Di Bangku SMA

Di Bangku SMA
part 2: Aku Dan Kamu Di Ruang Guru


__ADS_3

Utari


LANGKAHKU KERUANG GURU terhenti saat menangkap siswa yang wajahnya belum pernah kulihat sebelumnya. dia terlihat sedang dimarahi, atau tepatnya sedikit berdebat dengan pak Ali, guru olahraga yang juga mengajarkanku.


Heran. Pak Ali sudah bersuara geram, sementara raut wajah cowok itu tetap tenang. berani sekali


Aku baru menyadari apa kesalahan cowok itu ketika melihat dia melepas sepatu putih nya. Pak Ali mengambil sepatu itu.


Dan... ups!


Cowok itu tersembunyi kearah ku. aku melirik ke kanan kiri, tapi tak ada siapa pun disekeliling. jelas dia sedang tersenyum kepadaku. Aku jadi sedikit panik karena ketahuan sedang memperhatikan, tapi juga Senang karena cowok itu tampan. ingin aku balas senyum tapi gengsi, tidak kenal. Aku menahan bibirku tetap datar, lalu secepat mungkin berbalik, menuju ruang guru. Bel sudah berbunyi.


"assalamualaikum."Aku berdiri didepan pintu ruang guru. Beberapa guru sedang menyiapkan tumpukan buku dengan kertas, bersiap mengajar ke kelas.


" Walaikumsalam. masuk utari."pak firdaus, guru matematika, menjawab dari meja sebrang.


"Eh, Utari." Bu Retno, guru kimia, wali kelas ku, bersiap keluar ruangan saat aku akan masuk. "selamat ya, sudah menang. Dapat mendali apa? "


Aku tersenyum menyambut uluran tangan bu Retno. Tapi, wanita itu malah menarik tanganku, kemudian mendaratkan pipi kanan kirinya ke pipiku.


"perunggu Bu, " jawabku malu-malu.


"wah, hebat. nanti yang selanjutnya pasti bisa emas, " ujur wanita itu yakin. Aku bisa melihat pantulan sosok ku sendiri di kacamata bu Retno.


Sebenarnya sekarang aku sedang lebih ingin di doakan bisa mengerjakan ulangan, ujian nasional, dan masuk Perguruan tinggi negeri. Tapi, doa yang itu, ya, sebaiknya ku aminin juga.


"Aminnn, Bu, " aku mengangguk.


"Duduk disitu. " Pak Firdaus menunjuk kursi dipojok ruangan beberapa saat setelah Bu Retno pergi.


Aku duduk menggantungkan tas ransel merahmu di punggung kursi ku. Aku baru saja membuka ritsleting tas untuk mengeluarkan alat tulis saat Pak Ali, guru olahraga itu, masuk ke ruang guru. Tangan nya menenteng sepatu berwarna putih. sepatu itu milik cowok yang tadi.


"Anak baru sudah banyak tingkah. " Telinga ku menangkap suara Pak Ali yang sedang marah saat meletakkan sepatu itu di rak disudut ruangan, tidak jauh dari tempat ku duduk. Anak baru? punggungku menengak.


Pantas wajahnya tidak familiar. Seketika aku ingat cerita Diva tentang anak baru 12 IPA 3 yang katanya cakep. ternyata pengamatan nya jitu. Aku jadi tersenyum senyum sendiri tanpa suara, tapi tidak lama. Pak Firdaus datang dan menyodorkan 2 lembar kertas soal ulangan matematika yang kurasakan.


LEO


Dengan hanya mengenangkan kaus kaki putih tanpa alasan kaki, gue jalan lambat lambat ke kelas. Teman teman sekelas gue terutama temen cewek-cewek yang gemar me ngerumpi itu tertawa tawa pas gue masuk menunju tempat duduk. Sial!

__ADS_1


Melanggar peraturan memang gampang. Tapi siapapun belum tentu siap menghadapi konsekuensi nya.Dan, konsekuensi terberat ternyata adalah malu.


Jelang jam pelajaran ketiga, gue melirik jam, Bu Wati, guru Fisika belum masuk ke kelas untuk pelajaran berikut nya. Gue memperhatikan anak anak lain dikelas yang sedang asik ngobrol, janjian makan dikantin.


Gue berdiri setelah menoleh ke kanan kiri, sesantai mungkin berjalan keluar kelas. Di lorong menuju ruang guru, Gue berpapasan sama satu sampai dua guru. Dari kejauhan mereka sudah memperhatikan gue. Tepatnya Memelototi kaki gue yang tanpa sepatu. Gue terpaksa balik tersenyum, lalu berjalan sambil menunduk.


Sampai depan ruang guru, gue secepat mungkin melihat isi ruangan dari jendela kaca. Sudah tidak ada guru disana. Dan,sepatu putih gue ada dirak baris kedua disudut ruang guru.


Eh, sebentar.


Ternyata ruangan itu tidak kosong. Ada yang sedang duduk mengerjakan sesuatu. Bukan guru, melainkan murid cewek.


Sepertinya pernah melihat


Kapan, ya?


Oh, itu cewek manis yang tadi!


