
Hidup bersama mertua memang tidak mudah, ibarat kembali lahir serta harus tinggal bersama orang tua baru dan beradaptasi lagi. Permasalahan datang silih berganti seolah tidak ada habisnya, sekecil apa pun percikan api akan membesar seiring berjalannya waktu.
Sama seperti gelembung, hati bisa rapuh kapan saja meskipun tidak ada tangan yang mengusiknya. Gelembung itu akan pecah ke mana angin membawanya pergi dan yang tersisa hanyalah kehampaan.
Begitulah yang tengah dirasakan Alfera, kehidupannya kini berada di ujung tanduk. Ke mana kaki melangkah akan selalu ada perkataan mertua yang menorehkan luka demi luka. Awam sembilu harus kembali hadir merundung kesenangan dengan air mata.
Kebohongan terus menerus hadir dalam diri. Esok hari akan menjadi episode baru dalam sejarah perjalanan cerita dalam rumah tangganya. Kebahagiaan hanya sebagai pelengkap tanpa menetap, berharap kesakitan segera pergi berganti kesenangan.
"Bukankah kamu tidak punya uang? Kenapa bisa membeli perawatan wajah seperti itu? Kamu berbohong?"
Perkataan Intan mengejutkan Alfera yang tengah duduk di ruang tamu memandangi barang di atas sofa. Produk kencatikan yang baru saja ia beli mendapatkan komentar dari sang mertua. Ia mendongak mendapatinya tengah bersidekap di depan dada.
"A Haikal baru gajian, Bu. Aku membeli ini untuk kebutuhan-"
"Apa? Kebutuhan?"
"Iya Bu, aku ingin menyeyangkan a Haikal dengan merawat diri sendiri."
Tawa ringan terdengar menyayat, kesan yang diterima seolah tengah mengejek. Alfera hanya terdiam menyaksikan raut wajah sang ibu mertua.
"Kamu tidak usah repot-repot merawat diri, Haikal tidak akan mungkin tertarik. Bukannya sebulan lalu dia ke rumah Ria? Janda kembang yang disukai banyak pria?"
Intan mencondongkan tubuhnya ke depan tepat di samping telinga Alfera. Sang empunya pun mendongak membuat mereka saling tatap. Senyum mengembang di wajah Intan kembali mengejek. Dalam diam Alfera mengepalkan tangannya erat.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun ia beranjak dari sana menuju kamarnya berada. Intan menarik diri seraya mengerutkan dahi dalam lalu berdecih memandangi kepergian sang menantu.
Di ruangan berbentuk segiempat tersebut, Alfera merenung masuk ke dalam lamunan. Ingatan hari-hari yang telah lalu berputar tanpa disuruh. Sudah banyak kejadian menyakitkan diberikan ibu mertuanya di rumah itu.
__ADS_1
Terlalu banyak dan mengejutkan. Ia pikir perjalanan rumah tangga tidak seberat yang dibayangkan, nyatanya lebih pedih nan perih. Di saat seperti itu ia hanya mengingat sang ibu, senyum yang terpendar di wajah cantiknya selalu memberikan ketanangan.
Rindu pun menyeruak mengantarkan cairan bening tak berkesudahan. Mertua memang tidak sama dengan ibu kandung. Namun, bukan berarti mertua bisa melakukan sang menantu semena-mena.
"Aku juga punya hati yang tidak sekuat baja, berkali-kali disakit tetap saja akan rapuh," bisiknya.
...***...
Sejak hari itu Alfera terus mengurung diri di kamar. Ia berusaha untuk membuat Intan mengusirnya dari rumah. Karena ia sudah tidak saggup lagi tinggal di sana, setiap hari akan selalu ada luka baru tercipta mengundang air mata dan kepedihan.
Hati ibarat kaca, ketika dijatuhkan berkali-kali akan hancur lebur berkeping-keping. Namun, seeremuk apa pun hati akan selalu kuat jika menghadapi masalah yang menyangkut malaikat kecil. Sebagai seorang ibu, Alfera menginginkan kedamaian untuk putra pertamanya, Bagas.
