DI BALIK SENYUM

DI BALIK SENYUM
BAB 4


__ADS_3

Kembalikan lagi senyum manis yang pernah ia miliki di masa lalu. Senyum ikhlas nan tulus, tanpa ada kebohongan di baliknya pernah melingkupi kehidupan. Kini Lengkungan bulan sabit yang terpendar di celah bibir kemerahannya sudah tidak seperti dulu lagi. Sekarang menyimpan dusta hanya ia dan Tuhan yang tahu.


Semua itu tertahan akibat luka demi luka yang terus timbul tanpa persiapan. Kehadirannya tidak diharapkan dan datang begitu saja.


Luka nestapa merundung sembilu, menjadikan diri memiliki dua wajah.


Menyembunyikan sesuatu menyakitkan memang tidak mudah dan terkadang menimbulkan air mata tiada tara.


Di balik senyum, air mata tengah menunggu untuk ditumpahkan. Di balik senyum, luka tak kasat mata menorehkan kepedihan dalam dada. Di balik senyum, kebahagiaan palsu harus ditampakan. Di balik senyum, kata "aku baik-baik saja" meniti setiap hari dengan kepalsuan.


Senyum yang melengkung di kedua sudut bibir bukan pertanda kesenangan, melainkan menyimpan berbagai luka dan kepedihan.


Tidak ada yang tahu semua tersimpan rapat dalam dada, bagaimana rasa sakit itu tumbuh seiring berjalannya waktu.


Alfera pejuang tangguh yang mempertahankan kedamaian rumah tangga di balik kelakuan sang ibu mertua. Banyak kejadian tidak diharapkan terus berdatangan, menerpa dan menjadikan kepercayaan berbanding terbalik.


Ia pikir mertua yang seharusnya bisa menjadi ibu kedua tidak seperti bayangan. Masa-masa sebelum pernikahan hadir seperti apa perlakuan Intan terhadapnya. Ia kagum dan bersyukur bisa memiliki calon mertua seperi Intan. Namun, kenyataan menamparnya kuat untuk tetap sadar jika ibu mertua tidak sama layaknya ibu kandung.


Jam sudah menunjukan pukul setengah delapan pagi, sudah lima bulan berlalu sejak Alfera melahirkan Bagas. Selama itu pula ia menjalani setiap hari dengan kebohongan. Ia akan terus menampilkan senym palsu seolah semua baik-baik saja.


Ia tidak ingin membuat sang suami khawatir dan berakhir pertikaian dengan ibunya sendiri. Ia tidak mau hal tersebut sampai terjadi. Biarkanlah rasa sakit itu ia tanggung sendiri dan hanya mengadu pada Sang Ilahi Rabbi, berharap semuanya kembali ke awal. Di mana ia tidak tahu seperti apa tabiat ibu mertuanya.


"A, apa tidak ada pekerjaan lagi? Sudah berhari-hari kamu tidak bekerja." Ucap ALfera seraya menyodorkan segelas teh hangat untuk Haikal yang tengah duduk di pekarangan rumah.


Haikal menerima lalu menyesapnya singkat.


"Belum, ada panggilan lagi. Aku sudah menunggunya beberapa hari ini."


Alfera menghela napas pelan hanya pasrah dengan keadaan. Namun, ia ingat jika masa periodenya sudah hampir tiba. Ia lupa jika stok pembalut sudah habis.


"A, punya uang lima ratus tidak? Aku mau membeli pembalut masa periodeku sudah datang." Ucap Alfera sedikit merasa tidak enak.

__ADS_1


Kini giliran Haikal melebarkan pandangan lalu menatap sang istri dengan perlahan. Sorot mata teduh nan gemetar tertangkap pandangan. Alfera tidak kuasa membendung kesedihan kala mengerti dengan tatapan sang suami.


"Aku minta maaf. Bukannya aku tidak mau memberi uang, tapi kamu tahu sendiri bagaimana keadaan kita sekarang. Sudah dua minggu aku tidak bekerja, jadi uang pun tidak ada yang tersisa. Maaf." Sesal Haikal seraya menggenggam jari jemari sang istri.


Senyum terpedar di bibir kemerahan Alfera sambil menganggukan kepala membalas genggaman Haikal.


