
Utari
SELEKSI NASIONAL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI.Tulisan Bu Retno di papan membuat punggung ku menegak. Bu Retno baru akan memulai penjelasan alur seleksi itu. Aku segera membuka buku catatan ku.
Buatku seleksi ini jalan utama ku untuk masuk ke perguruan tinggi negeri. Dalam seleksi itu, nilai rapor semester satu sampai lima dan prestasi akademik ku dapat menjadi tiket masuk kebangku kuliah. Aku merasa tidak punya cukup waktu dan tenaga mempersiapkan diri untuk seleksi jalur lain seperti SBMPTN. Apabila jika nanti terpilih bertanding dalam SEA GAMES.
"Ini masalah serius. Jangan sampai asal pilih. Kalian harus yakin dengan pilihan jurusan dan universitas nya. Jangan sampai nanti kalau sudah diterima malah kalian tolak. Nanti junior kalian akan susah masuk ke Universitas itu. " Suara Bu Retno membuat kelas menjadi senyap.
Serasa diingatkan bahwa masa kami mengenakan putih Abu-Abu sudah tak lama lagi. Kadang aku ingin semua jadi lebih sederhana seperti saat beralih dari TK ke SD, ke SMP, lalu SMU. Semua serba jelas dan pasti. Setidaknya dulu keinginan ku sesederhana satu sekolah dengan Diva dan Aditya.
Selepas SMA, jalan menjadi bercabang dan terlalu banyak kemungkinan. Harapan ku kini tak bisa lagi sekedar "satu jurusan atau satu kampus sama Diva dan Aditya".Jalur tiap orang berbeda. Ini saat nya aku berpikir apa yang benar benar pikirkan.
__ADS_1
" Lo jadi ke DKVITB,'kan? "tanyaku kepada Diva saat duduk duduk dikelas pada jam istirahat.
Diva mengangguk tanpa ragu. Aku tersenyum. Aku penggemar utama semua karya Diva. Aku bisa membayangkan gambar sahabatku itu suatu saat jadi film animasi ternama, menjadi komik yang terbit sampai keluar negeri, atau terpampang di papan-papan billboard kota.
" Kirain lo mau masuk Kriminologi. Overdosis Criminal Minds gitu, "Aditya menyela.
" Enak aja! Masuk jurusan apapun, gue akan tetap nonton Serial kriminal, "Ujar Diva sekenanya sambil menyibakan rambut.
" Lo jadi masuk HI UI, kan, lah? "Diva balik bertanya.
" Kok, engga ada yang nanya ke gue sih,? "Aditya merasa tidak diperhatikan.
__ADS_1
" Ya lo, kan, udah jelas, "Diva dan aku menjawab serempak. Sejak kelas satu, tanpa dia mengutarakannya, semua orang terdekat Aditya pasti tahu cowok itu akan masuk Teknik Informatika. Sejak dulu, dia yang paling paham kerja berbagai gawai terbaru, seakan itu mainan masa kecil nya.
" Kan, lo sering bilang bisa benerin gadget gue, padahal gue engga tahu kalau gadget itu bermasalah. Loh, kan dukung nya gadget, "Diva menirukan kalimat kebanggaan Aditya.
Aditya nyengir. Tawaku pecah.
" Eh, No. Gue bisa benerin hidup lo, bahkan ketika lo enggak tahu bahwa hidup lo bermasalah, "Diva berseloroh Tawamkami membahana disudut kelas.
Diva dan Aditya masih sering lontar lelucon saat aku mengeluarkan ponsel dari saku tas, iseng membuka instagram. Saat menggeser layar ke atas, aku terperanjat sekaligus gembira menatap poto disana. Namun, seketika aku segera menyembunyikan tawaku yang meledak dengan menutup mulut. Diva dan Aditya belum perlu tahu.
Tapi, terlambat. Diva sudah menatapku dengan dahi berkerut. Seketika dia menyambar ponselku. Aku berusaha merebutnya kembali, tapi kalah gesit.
__ADS_1
" Cie! Ya ampun! Itu lo sama Leo yang gambar? Sweet banget, Utari! Mana? Masih ada bekasnya? "Diva heboh sendiri melihat foto gambar penguin ditangan Leo dan gambar paus bungkuk ditanganku. Difoto itu, kedua tangan kami begitu rekat bertaut. Diva sibuk mencari gambar paus ditanganku sambil sigap mengoperkan ponselku kepada Aditya.
" Diva! "Aku berteriak kesal tapi tertawa.😇