DI BALIK SENYUM

DI BALIK SENYUM
BAB 3


__ADS_3

..."Allah tidak akan memaksa seseorang di luar kemampuan yang telah Allah berikan kepadanya. Allah akan mendatangkan kemudahan setelah kesulitan. (Q.S Ath-Thalaq : 7)"...


Dalam diri manusia mempunyai ujiannya sendiri. Setiap makhluk bernyawa mendapatkan cobaannya masing-masing dan di baliknya terdapat kebahagiaan yang sudah Allah takdirkan. Awan kelabu, hujan ringan, hujan deras maupun badai sudah sesuai dengan proposisinya. Tidak ada pelangi sebelum hujan, begitu pula dengan sebuah senyum tanpa air mata.


Baik dan buruk sudah menjadi ketentuan.


Allah tidak pernah salah memberikan cobaan bagi setiap hamba-Nya. Karena di balik itu semua Allah juga sudah menempatkan kebaikan. Kebahagiaan yang pastinya nanti akan melupakan rasa sakit pernah bersemyam.


Kehidupan terus berputar, layaknya roda, kadang berada di bawah maupun di atas. Setelah satu ujian pergi pasti mendapatkan ujian lain lagi. Allah ingin melihat kesungguhan dan keimanan hamba-Nya dalam menyikapi hal tersebut. Hingga nanti Allah memberikan kebahagiaan di waktu yang sangat tepat.


Hari-hari berlalu, kala terus putar memberikan episode demi episode yang terus berubah. Begitu pula dengan sikap seseorang, yang awalnya menampakan kebaikan kini berbanding terbalik.


Itulah yang tengah dirasakan Alfera. Ia tidak mengerti kenapa ibu mertuanya bisa berubah. Disaat belum menikah, Intan berperilaku baik dan sering memberikannya apa pun. Namun, setelah pernikahan terjadi sang ibu mertua tidak lagi seperti itu.


Entah kenapa, Alfera pun tidak mengerti.


Perubahan tersebut tidak terlalu dipikirkan olehnya. Karena di samping Alfera tengah mengandung, ia tidak ingin membuat keadaan lebih runyam dan mengganggu sang jabang bayi.


Bulan demi bulan dilewati dengan berdebar. Sebagai calon ibu, Alfera tentu menunggu masa-masa indah saat sang buah hati akan hadir ke dunia.


Hari itu menjadi waktu paling bahagia untuknya. Tetapi, di baliknya pun terdapat kesakitan lain yang hadir merusak momen kelahiran malaikat kecilnya. Bayi laki-laki berhasil ia lahirkan ke dunia dengan sehat dan lengkap. Ia bersyukur bisa mendapatkan seorang anak yang tampan sebagai pelipur lara.


Sang nenek, dari pihak Haikal datang berkunjung. Wanita paruh baya tersebut sangat baik dan menganggap Alfera seperti cucunya sendiri. Kedatangan Nenek Melati mengundang senyum terbit dari balik bibir pucatnya.


Alfera yang baru saja melahirkan senang bisa dikunjungi sang nenek.


"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanyanya perhatian.


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja, Nek." Jawab Alfera seraya tersenyum lembut.


"Alhamdulillah, inikah cicit Nenek?"

__ADS_1


Nenek Melati begitu antusias saat melihat bayi mungil yang tengah tertidur di samping cucu menantunya. Alfera mengangguk ringan mengiyakan dan kembali merasa hangat melihat sang nenek menggendong buah hatinya.


Di tengah euforia, Nenek Melati melihat ke sekitar. Kedua alis saling menyatu membuat dahinya semakin mengerut. Kepala berhijab itu lalu kembali menatap Alfera yang tengah melihat ke arahnya. Seketika Alfera melakukan hal yang sama saat menyaksikan wajah heran sang nenek.


"Kamu sudah makan?" tanyanya kemudian.


Tanpa mengatakan sepatah katapun Alfera menggeleng ringan membuat Nenek Melati menghela napas begitu saja.


"Intan.....Intan." Panggilnya sedikit berteriak.


Intan yang tengah berada di dalam kamar pun keluar dengan wajah datar meihat ke arah sang ibu. Alfera menatap ibu mertuanya sekilas dan kembali memfokuskan diri pada bayi mungilnya. Intan berdiri di depan pintu kamar menunggu apa yang hendak ibunya katakan.


"Alfera belum makan, Ibu lihat tadi di dapur ada ayam. Bisa kamu memasakan untuknya? Kasihan, wanita yang sudah melahirkan harus banyak makan." Ungkap Nenek Melati seraya mendongak pada putrinya.


