
"rine" panggil Dhika yang berdiri dihadapan rine yang sedang duduk di tangga, Dhika sengaja menyusulnya karena khawatir pada rine karena sedari tadi di kelas, rine hanya melamun saja melihat kearah hujan turun di luar jendela dan sedari tadi tidak kembali ke kelas. "hah? apa?" tanya rine mendongak melihat dhika, wajahnya terlihat sedang merasakan kebahagiaan? ntahlah. "kenapa Lo ngomong sendiri?" pertanyaan Dhika membuat rine terdiam.
aku tidak mengerti apa yang dia maksud, jelas-jelas disampingku ada dhitya yang terus menerus memandangiku dengan senyum hangat diwajahnya. itulah yang rine pikirkan sekarang, rine menatap pada Dhika. "Lo gak liat di samping gw ada dhitya?" tanya rine membuat wajah Dhika berubah menjadi khawatir.
"rine, gw tau Lo se-sayang itu sama Dhitya. tapi gak harus sampe gini juga rine!" Dhika dengan reflek memeluk rine karena rasa khawatirnya. rine sedikit mendorong Dhika agar dia melepaskan pelukannya, kemudian rine melihat kearah keberadaan dhitya tadi, membuatnya terduduk lemas.
"dhitya kemana? kok gak ada? perasaan tadi dia duduk di sini sama gw, tapi kenapa dia ilang?" ucap rine tanpa sadar, dhika menarik rine untuk pergi ke uks. Dhika harap, rine dapat menenangkan pikirannya disana dengan beristirahat.
rine berbaring di atas tempat tidur. "lu disini aja dulu, gw mau ke kantin. Lo mau nitip apa?" tawar Dhika pada rine. "mau kopi" jawab rine yang masih terus memejamkan matanya. Dhika menghela nafasnya "makanannya?" tanyanya lagi, kali ini dhika hanya mendapat tolakan dari gelengan kepala rine, setelahnya dhika pergi ke kantin.
__ADS_1
rine mengambil nafas dalam-dalam, perasaannya sakit? hancur? takut? entahlah perasaannya campur aduk, dia pun tidak tau bagaimana perasaannya sekarang.
beberapa menit berlalu, Dhika telah kembali ke ruang UKS setelah pergi ke kantin untuk membeli beberapa minuman dan makanan. "nih kopinya, anget ya jangan yang dingin dulu" Dhika mengasongkan satu gelas kopi panas kepada rine, dan hanya dijawab oleh anggukan.
"makasih" ucap rine dengan perlahan entah terdengar oleh Dhika atau tidak dia merasa tidak peduli "yooi" jawab Dhika membuat rine merasa plong sebab Dhika mendengar ucapan terimakasih darinya.
"Dhika, kalo dhityaa mat......" belum sempat rine menyelesaikan ucapannya, Dhika langsung menutup mulut rine dengan tangannya seolah-olah dia tau kalimat apa yang akan rine keluaran dari Mulutnya itu.
"sutttt gak boleh gitu" ucap Dhika seraya menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum kemudian berucap "gw yakin, dhitya baik-baik aja. jadii lu tenang aja ya!" setelah mendengar kalimat itu, rine pun tersenyum.
__ADS_1
terdengar suara ketukan pintu 3 kali secara berurutan "masuk" setelah ibu UKS memerintah, pintu pun terbuka dan memperlihatkan 1 orang siswa dan 2 orang siswa siapa lagi kalau bukan Gunawan, rose, dan dela.
mereka bertiga berjalan menghampiri rine setelah mengucap permisi kepada ibu UKS. "rine, maaf soal yang waktu itu, maaf gw dibutakan cinta" ucap dela dan rose secara bersamaan, entah bagaimana cara mereka mengucapkan kalimat yang sama secara bersama-sama.
rine tersenyum mendengar permintaan maaf itu, rose dan dela hanya menunduk merasa malu "iya, gw ngerti kok" jawaban itu berhasil mengalihkan pandangan rose dan dela menatap rine dengan senyum bahagianya.
"gimana? udah enakan?" tanya Gunawan, rine menyeriyitkan alisnya "hah? sejak kapan gw sakit?" jawaban yang dilontarkan oleh rine membuat tiga orang yang baru masuk kamar itu bingung "lah kata Dhika, lu sakit".
"kalo gak gitu, kalian gak bakal datang." Dhika tersenyum kepada mereka berempat.
__ADS_1