
Hari demi hari yang terlewati mempunyai ceritanya sendiri. Terkadang waktu menyuguhkan kepedihan dan rasa sakit yang mengundang air mata bukan karena membenci, tetapi menyadarkan untuk kembali. Misteri yang terjadi besok memberikan kejutan tak terduga, kadang bisa berupa senyum kebahagiaan ataupun sebaliknya. Roda kehidupan akan terus berputar sebagaimana Tuhan menentukan, tidak ada yang tahu ke depannya menjadi seperti apa, tetapi yakin pada ketentuan Allah itulah utama.
Tegar bukan berarti tanpa kerapuhan, selalu tersenyum tidak bermakna tiada air mata. Kesulitan dan kemudahan sudah menjadi pasangannya, sekuat apa pun mempertahankan senyuman pasti setelahnya akan ada isak tangis. Begitu pula sebaliknya, tidak ada kesedihan yang abdi, sebab Allah sudah menyiapkan kesenangan.
Hidup akan terus berjalan sebagaimana mestinya. Baik dan buruk sudah menjadi tuntutan dalam setiap episode kisah seseorang. Peran utama dalam cerita sendiri terkadang mengundang iri melihat kehidupan orang lain, tanpa diketahu mungkin bisa saja mereka memiliki kesulitan lebih parah. Hanya saja mereka mampu mengatasinya dengan baik.
Alfera kini kembali dirundung dengan kesulitan lain. Ia melihat catatan yang sudah diperbuatan sang suami beberapa bulan ini. Ia pun sangat terkejut dan tidak menyangka jika di luaran sana Haikal melakukan hal itu. Sesuatu yang dilarang, tapi di jalankan oleh prianya.
"Astaghfirullah hal adzim, apa yang kamu lakukan, A? kenapa bisa mempunyai hutang sebanyak ini? Apa karena judi itu? Ya Allah kenapa bisa?" Alfera terus menghujani suaminya dengan pertanyaan.
Haikal yang tengah berbaring di atas tempat tidur acuh tak acuh dengan ocehan sang istri. Ia mencoba fokus pada ponsel yang berada dalam genggaman. Bola matanya hanya melirik sekilas tanpa ada satu kata pun terlontar. Alfera jengah dan duduk di tepi ranjang seraya memperlihatkan nominal dalam buku itu.
"Kenapa kamu tidak menjawab?" tanyanya lagi.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Kamu bisa membayarnya bukan? Aku sudah memberikan semua uangnya padamu." Tanpa rasa bersalah Haikal pergi begitu saja menyisakan keheningan.
__ADS_1
Alfera menatap kepergiannya dengan perasaan campur aduk. Uang yang harus dibayar bukan angka yang kecil, tapi lebih dari biaya kehidupan mereka selama berbulan-bulan. Ia pun menghela napas berat tidak kuasa memendam kepedihan lain dalam dada. Kini luka baru tercipta dan itu diberikan oleh suaminya sendiri. Ia pun mencoba meminta bantuan kepada sang mertua untuk bisa menasehati putranya.
Siang ini restoran keluarga yang terletak tidak jauh dari kediamannya, Alfera, Haikal beserta Intan tengah mengadakan pertemuan. Banyak pengunjung yang datang, canda dan tawa berdengung dalam pendengaran. Manik kecoklatan Alfera bergulir melihat mereka satu persatu, ada perasaan cemburu kala menyaksikan riak kebahagiaan yang tergambar jelas.
"Berbeda dengan keluarga ini." Benaknya memandangi suami serta ibu mertua yang kini tengah duduk di seberangnya.
Tidak lama berselang makanan yang mereka pesan pun datang. Ketiganya menikmati makan siang tanpa ada satu kata terlontar. Atmosfer di sekitar berbeda dengan apa yang terjadi di dekatnya, Alfera hanya bisa tersenyum masam seraya sibuk menyuapi Bagas. Karena bagaimanapun ia tidak sama seperti orang lain.
Setelah menghabiskan makanan yang tersaji, akhirnya Alfera bisa mempunyai waktu untuk membicarakan masalah sang suami kepada ibunya. Ia pun menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia siap mendengarkan apa pun yang hendak dikatakan Intan nanti. Pertama-tama masalah ini harus segara diselesaikan, pikirnya.
