
RINE POV
semenjak saat itu, dhitya tidak lagi terlihat di hadapanku. apakah dia berfikir bahwa semua itu salahnya? kalau iya bagaimana? oh my God.
aku mengambil tas sekolahku, walaupun hidup ini bajingan tapi aku harus tetap menjalaninya. jika tidak, akan menjadi lebih bajingan saat aku tidak menjalaninya.
diluar sana, seorang pria paruh baya menungguku diatas motornya "cepet! nanti telat loh kak!" ya, dia ayahku. bisa disebut sang superhero.
akan tetapi aku kurang suka dengan cara berfikir ayahku yang beranggapan bahwa uang adalah segalanya, sampai-sampai dia tidak mempunyai waktu untuk keluarga.
mengapa dia selalu saja buru-buru seperti itu? apakah pekerjaan lebih penting baginya dibandingkan keselamatan? entahlah.
setelah bersalaman dengan ibu, aku serta ayahku berangkat menuju tujuan. setelah mengantarku, kemudian ayah pergi untuk berangkat ke tempat kerjanya.
__ADS_1
"oy dhikaa!" aku melihat remaja laki-laki yang tak asing bagiku. siapa dia? pikirku sejenak. Dhika mengalihkan pandangannya kepadaku yang berlari menghampirinya. lalu dia berucap "tumben dianterin ayah" dengan pernyataan itu saja menjelaskan bahwa ayahku jarang sekali mengantarkan anaknya ini ke sekolah.
"itu karna dia masuk lebih lambat dari gw" Dhika menatap nanar kearahku. "tapi, lu gak benci dia kan?" tanya Dhika memastikan.
"gak lah! gila aja gw benci sama ortu sendiri, mau gimanapun dia tetep ayah gw" aku tersenyum seraya menatap wajah Dhika yang juga ikut lega mendengar jawaban yang ku lontarkan. "syukurlah kalo gitu" Dhika pun ikut tersenyum.
...............
"ada yang tau dhitya kemana?" tanya pak guru pada kami, tidak ada satupun yang menjawab tentang keberadaan dhitya. bahkan aku yang dinyatakan orang paling dekat dengannya pun tidak mengetahui keberadaannya.
tiba-tiba hujan turun dengan jelasnya, jendela yang terbuka serentak ditutup rapat-rapat oleh orang-orang yang dekat dengan jendela tersebut. sebelum sempat ku tutup jendela ini, angin menerobos masuk kedalam ruangan, sejuk sekali rasanya.
"rine, tolong tutup jendelanya!" teman sebangku ku meminta tolong kepadaku untuk menutup jendela itu, kelihatannya dia tidak suka dengan alergi dingin?.
__ADS_1
aku menghela nafas berkali-kali, memikirkan kemana sahabat kecilnya itu pergi? mengapa dia tidak mengabariku? awas aja kalo ketemu bakalan ku hajar kau dhit!!
hujan semakin deras di luar sana, guru tanpa hentinya berucap ratusan kata demi mengajar kami. "hatiku merasa tidak tenang, sebenarnya apa yang terjadi? ah sial" aku terus menggerutu karena hati ini memang terasa sangat khawatir?mungkin?.
aku berdiri dari dudukku dan mengangkat satu tangan. "maaf pak saya izin ke toilet" ucapku kepada guru yang tengah mengajar dikelas, oh ayolah alasan ini sudah biasa dipakai oleh murid untuk pergi dari kelas yang sumpek.
aku menyelusuri lorong, menaiki tangga untuk mencapai ke atas gedung sekolah, disanalah biasanya dhitya berada. tapi sekarang, tapi apakah dia sekarang berada disana?. hei ayolah itu kan bisa jadi, walaupun kemungkinannya 0,1%. itulah suara-suara yang bermunculan di kepala rine saat membuka pintu atap sekolahnya.
rine membuka pintunya, "ah sial, aku lupa kalau hari ini hujan" aku bergegas menutup pintunya dan berbalik badan. aku mengusap-usap bagian tubuhku yang terkena semprotan air hujan tapi aku merasa ada yang janggal di depan mataku. aku melihat ke depan dan apa ini? baju? siapa dia?.
aku melihat kearah wajah laki-laki yang mengukungku, kedua tangannya berada di pintu atap diantara kepalaku. "shuttt ngomongnya!" aku seketika tersadar saat orang itu mulai berbicara. "dhitya? lu kemana aja?" memukul dada dhitya. "awww cakitttt" ledek dhitya padaku. "apaan sih, geuleuh tau" rasa lega yang kurasakan seketika muncul setelah dhitya mendatangiku dengan sendirinya.
"lu kemana aja dhit?" tanya ku, dhitya duduk di tangga kemudian aku pun mengikutinya. "hmm? gw? gw selalu ada di sini kok, lu nya aja yang gak pernah sadar" ucapannya membuatku bingung tapi, aku senang dia menampakkan batang hidungnya lagi dihadapan ku.
__ADS_1