Dhitya Dengan Awan Birunya

Dhitya Dengan Awan Birunya
impian?


__ADS_3

Di pagi itu tampak awan yang berbeda dengan Awan lainnya, awan itu berwarna biru, lebih biru daripada awan lainnya dan ditemani oleh langit pagi hari yang cerah, sangat memanjakan mata bagi yang melihatnya.


Kicauan burung yang seakan-akan seperti manusia yang sedang bernyanyi diikuti dengan hembusan angin ibarat senandung merdu di telinga.


Keenam anak remaja tengah berbaring di antara rerumputan yang menari, sembari memejamkan mata menikmati pagi yang memanjakan diri.


”Apa impian kalian“ tanya Gunawan salah satu dari keenam remaja itu. Dia duduk diantara teman-teman yang berbaring. “Gw sih CEO” jawab rine bagian dari mereka. Kelima temannya terkejut akan kalimat yang rine lontarkan, mereka serentak mengucap “aamiin”.


Gunawan menengok kearah dhitya yang sedari tadi masih melihat kearah langit tanpa bergeming sedikitpun itu, kemudian Gunawan mengulangi pertanyaannya tadi, akan tetapi kali ini sasaran pertanyaannya hanyalah dhitya seorang “apa impian lo? “.


Dhitya memalingkan pandangannya. yang semula kearah langit, sekarang menuju Gunawan yang baru saja bertanya kepadanya. “Pengen peluk langit” jawaban dhitya membuat mereka tidak bergeming, berusaha mengolah kalimat yang dhitya lontarkan barusan.

__ADS_1


“Mana mungkin lu bisa meluk awan?, Gila ya?.” Rose menerobos keheningan diantara mereka dengan kalimat yang kesannya menghakimi.


“Apa salahnya? Apa hak Lo menghakimi impian orang?” Gunawan menyatakan ketidaksetujuannya, dia berdiri membuat semua temannya berdiri tanpa terkecuali.


“Santuyy, gak usah di bawa serius. Lagian omongan gw kan emang bener, coba pikir! Mana ada orang yang pengen peluk awan? Aneh!” Kalimat demi kalimat terus rose lontarkan tanpa dipikirkan terlebih dahulu apa konsekuensinya.


“Jaga omongan lu, rose!” Tegas dela.


“Noh kan, Dhitya jadi pergi. Lo sih, mulutnya gak pernah di jaga!” Dela menyalahkan rose atas apa yang terjadi.


“Loh kok? malah nyalahin gw?” Rose tidak setuju. kenapa dia yang disalahkan, pikirnya. Rose melanjutkan “gw kan cuma bercanda, gw kira gak bakalan dianggap serius. Lagian kan cowok paketnya logika bukan perasaan”

__ADS_1


“Lu kira cowok apa? Cowok juga punya hati, punya perasaan!” Timbal Dhika. Gunawan melihat dhitya pergi seraya termenung, ternyata pertanyaan yang sekecil itu akan berdampak besar pada pertemanannya.


“Maaf” Kata yang diucapkan rose tersebut menjadi penutup pertemuan mereka kali ini, mereka pulang ke rumahnya masing-masing, meninggalkan rine yang masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Rine hanya bisa diam memandangi raga itu akan dibawa pergi kemana oleh sang pemiliknya. Langkah yang berat, punggung yang seakan terlihat seperti menanggung beban yang begitu berat, semua itu terlihat oleh pandangannya kala itu.


entah kenapa badannya terasa sangat berat, sangat sulit untuk digerakkan. padahal dia ingin sekali mengejar dhitya yang sekarang kian menjauh dari pendanaannya. menjauh, menjauh dan semakin menjauh sampai dirinya tak lagi melihat dhitya.


setelahnya rine memutuskan untuk pergi dari tempat untuk pulang kerumahnya, dia berjalan Seraya termenung dalam pikirannya, memikirkan itu semua membuat dadanya terasa sesak. dirinya ingin mengejar kemana arah dhitya pergi, namun rine berpikir untuk kedua kalinya 'apa gw berhak ikut campur urusan pribadi dia? emang gw siapanya?' pikirnya saat itu .


“Padahal itu semua terlihat sangat jelas, tapi mengapa lu selalu aja bersikap ceria di hadapan kami.” Rine bergumam, tak sadar cairan bening turun membasahi pipinya.

__ADS_1


__ADS_2