
LEO
SEBENARNYA PAGI INI SEMPET terlintas dipikiran gue untuk pakai sepatu putih kemaren. Siapa tau gue jadi bisa mengulang situasi serupa kemaren dan ketemu Utari. Tetapi, pelanggaran yang sama yang dilakukan dua hari berturut-turut bisa jadi sama dengan bunuh diri. Mungkin Pak Ali(akhirnya gue tahu namanya dari celotehan teman yang membahas hukuman gue) bukan cuman menyita sepatu gue, tapi juga akan menorehkan sepuluh Poin merah di buku tata tertib gue. Lagi, pula, Utari belum tentu ulangan susulan lagi.
Tapi, gue sudah memikirkannya. Posisi kelas 12 IPA1 kelas Utari, sebenarnya sangat strategis. Semua perjalanan dari dan keluar gerbang sekolah selalu melewati kelas itu. Begitu juga arah ke kantin, mushalla, toilet, dan lapangan basket. Gue punya banyak kesempatan untuk sengaja ataupun tidak ketemu Utari.Saat gue merasa norak karena memikirkan hal sedetail itu.
Namun, ternyata gue engga perlu cari banyak alasan untuk bertemu gadis itu lagi. Pagi ini Utari baru turun dari ojek saat gue berjalan menuju gerbang sekolah, setelah parkir mobil. Dari kejauhan, gue sudah menangkap senyum gadis itu.
Tunggu. Cewek itu tersenyum ke gue? Dengan cepat menyisir rambut dengan tangan.
Dia sengaja menghentikan langkah nya didepan gerbang.
Nunggu gue?
Gue jadi deg-degan.
"Masa sekali aja sudah insaf? " Cewek itu menyapa lebih dulu sambil menatap sepatu hitam gue.
"Yah, melanggar aturan, kan, juga perlu aturan. " Gue tertawa kecil.
__ADS_1
Aneh juga. Sejak kemaren gue membayangkan bertemu gadis itu, tapi kini malu-malu menatap wajahnya. Kami berjalan memasuki sekolah. Murid-murid lain cekikikan dan bisik-bisik lihat gue jalan sebelahan sama Utari.
"Kalau mau melanggar jangan tanggung tanggung. Harusnya kemarin lo nekat ambil aja tuh sepatu. Biar engga perlu ngumpet lama-lama, " gadis itu berujar.
"Dan, gue harusnya engga bikin lo ikut dihukum, ya." Gue masih engga enak hati.
Gue yakin atlet kaya Utari pasti displin. Engga kayak gue.
Tapi, anehnya Utari tertawa.
"Pas di lapangan gue emang malu. Tapi, setelah itu gue senang. Kapan lagi bikin memori Bodoh yang bakal diinget setelah lulus? " Utari bertanya, tapi engga butuh jawaban.
Gue jadi seneng membayangkan gue akan terus ada dalam ingatan SMA Utari walaupun cuma memori bodoh.
Utari terlihat terkejut, tapi mencoba tetap tenang.
Jangkauan dia, gue aja kaget sama kata kata gue sendiri, sepagi ini. Mengontrol diri sendiri memang paling susah. Terlebih dihadapan makhluk yang indah.
"Lo Utari yang itu, kan? yang menang PON? "Gue bertanya pagi lagi membenahi kecanggungan.
__ADS_1
Utari tertawa tanpa suara.
"Tahu dari mana gue Utari yang itu? " Utari menguji.
"Waktu lo dapat mendali, temen lo yang kecil itu lari-lari bawa foto lo. Sebelumnya dia nuntut OSIS bikin nobar pas lo lomba. " Gue baru inget kejadian ini setelah kemaren baca artikel tentang Utari di majalah dinding.
"Oh my God, Diva.... " Gadis itu menutup wajahnya.
"Dan, lo Leo yang itu, kan?" Utari balik bertanya.
Belum masuk berbunyi tepat saat gue akan membuka mulut bertanya, yang itu yang mana?
Untungnya sebelum pisang gue sempat minta Utari mendiktekan nomor ponselnya.
Utari menolak. Gue sempat kecewa.
Tapi sebaliknya, dia justru mengambil alih ponsel gue, lalu mengetik dan menyiapkan nomornya sendiri.
Dia engga menjawab saat gue bilang, "Nanti gue WA, ya. "
__ADS_1
Senyumnya malu-malu saat mengembalikan ponsel ketangan gue dan berlalu.
Mungkin ini terlalu cepat. Tapi, gue sudah memutuskan suka pada gadis ituππ