
Perjuangan akan terus berjalan sebagaimana mestinya. Di ujung sana masih terdapat mentari bersinar terang dalam gelapnya kehidupan. Bintang pun akan muncul di balik pekatnya malam. Kepalsuan dan kebohongan menjadi pelengkap jalan cerita.
Tidak apa masih berlinang air mata, tidak usah risau kehilangan senyum ceria. Karena di baliknya masih terdapat harapan yang melambung tinggi. Gantungan asha setinggi langit dan biarkan takdir serta usaha berbicara.
Sakit memang dan tidak mudah untuk bersabar. Namun, setelahnya Allah pasti memberikan kebaikan di dalamnya. Tidak ada yang salah dengan kejadian terus berulang, justru di sana terdapat hikmahnya.
Terkadang hujan mengukung kegembiraan dan melepaskan kesenangan. Tetapi setelahnya, pelangi akan hadir mengikis kepedihan.
Berat diawal, tapi belum tentu rumit diakhir.
Alfera tengah dilanda kebingungan dalam hidup. Episode yang terus berganti menjadikan diri terus bertanya-tanya. Ada apa gerangan yang terjadi? Begitulah sekelebat pertanyaan terus menguasai benak. Ia tidak menyangka pernikahannya harus dihinggapi dusta yang mendera.
Keberadaan sang mertua yang menunjukan jati diri membuat ia harus pintar-pintar dalam menyembunyikan sebuah senyum. Selalu saja ada topeng kepalsuan di wajah cantiknya untuk menutupi luka hati.
Seminggu kemudian sang suami, Haikal sudah mendapatkan kembali pekerjaan. Ia bersyukur, karena rumah tangganya berhasil diselamatkan.
"Haikal sudah tiga hari ini tidak pulang, kamu tahu ke mana dia? Bukankah pekerjaannya tidak sebanyak itu?" tanya Intan mendekati sang menantu yang tengah duduk di ruang keluarga bersama Bagas.
Alfera termenung mendengar pertanyaan beruntun dari ibu mertuanya. Ia tersenyum simpul pada Intan dan kembali memperhatikan Bagas dalam gendongan.
"A Haikal kerja, Bu. Katanya ada pekerjaan baru yang harus segera diselesaikan dan aa harus menginap di tempat kerjanya," jawab Alfera.
"Hmmm."
Intan mencoba memfokuskan diri menatap televisi. Keheningan tercipta untuk beberapa saat membuat atmosfer canggung menyeruak di sana. Ia pun mengajak Bagas bermain menghilangkan kekakuan.
"Tapi tadi malam Ibu mendapatkan kabar jika Haikal sebenarnya tidak pulang bukan karena adanya pekerjaan, tapi dia menginap di rumah seorang janda."
Mendengar penuturan tersebut Alfera mengangkat kepala lalu menoleh ke samping dengan mata melebar sempurna. Degup jantung berdetak kencang tidak percaya dengan apa yang baru saja ia ketahui. Lidahnya kelu melihat wajah tenang sang mertua yang juga membalas tatapannya.
__ADS_1
"Ria, kamu tahu wanita itu, kan? Haikal menginap di sana."
Kedua alis Alfera saling berpautan dengan darah berdesir hebat. Wanita bernama Ria sudah lama menjadi seorang janda, sosoknya yang terkenal tidak biasa membuat Alfera sedikit tidak menyukainya. Namun, kini lewat mulut mertuanya sendiri ia mendengar jika sang suami mengindap di sana.
Rasa kecewa dan tidak percaya mencoba menyeruak membuat kata-kata tercekat dalam tenggorokan. Sorot mata Intan seketika membuat kekesalan mendatangi diri.
"Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa terutama Haikal. Ibu mengatakan ini, karena kasihan saja, kamu kan tidak tahu bagaimana Haikal di luar."
Setelah mengatakan itu Intan dengan mudahnya tertawa ringan menonton acara komedi ditemani cemilan. Sedangkan Alfera perasaannya hancur tak menentu. Bak batu besar terjatuh di atas kepalanya rasa sakit datang menerjang.
...***...
Malam pun tiba, sedari tadi sore Alfera terus mengurung diri di kamar mencerna baik-baik perkataan Intan. Haikal, suaminya selama satu tahun benarkah sudah melakukan hal tersebut? Pertanyaan itu terus berputar membuat ia gamang.
