cuma dewa tua tersebut tahu kemana arah tujuan pemuda ini. Dan dia tahu Zilong karna wajahnya mengingatkan kakek dewa pada muridnya Zhao Tian Ang.
"Oh iya, nama kakek siapa?" Tanya Zilong dengan ramah.
"Apakah arti sebuah nama anak muda, kau cukup panggil aku kakek saja,dan satu bulan kedepan kau harus berlatih kekuatan semua element, dan juga ilmu pengobatan." Perintah kakek tua tersebut.
"Tenang saja kakek dewa, kau tidak tahu bahwa aku adalah jenis muda para dewa" Ucap Zilong mencoba bercanda dengan kakek tersebut.
Akhirnya proses pemurnian darah pu dimulai. Dalam pagoda tersebut terbagi menjadi 9 lantai dimana dilantai dasarlah proses pemurnian darah akan dilakukan.
Zhao Zilong memasuki bejana dimana dibawahnya terdapat tungku api yang menyala.
"Ka... Kakek dewa... Apa aku harus di rebus?" Tanya Zilong dengan ketakutan.
"Memang begitu Zulong, kau masuklah tak akan terjadi apa-apa." Ucap sang kakek dengan tenang, serta memasang senyum paling licik yang bisa di munculkan, kakek dewa seakan ingin melihat ekspresi takut dari Zilong.
"Yang mulia kaisar anda juga disini" Ucap Zilong mencoba mengalihkan perhatian kakek dewa tersebut, mendengar nama kaisar sontak kakek dewa pun memalingkan pandangannya.
Secepat kilat Zilong mencoba kabur menuju pintu pagoda.
__ADS_1
Setelah pintu terbuka dan dia hendak kabur, dari depan pintu sudah berdiri kakek dewa tersebut.
"Ach...diluar sangat dingin murid ku, mari masuk" Ucap kakek yang entah kapan dia bisa berada di luar pagoda, Tiba-tiba tangan sang kakek sudah merangkulnya, kekuatan Zilong serasa hilang, dan dia di gandeng kakek tersebut seperti kerbau yang di cocok hidungnya.
"Anak baik mulai sekarang aku adalah guru mu" Lanjut sang kakek pada pemuda yang ada di depannya.
Zilong pun masuk dalam belanja yang berisi cairan darah yang berwarna emas, di tak dapat menggerakkan tubuhnya. Sang guru menyayat telapak tangan pemuda tersebut dan meneteskan darah emas pada tungku api yang ada di bawah bejana tempat pemuda tersebut berada.
Seketika simbol rumit muncul dan menyelimuti tungku serta bejana tempat Zilong berada. Teriakan hiteris pun terdengar. Setiap darah yang mengalir masuk maupun keluar dari badan Zilong seakan seperti tersengat petir yang maha dahsyat.
Proses yang amat begitu menyakitkan, teriakan menyayat hati laksana lantunan maestro musik pun terdengar.
"Takdir mu tak akan sederhana muridku, kisah ayah mu akan terulang kembali" Kakek guru Zilong hanya tersenyum mendengar jerit kesakitan muridnya, teriakan pemuda itu seakan membuat hatinya gembira.
Dalam masa pemurnian darah biasanya memakan waktu 1 sampai 2 hari, kali ini waktu yang di butuhkan pemuda ini lebih lama bahkan 4 hari sudah terlewati tapi belum juga menunjukkan pemurnian darah selesai. Ini berdampak penyiksaan yang di rasakan Pemuda tersebut lebih lama, tapi sebuah keuntungan jika berhasil pemuda ini akan memiliki daya tahan tubuh yang kuat.
7 hari telah berlalu, akhirnya pemurnian darah pun selesai.
"Dasar kakek guru sialan melihat muridnya tersiksa malah tertawa" Gerutu Zilong yang terbaring tak dapat bergerak dalam bejana atau kuali besar.
Plotok... Bunyi kepala Zilong kena jitak sang guru.
"Murid durhaka! Kenapa kau malah mengumpat gurumu! " Celoteh sang guru sambil menggendong sang murid. Kakek guru kemudian membaringkan Zilong dan menyalurkan tenaga dalam pada dewa muda ini.
Tak berapa lama Zilong sudah mampu bergerak kembali.
"Kakek guru, kenapa rasanya sakit sekali tahu seperti ini aku tidak akan mau melaksanakannya" Ucap Zilong sambil mengelus dadanya. Sang guru hanya tersenyum menyaksikan sang murid mengeluh.
"Dulu ayah mu juga mengeluhkan hal yang sama, dia orang hebat tapi sayang takdir berkehendak lain" Ucap kakek tua tersebut dengan nada sedih.
"Apa ayah ku juga murid kakek guru" Tanya Zilong dengan penasaran.
__ADS_1
"Benar ayah mu adalah murid yang jenius, lebih hebat dari mu" Ejek sang kakek guru sambil menjitak kepala Zilong.
"Ayo kita lanjutkan proses selanjutnya, kelak akan aku ceritakan tentang mendiang ayah mu" Ucap Kakek tersebut sambil membawa terbang Zilong menuju pagoda paling atas. Dimana tempat tersebut digunakan untuk penempaan tulang.
"Apa sesakit tadi kakek guru?" Tanya Zilong sedikit takut dan ragu-ragu menuju tempat tersebut.
"Kau ini, untuk jadi dewa yang hebat memang harus menderita dulu" Jawab jengkel kakek guru mendengar ocehan dari muridnya ini.
"Tapi kenapa tidak semua dewa seperti aku guru?" Protes Zilong pada sang guru yang tampak jengkel.
"Selesai semua baru aku akan cerita, cepat masuk! " Perintah tegas dari kakek guru tersebut.
Di bangunan paling atas pagoda tersebut tidak ada ruangan hanya pelataran datar, dimana tepat ditengah pelataran terdapat simbol hexagram yang rumit. Setelah Zilong masuk di tengah simbol tersebut sang guru langsung meletakkan batu Roh.
Tak selang berapa lama simbol tersebut nyala, kepanikan tampak jelas pada wajah pemuda ini.
"Zilong kau harus bertahan" Teriak sang guru memberi semangat pada pemuda tersebut. Tambah panik Zilong mendengar teriakan sang guru, dia merasa kali ini pasti akan lebih sakit dari sebelumnya.
"Aku harus keluar dari sini" Batin Zilong mencoba melompat keluar dari simbol hexagram tersebut.
Duar... Jedar... Petir tiba-tiba menyambar tubuhnya. Ternyata dia baru sadar bahwa simbol ini adalah pengundang petir yang di buat khusus untuk menempa tulang para dewa.
Jerit kesakitan terdengar lebih menyayat hati dari sebelumnya, petir menyambar tiap lekuk tubuhnya, semua tulang dan persendian terasa dilolosi, petir menyambar seakan-akan mengoyak tulang yang ada dalam tubuhnya.
Anehnya semakin lama petir ini menyambar dia merasa tulang dan persendiannya semakin kuat.
Tapi tak bisa dipungkiri sakitnya memang luar biasa.
__ADS_1