DI BALIK SENYUM

DI BALIK SENYUM
BAB 1


__ADS_3

Dua wajah akan selalu nampak dalam diri masing-masing. Kepalsuan terkadang mendatangkan hal wajar untuk menyembunyikan sesuatu. Kadang luka, kecewa, pedih sampai air mata harus ditutupi rapat-rapat untuk tidak mendatangkan permasalahan lain. Hal tersebut lebih baik tidak ditampakan untuk terlihat baik-baik saja. Namun, nyatanya tidak semua itu selalu mendatangkan kebaikan juga, tapi sebaliknya malah menghadirkan luka lain yang terkadang lebih menyakitkan. Air mata mengalir sebagai bentuk kepedihan.


Alfera Ayudia, tidak menyangka jika pernikahannya akan dihinggapi linangan air mata.


Awalnya ia jatuh cinta pada seorang pemuda bernama Reyhan. Alfera pikir jika dirinya akan bersanding dengannya. Namun, ternyata takdir Tuhan tidak ada yang tahu. Saat bertemu dengan Reyhan, ia tidak sengaja malah berkenalan dengan sahabatnya, Haikal Ardiansyah.


Mereka berkenalan cukup lama hingga pada akhirnya benih-benih cinta pun tumbuh membuat Alfera dan Haikal memutuskan untuk ke jenjang pernikahan. Alfera melihat kesungguhan yang Haikal layangkan, bagaimana ia selalu mengantar jemputnya kala menempuh pendidikan. Alfera berpikir jika Haikal seorang yang bertanggungjawab, baik dan bisa diandalkan.


Waktu terus berlalu dan hari pernikahan pun tiba. Tunas baru yang kembali tumbuh membuat kebahagiaan lain bermekaran. Namun, tidak ada yang tahu jika sebelum pernikahan tersebut hadir dari keluarga kedua belah pihak sama-sama tidak setuju. Entah ada apa, Alfera tidak mengerti. Tetapi, karena cinta keduanya begitu besar mereka pada akhirnya bisa duduk di pelaminan bersama.


Senyum kebahagiaan hadir mengiringi sejarah baru yang terukir dalam kehiduapan seorang Alfera.


"Ya Tuhan akhirnya aku menikah," benaknya dengan penuh kebahagiaan dalam dada kala kata sah terucap. Kini ia sudah resmi sebagai seorang istri.


Binar suka cita hadir di wajah masing-masing mempelai. Lega sudah status sebagai suami istri disandang keduanya. Beban berat yang sebelumnya ditanggung hancur seketika dengan kesenangan yang tiada tara. Karena mereka bisa melewati rintangan besar untuk bersama. Waktu pun akhirnya membelit mereka dalam ikatan suci pernikahan.


Di tengah-tengah kebahagiaan yang bergelora, sayup-sayup perkataan tamu melunturkan bulan sabit sempurna di bibir ranum Alfera. Kedua iris besarnya semakin membola tidak percaya kala mendengar jika acara pernikahan yang tengah digelarnya seperti pemakaman.


"Acara pemakaman? Apa yang mereka bicarakan? Apa karena acaranya tidak terlalu ramai?" benak Alfera terdiam dalam lamunan.


Keramian yang terjadi di sekitar menjadi backsound akan ketidakpercayaan. Harusnya hari pernikahan menjadi momen bahagia tak terlupakan bagi sang pengantin, keluarga serta tamu yang datang. Namun, karena ucapan tadi menjadikan Alfera gamang.

__ADS_1


Rasanya terlalu sakit jika terus memikirkan hal tersebut terlalu dalam, Alfera mencoba melupakan dan bersikap tidak ada yang terjadi. Ia pun kembali menampilkan senyum kala satu persatu tamu undangan memberikan selamat.


...***...


Perjalanan rumah tangganya bersama Haikal berlalu dengan cepat. Banyak kenangan yang sudah mereka lewati bersama dalam memori berkasih. Asam, manis kehidupan baru sebagai pasangan suami istri pun dilalui bersama.


Setelah menikah, Alfera tinggal bersama Haikal dan ibu mertuanya dalam satu atap. Awalnya mereka hidup bersama baik-baik saja tanpa ada kendala apa pun. Alfera sudah menganggap sang ibu mertua seperti ibu kandungnya sendiri. Karena ia percaya kasih sayang seorang ibu akan sama. Terlebih ia sudah menikah dengan Haikal, yang otomatis ia menjadi putrinya juga. Namun, pada kenyataannya tidak seperti itu.