Gue jadi bingung yang mana yang lebih penting. Masuk dengan cepat dan mengambil sepatu itu tanpa ketahuan, atau mencari cara untuk mengobrol dengan gadis itu.


Seakan bisa mendengarkan pikiran gue, gadis itu Tiba-tiba mendongak, kemudian menoleh keluar kendala. Matanya terbelalak melihat gue. bibirnya seperti akan mengucapkan sesuatu, tapi kemudian buru-buru kembali menatap kertas diatas mejanya, seperti berusaha mengabaikan sepatu gue dulu, kan,daripada tampak bodoh depan dia. Tapi kalau, ketahuan gimana? Kenapa gue banyak mikir?


Dari tempat gue jongkok, geu lihat langkah kaki seorang guru laki-laki mendekat. Gue merupakan kaki, takut terlihat.


"Ini tugas tambahan untuk nilai nilai tambahan kamu. " Gue mendengar suaranya dari kolong meja, Itu, kan suara pak Firdaus, guru matematika.


Aduuh!


Gue menutup wajah dengan kedua tangan dan mengumpat tanpa suara.


Akhirnya gue mengambil posisi duduk dikolong meja. Sementara gadis itu tetep duduk di sana, mengerjakan sesuatu entah apa. Gue menunggu sambil menambahkan hati.


Lima menit kemudian, mata gue yang mulai sedikit mengantuk jadi terbuka melihat selembar kertas yang jatuh ke lantai dari meja tempat gadis itu menulis. Dari tempat gue duduk, mata gue melihat isi kertas itu. kertas jawaban ulangan matematika tempo hari. Oh, ternyata cewek itu sedang mengerjakan ulangan susulan.


Dia tidak segera mengambil kertas yang jatuh itu. Mungkin karena engga tahu.


Gue pelan pelan menyibak taplak meja, melongok pak Firdaus yang sedang berkantuk kantuk di mejanya, lalu balik memperhatikan kertas jawaban yang jatuh itu lagi, iseng membaca jawaban gadis itu. Apalagi yang dapat dilakukan saat terjebak dikolong?


Gue sempat melihat jawaban nomor lima. Sepertinya bukan itu, deh, jawaban yang tepat. Kemaren pak Firdaus sudah membahas jawaban yang benar.

__ADS_1


Sesaat tangan gadis itu turun kebawah, mengambil kertas Jawaban nya yang jatuh. Engga sengaja gue memperhatikan sebuah gelang berbandul penguin di pergelangan tangannya.


Gue bimbang mau bilang atau engga tentang jawabannya yang salah. Kalau bilang, kesannya gue sok tahu. Kalau engga....


"Hei.nomor lima loh, salah itu, " gue berbisik, memilih mengambil resiko.


Gadis itu sepertinya kaget, lalu beberapa saat kemudian melongok ke kolong, melihat gue.


Astaga. Dia bener-bener cakep. Gue berharap gue engga terlalu terlihat bodoh pas sembunyi begini.


"Jawaban nya 150.Coba cek lagi. " gue meyakinkan lagi.


Gue engga jago hafalan, tapi lumayan bisa matematika dan fisika. Teman-teman gue tahu gue bisa diandalkan untuk kasih contekan ulangan dan PR


Gadis biru engga bilang apa-apa, cuma kembali menekuni kertasnya. Gue engga tahu apakah dia mengikuti bisikan gue atau cuma menganggap gue siswa bengal yang sok pinter.Gue kemudian menimbang nimbang Apakah akan berdiri saja dengan risiko ketahuan guru itu, atau tetap dikolong menanti bel istirahat berbunyi.Gue terlalu lama sembunyi.


Saat gue sedang berpikir, tiba-tiba gadis itu perlahan lahan berdiri dari kursinya, lalu berjalan berjingkat ke rak sepatu. Gue menunggu sambil menebak nebak apa yang dia lakukan. Mendadak taplak meja tempat gue sembunyi ber sibuk lagi. Gadis itu Persis ada di , menyodorkan dua pasang sepatu yang dia ambil dari rak.Mungkin dia bingung sepatu gue yang mana.


Tapi, bukannya langsung ngambil sepatu, gue malah bengok mengagumi mata dan senyum cewek itu.Sumpah dia juga menatap mata gue sambil senyum.


Pada detik kesekian, tangan gue akhirnya mendapatkan sepatu gue.


"Makasih." gue akhirnya mengucap sesuatu sambil mencoba memakai sepatu gue.


Dia senyum lagi.


Gue jadi lupa cara pakai sepatu.


"Makasih juga ngasih tahu jawaban Yang benar, " dia Balik berbisik.


"Gue......" Gue baru mau mengulurkan tangan mengajak kenalan tepat saat telinga gue menangkap suara seorang pria berdeham dibelakang kami.


Dada gue mendadak berdebar


Gue menoleh kebelakang, Cewek itu juga.


Dia dibelakang kami, berdiri si guru olahraga yang bergantian menatap gue, cewek itu, dan sepatu gue, sambil melipat kedua tangannya di dada.


Mampusssssss!!! 🤦‍♂🙆

__ADS_1


__ADS_2