Intan mengerutkan dahi dalam dan berjalan mendekat.


"Apa? Ibu menyuruhku untuk memasakan Alfera ayam? Ibu, aku menyiapan ayam itu untuk Rahel. Ada tahu dan tempe untuk Alfera," jawab Intan begitu saja.


Intan kembali melipat tangan di depan dada dan menatap ibunya pongah.


"Ibu, tahu dan tempe juga bagus. Keduanya mengandung nutrisi yang baik, sudahlah."


Setelah mengatakan itu Intan pun melengos pergi tanpa memberikan sang ibu kesempatan untuk kembali berbicara.


Nenek Melati kebingungan dengan kelakuan sang anak, dengan canggung menoleh ke samping melihat Alfera yang tercengang.


Rahel merupakan adik tiri Haikal yang beberapa bulan lalu datang dan tinggal bersama mereka. Alfera tidak menyangka kembali mendapatkan hal tidak mengenakan itu lagi. Ia tidak mempermasalahkan makan dengan apa pun, tapi perkataan sang ibu mertua tadi seketika menghujam ulu hatinya. Ia seolah diperlakukan berbeda secara terang-terangan.


"Aku tahu. Aku hanya orang asing di rumah ini yang kebetulan menikah dengan putranya. Tetapi, apa aku berhak diperlakukan seperti itu? Aku sudah melahirkan cucunya, tidak adakah sedikit saja rasa simpati? Ya Allah, aku tidak mengerti dengan keadaan ini." Monolog Alfera dalam diam seraya menunduk menghindari sang nenek.


Nenek Melati terus memperhatikannya dan mengerti apa yang tengah Alfera rasakan.

__ADS_1


"Alfera, Sayang. Jangan diambil hati ucapan mamahmu tadi, yah. Mungkin mamah sedang banyak urusan."


Alfera mendongak kembali bersitatap dengan Nenek Melati. Ada sorot mata khawatir dan kasihan di sana, seulas senyum pun terpendar memperlihatkan jika ia baik-baik saja. Sekilas Alfera mengangguk mencoba mempertahankan ketenangan.


"Alfera baik-baik saja, Nek." Jawabnya lembut.


"Ah, kalau begitu biar Nenek masakan kamu makanan yah?"


"Tidak usah, Nek. Biar Alfera saja, Nenek di sini temani Bagas sebentar."


Perlahan Alfera beranjak dari duduk seraya meringis menahan sedikit sakit pasca melahirkan. Dalam diam Nenek Melati menatap kepergiannya.


"Aku tidak percaya, Intan bisa bersikap seperti itu? Alfera anak yang baik, kenapa Intan bisa berubah?" Racaunya seorang diri.


...***...


Senyum tidak selamanya menandakan keadaan baik-baik saja. Di balik lengkungan bulan sabit menyimpan awan kelabu yang siap meluncurkan hujan. Rasa sakit yang tak tertahankan membuat Alfera kembali menangis sendirian.


Ia terkejut kala mendengar sendiri penuturan sang mertua beberapa saat lalu. Ia tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu secara terang-terangan.


Ia bertumpu di meja kompor seraya merematnya kuat mencoba menahan isak tangis. Sakit, kembali menempati hati terdalam. Selama ia hidup sebelum menikah, ibu kandungnya tidak pernah memperlakukan Alfera berbeda. Sang ibu sangat menyayanginya sepenuh hati dan kini ia terjebak dalam situasi asing yang mengantarkan cairan bening terus bermunculan.


Anak panah tepat mengenai sasaran, pernikahan yang ia jalani ternyata tidak selamanya mengandung kebahagiaan. Ujian itu datang dari orang terdekat, mertuanya sendiri.


Suara minyak panas yang berdesis menemani kesendirian. Alfera kembali tidak menyangka di hari bahagianya setelah melahirkan mendapatkan hal tidak terduga. Petir menyambar secapat kilat mengenyahkan suka cita dalam dada.


Air mata kembali harus hadir di balik senyuman.


Ia tidak bisa mengatakan hal itu pada siapa pun, terutama sang ibu. Ia tidak mau membuatnya khawatir dan berakhir masalah.


"Aku yakin, bisa menanggung semua sendiri. Tidak apa, mungkin ini cobaan untuk pernikahan kami." Gumam Alfera menguatkan diri sendiri.

__ADS_1


Ia menghapus jejak cairan bening di kedua pipi mencoba kembali membangkitkan senyum yang sejatinya bukan pertanda "aku baik-baik saja." Melainkan "aku sedang terluka."


__ADS_2