
Setiap angan tak bertepi menimbulkan ilusi baru yang mengambang. Tidak ada yang salah dengan mempunyai harapan setinggi langit dan sedalam lautan. Karena menginginkan suatu kebahagiaan menjadi fitrah setiap insan yang perasa.
Bunga yang semula mekar dengan indah tidak selamanya menebar aroma menenangkan. Sejatinya akan terdapat luka tak kasat mata yang tersembunyi.
Liquid bening akan meluncur tak tertahankan setiap kali menemukan kepedihan. Setiap manusia pasti mempunyai cobaannya masing-masing. Allah tidak pernah salah memberikan ujian demi ujian bagi hamba-Nya. Karena Allah percaya hamba-Nya bisa melaui itu semua.
Karena Allah tidak mungkin memberikan ujian dan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.
Waktu akan terus berputar mengiringi setiap langkah kehidupan. Satu persatu anak tangga ditapaki guna mencapai suatu keberhasilan. Entah itu usaha yang terus diperjuangkan ataupun kebahagiaan yang patut digenggam.
Sama seperti yang saat ini tengah Alfera alami. Ada sesuatu yang harus ia perjuangkan dan genggam. Namun, acap kali luka terus berdatangan yang tidak pernah ia duga. Kehadirannya bukan dari orang lain, ataupun orang asing. Melainkan dari sang mertua yang seiring berjalannya waktu memperlihatkan warna aslinya.
Luka pertama tumbuh menyadarkan ia jika harus lebih baik lagi.
Setelah malam itu Alfera berusaha menutupi kepedihan dengan bersikap baik-baik saja. Setiap saat ia akan menebar senyum seolah tidak ada yang terjadi.
Kehamilan pertama membuat ia harus ekstra sabar dalam menghadapi hormon yang terkadang terus berubah. Sebagai seorang istri, menantu dan calon ibu, Alfera berusaha sekuat tenaga memberikan yang terbaik.
Pagi kembali menjelang, langit berwarna biru terang dengan sang raja siang hadir menebar cahaya menyilaukan. Alfera sudah berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Senyum manis bertengger menemani perasaan terdalam.
Tidak lama berselang makanan pun selesai dibuat. Satu persatu anggota keluarga yang terdiri dari sang suami dan ibu mertua datang ke meja makan. Mereka bertiga duduk di kursi masing-masing menunggu Alfera melayani.
Setelah itu mereka menikmati sarapan dalam diam.
Tidak ada yang terjadi sampai beberapa menit, hingga Intan tersedak dan buru-buru meminum air putih di hadapannya. Alfera terkejut dan seketika firasat tidak mengenakan timbul dalam relung hati.
"Apa kamu sengaja mau membuat Ibu tersedak seperti ini? Masak nasi goreng saja tidak bisa, apa yang kamu masukan ke dalam sana?" Ucap Intan seraya mengusap bibirnya.
Alfera menggeleng beberapa kali sambil menatap ibu mertua dan suaminya bergantian.
"Tidak seperti itu Ibu. Aku memasukan bahan sewajarnya saja, tidak ada yang aneh," jawab Alfera jujur.
__ADS_1
Namun, sepertinya Intan tidak percaya dan beranjak dari sana tanpa menghabiskan makanannya. Alfera hanya bisa terdiam dan melihat kepergian sang mertua.
"Tidak usah dipikirkan, mungkin ibu hanya sedang sensitif saja." Ucap Haikal seraya mengusap punggung sang istri pelan.
Alfera hanya mengangguk lemah berusaha tegar untuk dirinya sendiri dan sang calon buah hati.
"A, nanti siang aku boleh ke rumah mamah? Rasanya sudah lama tidak pergi ke sana dan aku ingin mengatakan berita baik ini pada beliau."
Alfera menoleh mendapati suaminya tersenyum hangat lalu mengangguk mengiyakan.
...***...
Seperti yang sudah direncanakan, Alfera yang diantar oleh Haikal datang ke rumah sang ibu. Keadaan di sana terasa begitu tenang dan mendamaikan. Senyum seketika mengembang menimbulan lesung pipi timbul menambah kecantikan kala mendapati sang adik baru saja keluar dari rumah.
"Angga, kamu mau ke mana?" tanyanya penasaran setelah berpamitan pada Haikal yang berlalu untuk bekerja.
"Teteh? Ah, aku mau ke rumah teman sebentar." Jawab Angga seraya tersenyum simpul.
