Di Bangku SMA

Di Bangku SMA
Part 6: Berani atau Nekat?


__ADS_3

Leo


"KAMU PERNAH LIHAT ORANG loncat indah secara langsung? " tanya Utari dimobil. Senin pagi gue menjemputnya kerumah untuk berangkat sekolah. Ayah nya sudah pergi melatih saat gue datang. Padahal, gue ingin kenalan.


"Mmm... pernah. ".Gue menegakan sandaran kursi.


"Iya? Di mana? " Utari menatap gue sambil menyisir rambutnya.


"Di pelabuhan Gilimanuk, waktu mau nyebrang ke Bali. "


Gue membelokan mobil perlahan.


Dari sudut mata, gue melihat Utari mengernyitkan dahi.


"Bukan loncat indah, sih, sebenarnya. Anak-anak yang loncat kelaut dari atas kapal. Mereka mengumpulin koin recehan yang dilempar penumpang kelaut untuk kesenangan. Jadi, setelah koinnya dilempar, merekalah buru-buru nyelam buat nangkap itu koin sebelum ke dasar laut. Ya buatku mereka itu berani banget, " gue menceritakan pengalaman inspiratif.

__ADS_1


Utari tersenyum lebar menatap gue. Gue bertanya-tanya dalam hati apakah gadis itu senyumnya bisa membuat orang terperangkap. Senyum yang menebarkan candu. Gue engga yakin bisa keluar setelah terjebak candu senyum Utari.


"Apa beda berani sama nekat? " Tiba-tiba dia bertanya.


Gue engga yakin pertanyaan itu ditunjukkan ke gue. Gue sering mencoba, tapi engga pintar berfilosofi. Hidup gue sendiri saja sering engga gue pahami.


"Apaan emang? " Gue langsung menyerah sebelum mencoba menebak.


"Saat lo berani, lo harus sadar risiko, teliti bikin rencana, dan tetap percaya diri melakukan hal yang awalnya lo takuti itu sambil siap nerima konsekuensi tindakan lo. Tapi kalau nekat, lo tahu risiko dan konsekuensi, tapi mengabaikan dan engga bikin rencana. Asal dilakukan aja. Dan, kadang lo nekat karena justru engga PD, " Utari berujar dengan mata menatap ke luar kaca jendela depan mobil. Seperti sedang bicara pada dirinya sendiri ketimbang ke gue.


"Aku n deketin kamu karena berani atau nekat, ya? " Gue melirik Utari. Tawa kami seketika menenggelamkan suara lagu Hello Adele di radio.


Utari


SUDAH DUA HARI, TAPI gambar paus itu sengaja kubiarkan selama mungkin ditangan. Tidak ku cuci dengan sabun saat mandi. Norak, sih. Tapi, aku belum pernah sebahagia ini dan engga mau buru-buru kehilangan Jejaknya.

__ADS_1


Sore ini, di atas menara aku mengusap gambar itu sambil tersenyum sebelum bersiap loncat. Langkahku sudah hampir diujung saat aku tersentak mendengar Ayah berteriak, "Hei! Siapa yang suruh kamu loncat? "


Aku terperanjat. Sampai sekarang kadang aku masih sulit menerima saat Ayah memarahiku di lapangan, di depan atlet lain. Meskipun sebenarnya, dia mempermalukanku seperti dia mempermalukanku anak-anak didiknya yang lain. Tapi, bisa jadi juga dia menempatkan ekspektasi lebih di pundakku:


Kemarahannya kali ini pasti karena aku bolos latihan dua hari terakhir.


Ayah kemudian menyuruh seorang atlet cewek naik ke atas.


Siapa? Aku baru melihatnya hari ini. Mungkin dia sudah tiba kemarin atau hari sebelumnya, saat aku bolos.


Di atas menara, gadis itu melewati ku yang berdiri saja seperti orang linglung. Dia tidak lebih tinggi dari ku. Mungkin usianya 14-15 tahun.


Diujung menara, dia berbalik badan, bersiap melakukan salto ke belakang. Kami saling berhadapan. Aku memperhatikannya, tapi dia tidak menatap ku.


Hop! Dia meloncat dan meluncur masuk ke air.

__ADS_1


Aku terkejut. Loncatannya bagus dan rapi. Kusangka dia baru belajar, tapi teknik nya sudah sebaik atlet senior. Aku belum bisa menguasai teknik loncatan sebaik itu pada usianya 🙃😌


__ADS_2