
semenjak hari itu rine merasa sifat dan perilaku dela, dan rose berbeda. iya sejak saat dhitya dan rine pergi untuk melihat sunset. apa mereka cemburu? pikir rine.
rine duduk di kursi balkon rumahnya, memandang lurus. dia kembali tenggelam didalam pikirannya, memikirkan sifat temannya yang mendadak berubah.
angin terus berhembus diiringi senandung musik yang dikeluarkan oleh DVD player miliknya. "kenapa? gw bahkan gak ngerti, kenapa sifat dia mendadak berubah gitu? aneh" rine meneguk secangkir teh yang telah dia buatnya tadi.
*tring
dering hp tanda bahwa ada seseorang dari sebrang sana yang mengirim pesan kepadanya, dia membuka pesan tersebut. tertera nama diatasnya 'dhitya', "rine, sini woi. lagi pada kumpul" ucap dhitya yang digambarkan menggunakan rangkaian tulisan.
setelah membaca pesan yang dikirim oleh dhitya, rine bersiap untuk pergi ke tempat biasa mereka kumpul. dia berangkat menggunakan sepeda kesayangannya, sepeda yang dia beli dengan usaha serta kerja kerasnya sendiri.
__ADS_1
rine menghampiri temannya yang selalu saja terbaring diatas rerumputan yang menari. rose serta dela menyadari kehadiran rine. sorot mata itu, sorot mata yang sangat tidak disukai oleh rine. rine hanya bisa membalasnya dengan senyuman.
"tau dari mana?" tanya rose dengan sarkas.
rine terkejut atas pertanyaan yang dilontarkan rose padanya. yang membuatnya tak kalah terkejut adalah pernyataan yang dikeluarkan oleh Dhika "loh? bukannya lu gak bisa datang ya?".
"kapan gw ngomong gitu?" tanya rine kembali kepada Dhika. "gak tau, gw denger dari dela" setelah mendengarnya, sorot mata rine mengarah kepada dela dengan arti meminta penjelasan, apa maksudnya ini?.
"kalau kalian berdua suka sama Dhitya, terus merasa tersaingi oleh gw. tapi kenapa kalian terus aja barengan dan tidak tersaingi satu sama lain? padahal kalian sendiri gak bakal tau jodohnya siapa" tanpa memberikan kesempatan kepada dela dan rose untuk menjawab pertanyaannya, rine dengan perasaan kesal terus menerus berbicara sampai rasanya pita suara itu akan rusak.
"AHAHAHAHAHAHA BODOH!" kalimat itu mengakhiri pertemuan mereka kali ini, rine pergi dengan rasa marah yang berkoar-koar. dhitya yang mengerti perasaan sahabat kecilnya itu langsung pergi, berlari berusaha mengejar rine yang kian menjauh dari pandangannya.
__ADS_1
****************
dhitya menghampiri rine yang sedang duduk dibawah pohon rindang yang sedang diterpa oleh angin sepoi-sepoi, rambutnya yang selalu indah dimatanya ketika terbawa angin.
dhitya duduk di samping rine kemudian berucap "maaf ini semua salah gw, harusnya gw gak ngajak elu liat sunset, Rin" rine mengalihkan pandangannya, menatap dhitya yang terduduk disampingnya.
rine tersenyum, hal itulah yang membuat dhitya bahagia. "ini bukan salah Lo, dhit. berkat Lo, gw jadi tau kebusukan mereka" ucap rine demi menenangkan sahabatnya.
"semua ini salah gw, apapun yang gw lakuin. entah itu benar atau enggak, semuanya akan berdampak buruk, dan sekarang elu yang ngerasain akibat dari perbuatan gw Rine. sebenernya gw gak mau nyakitin elu" ucap dhitya dalam hati.
rine menatap tajam kearah dhitya seakan-akan mengetahui apa yang dipikirkan oleh sahabatnya itu. "lu jangan berpikir bahwa ini semua salah lu, lu gak salah dhit, lu gak salah. mereka aja yang gila akan perasaan tanpa mengetahui perasaan orang yang disakiti" rine menggenggam tangan yang lebih besar darinya itu dengan dua tangan miliknya. dia menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1