Di Bangku SMA

Di Bangku SMA
Part 7: Kejadian Spontan


__ADS_3

Leo


JADIAN SAMA UTARI MEMBUAT gue merasa di puncak dunia. Ibarat di puncak gunung, awalnya sejauh mata memandang semua terlihat lebih indah dilihat dari atas. Cuma ada gue, dia, dan bahagia. Ketemu Utari itu seperti candu yang harus segera di tuntaskan. Tapi sebenarnya waktu Utari dalam sehari untuk bisa sana sama gue itu terbatas.


Sering cuman dapat waktu saat mengantar latihan dan istirahat sekolah sama dia. Itu pun engga selalu. Kadang Utari makan siang sama Diva, Aditya dan teman-temannya yang lain.


Begitu juga akhir pekan. Biasanya sabtu-minggu waktu yang paling ditunggu orang orang yang punya pacar. Tapi gue engga. Utari cuma libur latihan hari minggu. sayangnya, pada hari itu dia selalu mengeluh kelelahan dan ingin tidur dirumah. Gue mencoba mengerti. Gue sendiri mungkin juga akan bermalas-malasan di rumah dan Bangun siang kalau hanya punya hari minggu untuk istirahat. Begini lah nasib yang punya pacar atlet.

__ADS_1


Kemarin, setelah sering bolos bimbel karena pergi atau mengantar jemput Utari, akhirnya gue memutuskan pindah jam bimbel ke malam hari. Sebenarnya itu pilihan yang gue engga begitu suka. Jam setengah tujuh, tubuh dan pikiran gue sudah lelah untuk di ajak berpikir. Tapi, gue mau ada untuk mengantar jemput dan menunggui Utari latihan. Gadis itu berusaha keras agar terpilih masuk tim SEA GAMES. Apalagi setelah ada atlet baru itu.


Dia belum tahu, tapi gue tahu banget, gue sebenarnya bukan tipe cowok yang sabar dan santai. Gue engga punya panutan untuk menjadi pria seperti itu. Tapi deni Utari, gue berusaha mencari-cari dan berpegang pada sisi terang diri gue sendiri.


Jumat malam, selepas bimbel, gue mampir ke rumah Utari. Tapi gue engga mengantar dia pulang selepas latihan. Karena Mama Minta dijemput di mal. Gue menengok bunga mawar segar dan sekotak coklat yang baru gue beli. Kurang romantis apa coba gue, bela-belain bawa suprise buat dia.


Sampai sana, rumah Utari masih gelap. Sepertinya belum ada yang di rumah. Gue masih menggunakan seragam sekolah, dengan tas dan buku-buku bimbel berserakan di jok belakang. Gue nengok jam di mobil. Pukul delapan lewat lima. Sudah lebih dari sepuluh kali gue menelpon ponsel Utari, tapi tidak diangkat. Pesan singkat gue pun belum di baca juga.

__ADS_1


Aku membuka pintu rumah dengan perasaan tak menentu. Wajah Leo yang menahan amarah membuat kepalaku pusing. Aku tahu aku salah, tak memberitahunya kalau Aditiya menjemput ku dan kami pergi makan bersama. Tapi, cemburu 0ada Aditiya itu seperti Leo cemburu kepada kakak ku sendiri.


Aku, Diva dan Aditiya sudah satu sekolah sejak kamu pertama berseragam merah putih. Kami bersama saat pertama diajar berdoa, menyambung abjad, menghafal pancasila. Bolos bersama demi nonton konser, belajar kelompok bersama biar sama-sama lulus UN. Dan masuk ke SMP serta ke SMA yang sama.


Ikut kursus vokal sama-sama saat sedang sering-sering nya menonton Indonesia Idol, kemudian juga berhenti begitu saja setelah bertahan satu-dua bulan saja. Saat SD, tiap di belikan barang, Diva minta dibelikan dua yang serupa. Jadilah Diva dan aku punya banyak barang yang sama seperti anak kembar:bando polkadot, jaket garis-garis, tas ransel dengan motif yang sama.


Sejak kecil, Sebagai anak tunggal, aku nyaris tidak punya teman sesuai di sekitar rumah. Selain teman loncat indah, hanya Diva dan Aditiya yang paling sering main ke rumah.

__ADS_1


Beberapa kali yang amat jarang, aku dan Diva berantem. Aditiya yang menengahi. Aditiya yang paling sabar, Diva yang lebih sering bicara dulu baru berpikir, dan aku yang lebih sering menyimpan perasaan sendiri.


Tapi, belum sempat aku jelaskan semuanya ke Leo, Dia yang harus lebih kenal dengan sahabat ku☺


__ADS_2