Setelah mengtakan itu Alfera pun melangkah masuk ke dalam rumah. Di sana ia melihat sang ibu yang tengah duduk seorang diri di ruang keluarga. Ia lalu berjalan masuk dan mengecup punggung tangan ibunya pelan.
Seketika kesedihan menyeruak saat rundung rindu menyeruak dalam dada. Alfera mengangkat kepala dan menatap langsung ke dalam manik Bintang, wanita yang sudah melahirkannya ke dunia.
"Mamah, sehat? Maaf Alfera baru datang sekarang." Ujarnya mengadu seraya duduk di samping sang ibu.
Lengkungan bulan sabit terpendar di bibir ranum Bintang sambil mengusap punggung putri tercintanya pelan.
"Alhamdulillah, Mamah sehat. Tidak apa-apa, Mamah mengerti kenapa kamu baru datang sekarang."
Alfera mengangguk serta mengulum senyum. Rasanya saat bersama sang ibu seperti ini kepedihan yang ia terima beberapa hari lalu meluap berganti dengan kebahagiaan. Sejak pernikahan ia baru kembali bertemu dengan Bintang hari ini. Selama itu mereka hanya berkomunikasi lewat ponsel semata.
"Alhamdulillah, Alfera senang mendengarnya. Oh yah, Alfera datang ke sini membawa kejutan yang luar biasa."
__ADS_1
Sang ibu melebarkan kedua mata bulannya seraya berbinar senang. Bintang menunggu tidak sabar apa yang hendak Alfera katakan selanjutnya.
"Apa itu, Sayang?"
"Aku hamil, Mah dan usia kandungannya sudah satu bulan lebih," jelas Alfera.
Bintang tidak kuasa menahan keharuan, seketika itu juga air mata kebahagiaan mengalir dengan merengkuh buah hatinya. Kehangatan seketika menjalar dalam dada membuat Alfera enggan untuk melepaskan. Bersama sang ibu ia bisa membagi perasaan meskipun tidak ada kata-kata tercekat dalam tenggorokan.
"MasyaAllah, Alhamdulillah, akhirnya Mamah akan menjadi seorang nenek," ucapnya antusias. Alfera mengangguk berkali-kali di balik punggung sang ibu.
Setelah itu mereka pun menikmati waktu bersama. Sama seperti hari-hari lalu keduanya saling bercanda dan membicarakan banyak hal. Diam-diam Bintang memperhatikan Alfera, ada sesuatu yang tengah disembunyikannya. Hal tersebut tersimpan apik dalam manik bulan di sana.
"Sayang, apa kamu bahagia?"
Pertanyaan yang keluar secara tiba-tiba dari sang ibu membuat Alfera menoleh perlahan dan melihat sorot mata serius. Ia mengangguk ragu kemudian tersenyum simpul.
"Kenapa Mamah bertanya seperti itu?" tanyanya balik.
"Tidak, hanya saja Mamah merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Apa ibu mertuamu berlaku baik?"
Mendengar pertanyaan terakhir membuat jantungnya berdegup kancang. Alfera mengalihkan pandangan dan berusaha bersikap baik-baik saja.
"I-ibu memperlakuakanku dengan baik, Mah," dustanya. Ia masih enggan untuk menceritakan hal sebenarnya, tidak mau membebani sang ibu.
"Syukurlah, Mamah senang mendengarnya."
Alfera mengangguk singkat dan menunduk dalam menyembunyikan rasa bersalah. Kedua tangan mengepal kuat menahan kegundahan dalam dada.
"Aku minta maaf, Mah. Aku belum bisa mengatakan yang sebenarnya, jika ibu mertua tidak memperlakukanku seperti itu. Malah sebaliknya, tapi aku tidak bisa membuat Mamah khawatir. Aku benar-benar minta maaf," monolognya dalam diam.
Hubungan seorang ibu dan anak lebih dekat dari apa pun. Ada naluri dan firasat kuat yang saling bersinggungan. Kepedihan sang anak terkadang sampai pada sang ibu. Karena keduanya memiliki batin yang saling terikat satu sama lain.
__ADS_1
Ibu sejatinya akan selalu ada dan mendukung apa pun yang dilakukan buah hatinya. Baik dan buruk seorang ibu akan tetap bersama anak-anaknya. Karena bagi ibu kebahagiaan sang malaikat kecil menjadi kebahagiaannya juga dan kesedihannya menjadi luka terdalam.