Dhitya Dengan Awan Birunya

Dhitya Dengan Awan Birunya
sesuatu yang terpendam


__ADS_3

dhitya memasuki pekarangan rumahnya. suasana berubah seketika dia membuka pintu, suasana yang sangat dia benci sedari kecil. kegaduhan dimana-mana, pecahan serta benda-benda berjatuhan mengiringi perdebatan di antara kedua insan yang sedang beradu mulut itu.


dhitya melewati serpihan kaca yang berserakan di lantai rumahnya untuk menuju ke kamarnya, dia memasuki kamar lalu bergegas mengunci pintu kamarnya tersebut.


dhitya mencari keberadaan earphonenya, karena dengan mendengarkan lagu, pikirannya akan menjadi tenang. dia memasangkan earphone tersebut ke lubang telinganya, sangat pas.


dhitya berbaring di atas kasurnya, memejamkan matanya sembari menikmati alunan musik yang dikeluarkan oleh earphone yang dia kenakan itu.


sementara itu diluar ruangan.....


"APA GW BILANG! LO ITU GAK BECUS NGURUS ANAK!!, SAMPAI-SAMPAI ANAK LO JADI KAYA GITU, TIDAK BECUS DALAM SEGALA HAL!!." bentak pria paruh baya dengan nada tinggi kepada istrinya. suara dengan bernada tinggi, tanpa mementingkan perasaan istri serta anaknya.


"DIA BERHAK MEMILIH JALANNYA SENDIRI, KENAPA LO PERMASALAHKAN?. YANG SEHARUSNYA MENJADI CONTOH DAN MENDIDIK ANAK ITU YAA ELU, BAPAKNYA!" timpal wanita paruh baya dengan keras, menggunakan suara yang sekarang serak.

__ADS_1


"BERANI-BERANINYA KAU BERBICARA SEPERTI ITU KEPADA SUAMIMU!!" karena sudah kelewat kesal, tangannya melambung tinggi kemudian ia hempaskan tepat di pipi istrinya.


air mata yang sudah tidak terbendung lagi pun perlahan-lahan membasahi pipi memar wanita paruh baya tersebut. pria paruh baya pergi tanpa rasa bersalah meninggalkan istrinya yang terduduk lemah di lantai.


hatinya hancur, begitu hancur. bagaimana dia bisa salah pilih pendamping hidup? apa salahnya sehingga mendapatkan pendamping hidup yang tidak bertanggung jawab seperti suaminya saat ini?


dhitya keluar kamar kemudian menghampiri ibunya yang masih terduduk dengan menundukkan kepalanya, dia memeluk erat ibunya, yang kemudian dibalas pelukan yang tak kalah eratnya. dhitya bersama ibunya menangis di pelukan erat yang mereka buat saat itu.


"dhit, semoga kau bisa menjadi lelaki yang bisa menghargai wanita yang kau pilih sebagai pendamping hidupmu, nak" pesan wanita paruh baya dengan nada kusut.


...............


karena perasaannya yang sumpek, akhirnya dhitya memutuskan untuk mencari udara segar di luar. dia berjalan menuju sebuah saung di tengah sawah, dilihatnya ada seorang perempuan yang sangat dia kenal. perempuan itu mengalihkan pandangannya ke pada dhitya, kemudian mulai melambai.

__ADS_1


dhitya ikut membalas lambaian tangan rine. "tumben kesini, kenapa?" tanya rine setelah dhitya sampai dan membaringkan tubuhnya di alas saung tersebut. "engga" dhitya memejamkan matanya.


rine menghela nafas setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut sahabatnya itu, "semua orang punya masalah dhit!, tapi jangan sampai masalah itu terus-terusan lu Pendem sendiri!. kalo butuh temen cerita sini ke gw, atau ke yang lain juga bisa. gw juga sering kan curhat ke elo" rine menatap dhitya dengan sendu.


dhitya tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan rine. "kau memang baik rine, makasih udah ngertiin gw selama ini. pasti jodoh lu bakal beruntung punya istri yang perhatian kaya lo"


"kenapa tiba-tiba ngomong ke sana?" timpal rine, 'apa ini? mengapa mendadak dia berbicara tentang jodoh? apakah aku salah bicara?' pikirnya saat itu.


"enggak, btw besok ada waktu luang gak?" dhitya mengalihkan pembicaraan. "kayaknya ada deh" rine merasa ada yang aneh dengan sifat dhitya yang selalu saja mendadak mengajaknya pergi untuk berlibur.


"ke pantai yuk, gw mau liat sunset." dhitya beranjak dari tidurnya, duduk di samping rine lalu menatap rine dengan mata yang berbinar.


"hayu" jawab rine, tak ada keraguan sedikitpun di dalam jawabannya.

__ADS_1


"ajak yang lain?" tanya rine untuk memastikan.


"tidak usah, hanya kita ber dua" jawab dhitya tersenyum sehingga membuat matanya tidak terbenam "lucu" gumam rine


__ADS_2