
sesuai janji kemarin, dhitya mengajak rine untuk pergi melihat sunset di pantai terdekat di daerah mereka. dhitya menjemput rine dengan motor birunya.
"hati-hati, jangan ngebut ngebut ya dhit! saya titip rine" ucap wanita paruh baya menghampiri mereka dengan membawa sekotak makanan yang kemudian diberikannya kepada rine.
"baik tante" dhitya mengangguk mengiyakan. "kalau begitu kita pamit ya mah" rine bersalaman dengan mamahnya sebelum dia menaiki motor biru sahabatnya itu.
setelah berpamitan, mereka pun langsung berangkat dikarenakan takutnya kemalaman. rine terus memandangi sekitar, rumah-rumah, pesawahan disertai hembusan angin yang terus-menerus menerpa sekujur tubuh mereka yang terbalut oleh kain pakaian, menjadi penenang.
"mau dengerin lagu gak?" tanya rine seraya mengetuk helm yang dikenakan oleh dhitya. "boleh" mendengar jawaban dari dhitya, dengan segera rine mengasongkan sebelah earphone kepada dhitya dan sebelahnya lagi dia pakai di telinganya.
lagu yang mereka putar adalah lagu kesukaan mereka sejak kecil. sang penyanyi di dalam lagu mulai bernyanyi.
Ku bahagia
Kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada
Di antara miliaran manusia
Dan ku bisa
Dengan radarku
__ADS_1
Menemukanmu
Tiada lagi yang mampu berdiri
Halangi rasaku, cintaku padamu
tanpa disadari lisan itu mulai bernyanyi mengikuti suara sang penyanyi.
...----------------...
satu jam telah berlalu, akhirnya mereka sampai dengan selamat di tempat tujuan, yaitu pantai.
dhitya memarkirkan motor birunya di tempat parkir .
hampir semua restoran di sana menyediakan makanan laut, karena memang dipinggir pantai. rine dan Dhitya memasuki salah satu dari puluhan restoran di sana. kemudian mereka memesan dua porsi makanan, itu semua sudah cukup bahkan lebih cukup bagi mereka.
karena bagi mereka berkumpul adalah nomor satu, yang lain belakangan.
......................
tak terasa waktu sudah menunjukkan jam lima siang, waktu sunset sebentar lagi akan segera tiba. sembari menunggu waktu sunset, mereka berdua mencari kerang dipinggiran pantai.
dengan sikap usilnya, dhitya melempar buntalan bola pasir ke arah rine. "apa maksudnya?" rine membalas perbuatan dhitya kepadanya tetapi lemparan tersebut tidak mengenai dhitya yang menjadi sasarannya, dikarenakan dhitya menghindar.
__ADS_1
dhitya terus berlari dengan diiringi tawanya yang renyah, "yaahhh kasihann gak kena" dhitya menggoda rine dengan menjulurkan lidahnya. rine yang terlanjur kesal pun terus mengejar dhitya sampai ngos-ngosan. "udah dhit, gw capek" rine terduduk di atas pasir.
dhitya tersenyum kemudian ikut duduk di pinggir rine, memberikan sebotol air putih kepada rine yang dia taruh di dalam saku jaketnya.
"udaranya enak banget" rine menghirup panjang-panjang udara pantai pada sore hari saat itu. "bentar lagi mataharinya tenggelam, ada satu hal yang bakalan gw omongin ke elu" dhitya menatap tajam kearah rine yang menyeriyitkan alisnya bingung.
matahari mulai menemui ujung pantai dari penglihatan mereka. langit-langit disekitar pun mulai berubah menjadi jingga, desiran ombak yang sedari tadi terus mengguyur pasir di pesisir. Angin sore berhembus menerpa mereka berdua, burung-burung yang berterbangan di langit.
"indah" ucap rine yang terpesona akan pemandangan sore itu di pantai. dhitya beranjak dari duduknya, menjulurkan tangan agar bisa digapai oleh rine.
rine mengerti apa yang dimaksud oleh dhitya. rine menerima juluran tangan itu dengan senang hati, ditariknya tangan rine untuk membantunya bangun. kedua mata itu saling menatap satu sama lain, kedua tangan yang bertaut. "jadi, apa yang mau di omongin?" tanya rine.
dhitya menarik tubuh itu kedalam dekapannya, dia menangis tanpa suara, ah lemah sekali diri ini pikirnya saat itu. rine mendonggakan kepalanya untuk melihat kondisi dhitya yang membuatnya khawatir karena tidak bisanya dia seperti ini.
rine menggenggam pipi sahabatnya itu, mengusap air yang terus mengalir di pipi tirus sahabatnya.
"noh kan elu ada masalah, kenapa gak cerita coba? kita kan udah temenan dari kecil, dhit!" rine paham apa yang dibutuhkan sahabatnya sekarang, dia memeluk erat tubuh itu, mengelus serta menepuk-nepuk punggung agar membuat sahabatnya tenang.
"gw pengen pulkam, rine" dhitya melepas pelukannya kemudian kembali duduk di atas pasir, diikuti oleh rine yang juga duduk di samping dhitya. "pulkam kemana? semua kaluarga Lo ada di lingkungan situ semua." jawab rine menatap dhitya, yang menatap lurus kearah langit
"entahlah" dhitya tersenyum, membuat perasaan rine aneh, 'kenapa dia suka ngomong ngelantur' pikir rine yang terus memandangi dhitya yang sekarang juga memandangnya.
"kalo gw udah gak ada, lu harus lupain gw ya rine" kalimat itu membuat rine diam membisu. "heh kalo ngomong jangan sembarangan!" timpal rine seraya memukul punggung dhitya yang terkekeh karena jawaban dari rine. "ketawa Lo?, gak lucu goblok!" rine menoyor kepala dhitya.
__ADS_1