Di Bangku SMA

Di Bangku SMA
Di Bangku SMA


__ADS_3

part 1:putih Abu-Abu


Utari


pada tahun berakhir masa putih Abu-Abu, aku terpaksa ikut melakukan hal yang nyaris mustahil. belajar siang- sampai malam demi mendapat bangku Universitas padahal, sedang sayang sayangnya pada masa SMA. Rasanya seperti baru pekan lalu aku, Diva dan Aditia akan melangkah kaki melewati gerbang sekolah ini untuk pertama kalinya. seragam kami masih menguarkan bau kain baru. perutku mulas dan senyumku lebar tak wajar antara gugup dan bersemangat.


Meski kepala sekolah memastikan tak ada aksi senior yang berlebihan di MOS, tetap saja kakak kakak kelas nya itu menatap kami seakan kami ini anak kucing yang salah memilih tempat bernaung. hingga kini, dua tahun kemudian, kami menggantikan posisi mereka dan memandangi murid murid baru dengan tatapan serupa. kurasa sesungguhnya itu karena kami iri pada pertualangan menyenangkan murid baru yang baru akan dimulai sementara waktu kami sudah akan habis.


Dulu ibu pernah bilang, jika bisa sesekali diinginkan menyelinap kembali ke SMA saat dia pertama kali bertemu dengan ayahmu, merasa kan gejolak kupu-kupu diperut saat sembunyi sembunyi janjian makanan dikantin atau peluang bersama naik bus.


Ah, yang bener saja sampai sekarang aku belum pernah pacaran.bahkan,belum pernah ikut saat Diva sabar aditia nonton konser bioskop datang keulang tahun ke 17 tahun. pada saat itu biasanya aku tidur atau sengaja ketiduran. kelelahan setelah siang sampai sore harinya naik turun menurun menara, berulang kali salto kedepan atau kebelakang, lalu meluncur ke air. besok paginya aku cuman bisa memandangi foto foto mereka di instagram dengan iri.


"makasih, pak"! kembalian lima ribu cetakan baru dari tangan tukang ojek kujejalkan ke kantong seragam. pukul tujuh kurang sepuluh, aku melirik jam tangan ku. rambut ku masih setengah basah, tadi pagi tak tersentuh pengering rambut, ku sisir dengan jari. aku bangun kesiangan, sengaja tak menyalakan alarm.


dua pekan berakhir alamr yang sama membangunkan ku pukul setengah lima pagi. pukul enam aku sudah harus ada ditepi kolam renang, bersiap pemanasan. latihan berakhir pukul 10,untuk kemudian dimulai lagi pukul 15 hingga matahari tenggelam. begitulah rutinitas dua pekan sebelum PON.


Tak jauh dari gerbang sekolah, kulihat pak ridho, satpam sekolah, dan pak firdaus, guru fisika, dalam posisi siaga, siap menangkap siswa yang sepatu nya yang berwarna selain hitam polos. Tasya dan mila, dua gadis yang terkenal suka pakai barang bermerek itu berjalan melintas, meninggalkan aroma parfum mereka dibelakang. Anggi sebagai ketua OSIS, sedang berjalan tergesa-gesa sambil membawa setumpuk berkas entah apa ke lorong samping. Tony, anak kelas 11 yang jago main drum itu rambutnya ternyata baru di cukur habis. aku jadi tersenyum senyum sendiri, tak menyangka akan begitu rindu isi dan rutinitas sekolah.


" akhirnya, Utari lo masuk sekolah juga! " diantara kerumunan siswa di depan ruang tata usaha, muncul gadis bertubuh mungil berambut sebahu berseru sambil setengah berlari menghampiriku, merentangkan tangannya.


"Diva!! " aku memeluk nya erat erat. aroma forum Diva yang tidak pernah berganti sejak SMP membuat ku sempat memejamkan mata. bertemu Diva seperti pulang kekamar nyaman tempat ku bisa tentang pakai kaus oblong bolong sekalipun.


Dibelakang diva, seperti biasa ada aditia, cowok yang menurut ku wajah dan keluguannya tidak berubah sejak kecil.


" selamat, ya Utari!gue bangga jadi teman lo. bisa ikut ngetop! "kata Diva, kusambut tawa.

__ADS_1


" selamat, Utari. engga sia sia lo latihan pagi sampai sore sampai kulit lo jadi lebih gelap begini", ganti Rino yang menyalamiku sampai berkelakar.


"sialan! " aku meninju lengannya.


Teman-teman lain yang melintas ikut menghentikan langkah kami, bergantian menyalami dan memelukku. beberapa anak kelas satu dan dua yang tak kukenal atau aku lupa namanya pun ikut menyalami lagi. entah berapa kali aku mengucap terimakasih.


Bersekolah disekolah umum, bukan sekolah atlet seperti beberapa anggota tim, membuatku menjadi murid istimewa yang dapat dispensasi untuk tidak masuk sekolah setiap jenjang lomba. meski begitu secara akademis tetap saja aku harus mengejar semua ketertinggalan dan dinilai dengan standar yang sama dengan yang lain.


"Dapat mendali perunggu gitu ada bonus engga, sih, dari pemda? " tanya Diva setelah kerukunan anak yang menyalami ku beranjak pergi.