Tidak lama berselang pintu dibuka seseorang. Sang suami menyembul masuk seraya melengkungkan bulan sabit sempurna. Alfera menatapnya dalam diam dan memperhatikan Haikal yang tengah meletakan tas kerja di nakas samping tempat tidur.
Rasa penasaran yang sudah tidak bisa dibendung membuat Alfera beranjak dari duduk dan berjalan mendekat.
Pertanyaan tersebut seketika membuat Haikal berbalik memandangi wajah serius sang istri. Dahi yang tertutup beberapa helai rambut itu mengerut dalam, tidak mengerti.
"Bukankah kamu sudah tahu jika aku menginap di tempat kerja?" tanya Haikal balik.
Alfera mengalihkan pandangan ke sembarang tempat seraya mengepal kedua tangan erat.
"Aku mendengar kamu menginap di rumah Ria? Apa itu benar?"
Ia pun kembali mendongak dengan tatapan menuntut jawaban yang sebenarnya. Haikal kembali tercengang menatap tidak percaya pada Alfera.
"Hah? Apa yang kamu bicarakan? Kata siapa aku menginap di rumah Ria?"
__ADS_1
"Kata ibu," balasnya singkat.
Haikal menghela napas berat dan mendudukan diri di tepi tempat tidur memandangi Bagas yang sudah terlelap.
"Kamu jangan percaya dengan perkataan yang tidak benar adanya. Aku tidak menginap di sana."
Seketika Alfera tersadar akan sesuatu dan perasaannya semakin bertambah runyam.
"Jadi, semua ini rencana ibu untuk membuat kami bertengkar?" racaunya dalam diam.
Setelah perdebatan singkat itu Alfera keluar kamar dan mendapati sang ibu mertua di depan pintu. Ia terkejut dan berusaha bersikap tenang kala sorot mata mengintimidasi datang padanya.
Intan melipat tangan di depan dada seraya berkata, "Sudah Ibu bilang jangan mengatakannya pada Haikal. Mana mungkin dia mau mengaku. Kamu memang ingin mendatangkan masalah, iyakan?"
Alfera semakin tidak mengerti dengan sikap sang ibu mertua.
"Apa maksud Ibu? Aku hanya ingin mendapatkan kebenarannya saja tidak ada maksud lain. Aku tidak mau rumah tanggaku hancur gara-gara kesalahpahaman."
Intan mendengus sebal lalu melangkahkan kaki dari hadapan menantunya. Alfera menghela napas melihat kepergian Intan. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa orang tua itu menginginkan rumah tangga anaknya hancur, karena sebuah kesalahpahaman? Alfera hanya bisa menggeleng akan maksud dalam tuduhan tak mendasar tersebut.
"Aku percaya jika tidak mungkin a Haikal bisa bertindak seperti itu. Apa ibu mau mengadu dombakan kami? Kenapa? Kenapa ibu ingin membuatku bertengkar dengan anaknya sendiri? Apa sampai saat ini beliau masih tidak bisa menerima pernikahan kami? Kenapa?"
Berbagai pertanyaan terus berputar tanpa ada jawaban yang didapatkan. Alfera kembali menitikan air mata kepedihan dengan apa yang baru saja terjadi.
Selalu saja ada kejutan baru dalam rumah tangganya. Namun, ia sadar bagaimana pun pernikahan tidak akan selamanya berjalan mulus. Pasti ada saja kerikil tajam yang bisa melukai dan menjadi bumbu dalam kisahnya.
Namun, ia tidak menyangka jika itu datang dari mertuanya sendiri. Ia bagaikan boneka tanpa nyawa kerap kali dimainkan oleh dalang untuk melakukan apa pun yang diinginkannya. Alfera juga punya hati dan perasaan yang ingin dihargai oleh seorang ibu mertua.
Ia ingin diterima sebagai seorang anak yang mencintai putranya. Tetapi, Intan masih belum memberikan tanda-tanda tesebut dan malah semakin menjadi.
__ADS_1
"Apa aku bisa bertahan? Apa di balik senyum ini akan selamanya ada air mata? Apa aku tidak bisa kembali tersenyum tulus lagi? Apa hanya akan ada kebohongan yang terus menerus? Aku lelah, tapi harus bertahan demi Bagas."
Perjuangan seorang ibu dan istri tengah dipertaruhkan. Alfera berusaha kuat untuk mempertahankan rumah tangga demi sang anak. Ia akan berusaha tampil baik-baik saja meskipun ada air mata yang tergenang. Semua ia lakukan untuk buah hatinya.