"Aku mengerti, Aa jangan minta maaf."


Haikal mengangguk singat masih dengan menatap ke dalam manik bulat Alfera.


"Bagaimana jika kamu meminta uang pada ibu? Mungkin beliau masih punya simpanan." Usul Haikal kemudian.


Alfera cengong dan menggeleng sekilas.


"Aku tidak berani, A. Aku malu jika harus minta pada ibu."


"Tidak usah malu, ibukan sudah menjadi ibumu juga. Jadi, tidak apa-apa. Ayo, biasanya di jam seperti ini ibu sedang menikmati teh hangat di ruang keluarga sambil menonton acara kesukaannya."


Kini ia dirundung gelisah, apa harus meminta uang untuk kebutuhan pribadinya? Namun, keadaannya tengah terdesak sekarang. Sang suami pun terus meyakinkan ia jika tidak apa-apa meminta uang kepada mertuanya.


"Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu."


Dengan berat hati Alfera kembali ke dalam rumah, Haikal mengangguk singkat dan melihat kepergian sang istri.


Setibanya di sana Alfera merasakan jantungnya berdegup kencang. Darah berdesir disekujur tubuh, keringat dingin bermunculan di pelipisnya. Dengan mengepalkan tangan kuat ia pun mendekat ke arah Intan.


"Bu," panggilnya pelan.


Intan yang mendengar hanya bergumam "hm," tanpa sekali pun melihat Alfera.


"A-alfera minta maaf, ta-tapi bisakah aku meminta uang lima ratus untuk membeli pem-balut?" Pinta Alfera takut-takut.

__ADS_1


Ia menunduk dalam tidak berani mengangkat kepalanya. Intan menoleh sekilas dan tanpa perasaan menyesap tehnya singkat seperti tidak menganggap Alfera ada.


"Ibu tidak punya uang, pakai kain saja. Jangan manja!"


Ucapan dengan nada dingin terdengar memilukan, Alfera mematung tidak tahu harus berbuat apa. Belum sempat ia menjawab dan pergi dari sana kedatangan Rahel mengejutkan. Gadis remaja tersebut mendatangi sang ibu dan duduk di sampingnya begitu saja.


"Mah, boleh minta uang tidak? Rahel mau jajan." Ucapnya dengan manja.


Dengan mudahnya Intan merogoh saku daster lalu mengeluarkan uang dan memberikannya pada Rahel.


"Jangan jajan sembarangan."


Rahel tersenyum lebar dan mengangguk singkat.


"Iya, Mah." Jawabnya dan berjalan melewati Alfera begitu saja.


Kembali petir menyambar di siang bolong. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Alfera melangkahkan kaki cepat ke dalam kamar. Ia duduk di tepi tempat tidur dan merenung apa yang baru saja terjadi.


Dadanya kembali terasa sakit, seolah ada tangan tak kasat mata mencengkramnya kuat. Tidak terasa air mata meluncur tak tertahankan. Ia menoleh ke samping di mana Bagas, bayi berusia lima bulan tengah tertidur pulas.


Ia menghapus air mata kasar lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Aku hanya meminta uang lima ratus perak, apa itu terlalu besar? Apa tidak pantas seorang menantu meminta uang pada mertuanya? Ya Allah kenapa ini sangat menyakitkan." Lirihnya menahan luka lain tumbuh dalam hati.


Alfera kembali menangis seorang diri. Ia tidak menyangka kejadian demi kejadian terus berdatangan tanpa henti. Permasalahan kecil hadir disalurkan oleh ibu mertuanya sendiri.


Pernikahannya baru saja seumur jagung, tapi masalah demi masalah hadir tanpa disadari. Alfera pikir jika setelah menikah sikap sang ibu mertua padanya bisa lebih baik dan menganggapnya seperti anak kandung sendiri. Namun, ia salah setelah janji suci itu terucap Intan memperlihatkan siapa ia sebenarnya.


Alfera tidak mengenali sosok baik itu lagi. Ia seperti hidup bersama orang asing yang baru saja dikenalnya.


Kembali, senyum palsu harus di hadirkan seolah semua baik-baik saja. Meskipun cermin dalam diri mendapatkan goresan baru.

__ADS_1


__ADS_2