"Ada dong," jawabku singkat dengan bangga, tapi mencoba tidak terdengar sombong. tahun-tahun berakhir, aku merasa profesi ku sebagai atlet lebih dihargai. bonus yang aku dapat dari perolehan mendali kali ini cukup untuk mentraktir Diva dan aditia makan nasi padang setahun, kalau perlu tiga kali sehari.


"jadi, bagaimana ceritanya? kok, bisa sih batal jadian sama Diah? " aku bertanya kepada aditia. sepertinya aku sempat sepintas membaca cerita Diva di Whatsapp tentang ini, tapi belum sempet menuntaskan. banyak berita lain yang belum aku perbarui selama tidak masuk sekolah.


"Ck, udah, deh. engga usah dibahas." aditia mengibaskan tangan seperti ngusir nyamuk yang berdengung di telinganya. sebenarnya itu bukan berita baru. mana pernah, sih, aditia pacaran? pikirannya terlalu lurus lidahnya, sederhana, tanpa kelokan, apalagi tikungan. kalau dia sampai pacaran, apalagi sma diah yang juga lugu itu, dalam Imajinasiku aditia pasti bengong, bingung mau ngobrol apa.


Sekolah baru buat gue cuma berati kerepotan baru. rute pulang-pergi, teman, kelas, kantin, tempat parkir, guru, ekskul, dan suasana beda engga gue tunggu, tapi engga bisa juga gue hindari. repot dapat perhatian berlebihan yang engga gue harapkan.


juga kembali menjawab pertanyaan pertanyaan yang sama kenapa pindah sekolah, rumah dimna, suka basket engga. yang cewek akan tanya, tapi tentu engga langsung ke gue sih, si leo punya pacar atau engga. sebentar lagi mungkin pada tanya mau kuliah apa, dimana. soal terakhir ini, yang tanya juga belum tentu tahu jawaban pertanyaan sendiri.


Dan, yang paling sulit ialah mengingat nama nama orang baru, kecuali nama cewek cewek, yang menarik. ini hari kelima gue di SMA pranacitra dan gue masih belum hafal nama nama dikelas gue. paling cuman Ray, teman sebangku gue, dan Tony, yang mengajak kekantin beberapa hari terakhir.


Tangan sih guru mengarahkan benda yang digenggamnya ke bawah. gue terkejut melihat ada titik hijau bergerak-gerak di sepatu putih gue. ternyata benda yang digenggam guru itu ada laser.


kenapa ya, ke SMA mana pun gue pindah, ternyata tetap ada yang sama:kewajiban pakai sepatu hitam ada apasih dengan sepatu hitam? dan kenapa, jadi satu ragam itu penting?

__ADS_1


"katanya, sih, selain biar rapuh dan disiplin biar engga ada kesengajaan sosial. kalau selain hitam kan mereka sepatu nya kelihatan, " begitu kata temen gue suatu kali. jawaban serius untuk pertanyaan basa basi gue.


"terus, HP dan jam tangan? tas? semua,kan kelihatan mereknya. mesti di cat? " gue balas sekenanya.


si teman cuma menyeringai.


gue jadi ingat lagi obrolan singkat itu saat menunduk melihat sepatu putih gue,. sebenarnya gue engga sengaja melanggar. sepatu hitam gue satu-satunya lagi di jemur setelah kemaren engga sengaja menginjak dan terendam genangan air. kalau sudah begitu, masa iya semua siswa harus banget punya dua sepatu hitam?


"peraturan sekolah ini apa"? guru itu mengencangkan volume suaranya.


berapa anak yang melintas atau sedang berdiri disekitar gue jadi menoleh memperhatikan. guru malah jadi ingin melawan.


" masuk tepat waktu? engga boleka nyontek pas ulangan?"gue menjawab sebisanya. peraturan kan ada banyak ya.


" itu, sih,semua sekolah sama! warna sepatu kamu! "dia menggerakkan pointer laser nya bolak-balik ke sepatu gue, andai peserta itu spidol papan tulis, mungkin sepatu gue sudah penuh coretan tinta.


" saya anak baru disini, "gue berkelit. kurang cerdas memang.


" waktu daftarkan sudah dikasih tahu aturan disini apa saja. " guru olahraga itu mulai kesel.


"Oke Pak, memangnya kalau boleh tahu, kenapa harus hitam? seingat saya di peraturan engga di jelasin. " gue butuh jawaban selain yang pernah diberikan teman gue waktu itu.


"peraturan ya peraturan kalau engga sepakat jangan masuk sini! "si guru mulai kesel mendengar pertanyaan gue.


gue berjongkok membuka simpul tali sepatu sambil bepikir bagaimana bodonya tampilan gue kesana kemari tanpa sepatu. guru itu tidak mengucap apa-apa lagi, membungkuk, mengangkut sepatu gue dengan wajah masang menuju ruang guru.

__ADS_1


pada saat yang sama, pandangan gue yang tadinya terhalang pak guru, bebas menatap kedepan, kebalik pilar. engga disangka mata gue sekita bertemu mata sosok cewek yang kece sepertinya tadi memperhatikan gue.


gue spontan senyum merespon pemandangan indah. padahal, gue malu dia melihat gue dimarahi guru. sekarang engga pakai alas kaki pula. cewek itu sepertinya juga mau membalas senyum gue sekilas, tapi engga jadi dan buru buru pergi begitu belum masuk kelas berbunyi. gue mau kesal karena sepatu dirazia, tapi engga jadi kesal setelah melihat gadis itu. 🐴


__ADS_2