Di Bangku SMA

Di Bangku SMA
Part 8: Kok Jadi Serius?


__ADS_3

Utari


BELUM PULANG SEKOLAH BARU berbunyi ketika aku melihat Leo berdiri di depan pintu kelas. Cowok itu tersenyum lebar, seakan momen Aditya menjemput dan mengantarkan ku pulang kemaren tidak terjadi. Diva menyikutku berulang kali sebelum berjalan cepat menyusul Aditya, meninggalkan Ku yang tersenyum Balik menghampiri cowok itu.


"Semalam belum sempat bilang makasih. Mawarnya aku taruh di vas bunga diruang tamu. Aku kasih air biar Awet, " aku berkata dengan hati-hati.


Kami berdua berjalan ke mobil Leo


" Lain kali aku kasih bunga plastik aja, ya, biar engga repot, "Leo bergurau.


Aku menuju lengan nya.Cowok itu mengelak, lalu menangkap dan menggenggam tanganku.


Siang itu aku ikut saat Leo mengajak ku berkeliling. Makan cakue, sate padang, es krim dan take away burger. Hitung-hitung menebus rasa bersalah.


Dua jam kemudian, didalam mobil, aku membuka ponsel. Ada pesan masuk. Diva mengirimkan video boomerang bersama Aditya. Meraka memo nyong memo nyong kan bibir seakan mencium ku dari jarak jauh. Aku tertawa dan membalas dengan pesan:Rese!


Aditya membalas dengan emoji.


Leo menengok layar ponselku.


" Kamu ngapain, sih? Aku di sini kamu malah sibuk sana yang lain. "Dia mengambil ponsel ku kemudian menggengam tanganku kembali.


Aku terkejut, tapi tidak ingin ribut.

__ADS_1


Di luar, Matahari sudah tidak lagi begitu teriak. Aku menengok jam tanganku.


Pukul 15.10?!


" Astaghfirullah halzim! Telat sepuluh menit lagi aku beneran bakal digantiin sama jihan ni! "Aku melepaskan genggaman tangan Leo. Tapi, Leo meraih tanganku kembali.


Kami sudah sampai di depan tempat latihan loncat, tapi pria itu seakan masih menahanku di dalam mobil.


" Leo...... please! "Aku berteriak.


Leo menarik nafas sambil melepaskan tanganku. Aku segera memakai jaket timku, kemudian menarik tuas kunci pintu mobil di sisiku ke atas. Tapi, Leo menekan tombol kunci Sentral hingga semua pintu mobil terkunci


Aku terbelalak tak percaya, tepatnya tidak mengerti.


" Belakangan ini waktu kamu sore cuma untuk latihan. Istirahat sekolah selalu sama Diva dan Aditya. Malam kamu ketiduran, Weekend, kamu capek. Kita kapan? "


Ya Tuhan! Aku tak punya waktu untuk meladeni protes atau lebih tepatnya rengek an Leo.


"Ini sekarang apa? " Aku mulai tak sabar.


"Aku ini pacar atau sopir harian? " Leo mendengus.


Apa ini? Memang bener, ya, kata-kata itu perlu yang bisa merobek jantung.

__ADS_1


"Kok, jadi serius, ya? " Aku masih berusaha memilih kata.


"Kamu dari tadi anggap aku bercanda? "


"Jihan itu beneran jago, Aku malu kalau Ayah sampai milih dia dibanding aku. Kalau aku engga usaha ekstra... "


"Terus, kita gimana? Usaha kamu untuk kita apa? "


Leo memotong, "Aku rela geser les di bimbel ku ke malam biar bisa anter jemput kamu. "


"Aku engga pernah minta begitu! "


Aku kesal karena Leo bahkan tidak memberikan ku menyelesaikan kalimat. Cowok itu seperti hanya memikirkan dirinya tidak peduli apakah aku akan masuk tim SEA GAMES atau tidak.


"Kita tu 'ada' kalau kita berkorban. Aku siap berkorban, siap komitmen untuk hubungan kita. Walaupun kamu ternyata engga..... "


Ah, dialog sinetron!


"Le, kamu bukannya paham kondisi ku ya,? Aku tuh, engga sama kaya cewek lain yang pulang sekolah bisa bang out sampai malam. "


Pembicaraan ini entah di mana ujungnya.


Leo diam, kemudian akhirnya membuka tuas kunci pintu. Aku segera melesat keluar dari mobil, berjalan cepat setengah lari memasuki pintu kolam renang. Aku mengira setelah Leo akan memacu kendaraan nya pergi. Tapi, cowok itu melepas kunci mobil, ikut keluar dari mobil, mengikuti langkah ku.

__ADS_1


Aku menuju ke ruang loket, sementara Leo naik ke tribun di sisi kiri menara.


Terserah! 🙃


__ADS_2