Semula keadaan mereka berjalan lancar, sampai Alfera mengandung. Sejak saat itu sifat asli sang ibu mertua terbuka seiring berjalannya waktu. Alfera hanya bisa tutup telinga kala semuanya berbanding terbalik dengan apa yang ia pikirkan diawal.


Malam itu langit terlihat sangat gelap tanpa penghias apa pun. Alfera memutuskan untuk berbaring seraya menunggu sang suami yang tengah berada di kamar mandi. Tiba-tiba saja selintas pikiran membuat ia kembali bangkit dan duduk di tempat tidur. Bola matanya bergulir melihat benda pintar Haikal tergeletak di atas nakas. Rasa penasaran yang terus membuncah membuat ia mengulurkan tangan dan membawa ponsel sang suami.


Banyak pesan masuk dari sang ibu mertua, Intan di sana. Ibu jari Alfera menari di atas layar hingga tatapannya jatuh ke salah satu pesan yang menarik perhatian.


"Haikal, jika kamu mempunyai uang dan mendapatkan gaji jangan semua diberikan pada Alfera. Istrimu itu kerjanya apa? Hanya ongkang-ongkang kaki sajakan di rumah? Kamu yang bekerja keras."


Alfera tercengang kala pesan tersebut menusuk ke dasar hati terdalam. Ia mematung di dalam kamar memikirkan pesan yang dikirim tadi siang.


"Bukankah itu sudah sewajarnya? Sekarang aku istrinya, kan? Kenapa mamah seperti itu?" gumam Alfera tidak mengerti.


Tidak lama berselang, kala Haikal baru selesai membersihkan diri dikejutkan dengan kedatangan sang ibu. Mereka berbincang-bincang bersama membuat Alfera yang masih terjaga kembali terkejut mendengar penuturan sang ibu mertua lagi.

__ADS_1


Bak petir menyambar di siang bolong, kata-kata yang diucapkan Intan seperti anak panah tepat mengenai sasaran. Luka lain tumbuh dalam hati mengantarkan air mata mengalir tak tertahankan.


Sekuat tenaga Alfera menahan sesak dalam dada dengan mengepalkan kedua tangan. Ia kembali tidak menyangka sang ibu mertua bisa berkata,


"Haikal, kenapa kamu harus menikah dengan Alfera? Padahal masih banyak wanita di luar sana. Kenapa kamu malah memilih dia?"


Dengan nada suara tenang nan heran kata-kata itu meluncur dari balik celah bibi ranum Intan. Tanpa rasa bersalah wanita paruh baya tersebut melipat tangan di depan dada.


"Apa maksud Mamah?" tanya Haikal tidak mengerti.


"Iya, kenapa kamu harus menikah dengan Alfera? Banyak wanita lain di luar sana yang lebih baik."


Seketika kata-kata yang terus berulang keluar dari mulut Intan menorehkan luka demi luka dalam diri Alfera. Ruang keluarga yang berdampingan dengan kamarnya membuat ia bisa dengan jelas mendengar perkataan mereka.


Tetes demi tetes air mata mengantarkan ketidakpercayaan dalam diri. Ibu mertua yang seharusnya menjadi ibu kedua ternyata menghadirkan luka teramat dalam.


Di keheningan malam hanya ada isak tangis yang teredam. Selama ini ia sudah berusaha untuk menjadi menantu yang baik bagi mertuaya. Namun, ternyata duri dalam rumah tangga telah menusuk dan mengeluarkan darah.


Bunga mawar tidak selamanya menyimpan keindahan. Bunga yang melambangkan cinta tersebut mengandung duri tajam di bawahnya. Sama seperti halnya dengan pernikahan, tidak selalu indah, terkadang menyimpan rasa sakit di dalamnya.


Sejarah telah terukir dalam kehidupan seorang Alfera bagaimana kehidupan rumah tangganya akan terus berubah. Manis hanya berada di awal dan setelahnya akan ada kerikil tajam yang menimbulkan luka.

__ADS_1


Ia harus kuat demi buah hati dan juga ada janji suci di hadapan Tuhan yang sudah terucap. Ia percaya jika suatu saat sang ibu mertua akan berubah.


Meskipun harus melalui air mata yang mengalir, menganak bagaikan sungai.


__ADS_2