Intan yang tengah menikmati makanan manis pun mendongakan kepala membalas tatapan sang menantu, "eum, katakanlah," balasnya.
"A Haikal berjudi dan sudah menghabiskan banyak uang dan sekarang aku pusing bagaimana harus melunasinya."
Mendengar penuturan Alfera, kedua mata Intan melebar sempurna. Perlahan kepalanya menoleh ke samping di mana Haikal kembali bersikap acuh tak acuh. "Apa yang kamu lakukan? Kenapa berjudi segala sampai mempunyai hutang sebanyak itu?" Intan memukuli bahunya beberapa kali membuat Haikal mengaduh.
__ADS_1
"Kamu-kenapa kamu melakukan hal itu? Apa kamu tidak sayang uangnya hilang begitu saja? Lebih baik diberikan buat adikmu, Rahel. Mamah, tidak menyangka yah kamu bisa berbuat seperti itu." Ucap Intan begitu saja seraya kembali menikmati makanannya.
Haikal hanya terdiam tanpa mengatakan apa pun. Alfera yang menyaksikan hal tersebut kembali dibuat terkejut. Ia mengepal kedua tangan di bawah meja dengan sorot mata tidak percaya. Bukan itu jawaban yang ia ingin dengar dari sang ibu mertua. Ia menginginkan penenang serta penengah dan jalan keluar dari permasalahan tersebut bukan menambah beban. Ia hanya bisa memendam kekesalan seraya napas naik turun.
"Apa yang Ibu pikirkan? Lebih baik uangnya diberikan pada Rahel? Apa Ibu tidak melihat di sini ada aku dan Bagas? A Haikal sudah berkeluarga, seharusnya Ibu mengatakan "seharusnya kamu jangan melakukan itu. Sekarang ada keluarga yang harus kamu biayai." Bukan memikirkan anaknya yang berbeda ayah dengan A Haikal. Karena aku pun tidak mungkin melarang A Haikal memberikan uang pada adiknya. Aku tidak mengerti dengan keluarga ini." Monolog Alfera dalam diam sambil terus memperhatikan dua orang di hadapannya.
Tanpa ada perkataan lebih lanjut mereka seperti tidak menganggap keberadaan Alfera. Rasa sakit kembali tercetus dalam diri mengantarkan ketidakberdayaan. Banyak hal yang ingin ia lontarkan, tetapi pasti mengundang luka lain. Bukan seperti itu tanggapan yang diinginkannya, tetapi bagaimanapun juga ia sudah mengerti sikap Intan. Wanita yang kini menjadi ibunya juga itu pun memang dari awal tidak pernah menerima keberadaannya.
Lagi dan lagi senyum palsu hadir di wajah cantik Alfera. Dan lagi kejadian tidak diharapkan harus datang untuk kesekian kalinya, ia tidak bisa berbuat apa pun. Karena pada dasarnya mereka sosok yang harus dihormati dan dihargai. Namun, yang ia dapatkan hanyalah kepedihan meskipun harus berulang kali terjadi peristiwa menyedihkan mendatanginya.
Kini di balik senyum ada kekecewaan menetap dalam diri. Rasa tidak percaya semakin kuat memenuhi sanubari. Ia menunduk melihat Bagas sudah terlelap dalam buaian. Hanya Bagas yang bisa menjadi pengobat rasa sakit setiap kali datang menerjang. Dalam diam Alfera menelan pil pahit yang kembali hadir.
"Sampai kapan aku harus bertahan? Sampai kapan mereka mempermainkanku seperti ini? Aku hanya wanita biasa yang terkadang bisa lemah dan rapuh. Aku juga ingin diperhatikan bukan diberikan luka terus menerus. Entahlah, aku sudah tidak bisa berpikir jernih dengan kelakuan mereka," benaknya lagi.
Karena hanya akan ada luka dan luka di balik senyum yang setiap kali ia perlihatkan. Ia hanya tidak ingin membuat ayah dan ibunya khawatir atas apa yang terjadi. Ia pikir sang ibu mertua akan terus memperlakukannya dengan baik, tetapi ternyata seiring berjalannya waktu sifat asli itu terbuka. Intan memperlakukannya seperti serpihan yang tidak terlihat bayangannya. Kisah yang terus berlanjut sampai kapan berakhir? Hanya diri sendiri yang tahu bagaimana air mata mengalir tanpa henti menyisakan perih tak berujung.
__ADS_1