Keterdiamannya membuahkan hasil, tepat didua minggu kemudian Intan menyuruhnya untuk kembali ke rumah sang ibu. Alfera pulang ke rumah orang tuanya dengan membawa kelegaan. Wajah dua orang yang paling berharga dalam hidup tertangkap pandangan. Alfera berlari menerjang sang ibu dengan dekapan hangat yang sudah dirindukannya.
"Alfera merindukan, Mamah," ucapnya lirih.
Ia bertekad apa pun yang terjadi nanti akan tetap bertahan untuk kedua orang tuanya dan juga Bagas.
Tetapi, pada kenyataannya kesenangan yang baru saja terjadi tidak bertahan selamanya. Ke mana kaki melangkah bayang-bayang ibu mertua akan mengikuti.
Sampai beberapa bulan berlalu, Alfera yang tengah meminjam ponsel Haikal membuatnya penasaran untuk membaca pesan masuk dari Intan.
"Tidak ada kabar sama sekali kepada ibumu."
Haikal menjawab jika dirinya sibuk bekerja. Alfera terus membaca pesan demi pesan hingga menemukan satu fakta jika selama ini Intan selalu menginginkan sesuatu dari putranya. Memang hal yang wajar, tapi itu membuat ia berspekulasi.
"Kenapa ibu menghubungi a Haikal jika sudah masuk tanggal gajian? Sebelumnya beliau tidak pernah menanyakan kabar apa pun. Bulan kemarin ibu meminta a Haikal membelikannya kain, baju baru, parfum dan sekarang apa lagi?" celoteh Alfera.
__ADS_1
Ia tengah duduk di sofa ruang keluarga seorang diri dengan ponsel Haikal dalam genggaman. Pikirannya kembali melalang buana teringat akan kisah hidup sang suami.
"Aku bukannya melarang a Haikal memberikan uang pada ibunya, tapi kenapa disaat anaknya sudah bekerja ibu mendekatinya, mengayomi dan bersikap seperti ibu yang baik. Tapi pada kenyataannya dari kecil a Haikal diurus oleh nenek. Ibarat ketika a Haikal masih kecil disia-siakan dan sekarang setelah menghasilkan dirangkul."
Alfera menghela napas lelah dan bersandar pada sofa, kepalanya mendongak melihat langit-langit ruangan.
"Aku tidak mengerti," gumamnya.
Tidak lama beselang sang ibu datang dengan membawa kue manis sebagai cemilan di siang hari. Bintang duduk di sampingnya seraya menyodorkan makanan tersebut.
"Ada apa?" tanyanya.
Alfera menegakan tubuhnya memandang sang ibu dengan tatapan sayu. Bintang mengerti dan tersenyum lebar padanya.
"Dalam rumah tangga pasti ada saja masalah, tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Datangnya bisa dari siapa saja, suami, ipar, mertua atau siapa pun. Yang harus kamu lakukan hanyalah bersabar dan menghadapinya dengan baik. Karena Allah tidak mungkin membiarkan hamba-Nya terus terpuruk."
Perkataan Bintang seketika menyejukan perasaan. Ibu kandung memang tidak sama dengan mertua, sekeras apa pun anak menyembunyikan kesedihan, ikatan batin antara orang tua dan anak akan selalu terhubung satu sama lain.
Saat ini Alfera kehilangan senyumannya, topeng kebohongan terus ditampakan. Namun, jika tengah bersama sang ibu bulan sabit sempurna akan muncul tanpa adanya dusta. Ia kembali mendekap Bintang menghirup aromanya dalam-dalam.
"Mamah memang paling mengerti," bisiknya.
"Mamah yang melahirkanmu, sudah pasti tahu. Tidak masalah, jalani saja. Kamu tidak sendirian."
Alfera mengangguk di balik punggungnya. Setidaknya ia masih memiliki orang tua dan Bagas sebagai penguat. Ia tiak bisa berdiri sendiri tanpa adanya kehadiran mereka.
"Benar, aku tidak sendirian. Ada Bagas, Mamah yang bisa aku andalkan untuk tetap bertahan," benaknya.
__ADS_1
Hubungan antara mertua dan menantu memang tidak ada habisnya untuk dibahas. Terkadang sebaik apa pun keduanya akan tetap ada sekat pembatas menjadikannya bersinggungan. Namun, begitulah dalam rumah tangga tidak akan selamanya berjalan mulus. Terkadang dibutuhkan bumbu untuk menguatkan hubungan.