Di Dunia Lain, Bersama Dengan Gadis Cantik

Di Dunia Lain, Bersama Dengan Gadis Cantik
Awal mula Part 01


__ADS_3

-01 Dartania 1900-


Telah tiba saat nya pemilihan sang pahlawan.


Dengan ini ritual pemanggilan telah berjalan dengan baik, sepuluh (Kandidat) telah sampai di masing-masing benua.


//Disebuah tempat padang rumput luas//


"Huh, Hah, aw sakit mata ku sakit"


"Silau sekali, dimana ini? apa yang sedang terjadi? tadi perasaan. Urgh"


"Palaku sakit, San. Urgh"


"Ah, seperti nya aku harus bertanya seseorang terlebih dahulu"


Pria tersebut melihat sekitar dan ternyata sepanjang mata memandang hanyalah rerumputan yang tumbuh disana, terdiam dan berpikir untuk mencari bantuan. Pria tersebut berdiri dan berjalan kedepan.


Sembari berjalan dia sedikit membersihkan kotoran debu yang ada di bajunya dan merapihkan rambut nya.


Setelah berjalan cukup jauh dari tempat semula, pria tersebut menemukan sebuah rumah kayu yang berjarak 1km dari pandangan nya. Tak perlu banyak waktu pria tersebut berlari menghampiri rumah tersebut.


Tanpa disangka ada sekelompok pria berbaju besi layaknya seorang prajurit menunggu di depan rumah kayu tersebut sambil mengetuk pintu dengan keras dan berteriak.


"Keluar penghianat!" kata sang prajurit.


(¶∆¥÷√∆√÷|π¶°¢^!)


Pria tersebut menghampiri para prajurit tersebut dan.


Shets....


"Berhenti, angkat tangan"


(∆|÷•×¥^£®€π|וπ)


Dengan sigap prajurit tersebut mengangkat pedang dan mengarahkan kepada si pria.


"Siapa kamu, dari mana kamu bisa sampai sini?"


(|÷|√€^£√°^^€, °^¢√`π`÷|^€×•∆)


Karena pria tersebut tidak mengetahui apa yang sedang mereka katakan, dan pria tersebut menjawab.


"Maaf sebelum nya, bapak berbicara apa ya?"


"Kamu ngomong apaan hah? berani sama kita kamu?"


(°¢^`√•¶|÷`π?π|×|∆•÷~π÷?)


Karena urusan makin panjang, tanpa banyak bicara sang prajurit membawa pria tersebut dan mengikatnya dengan sebuah gelang sel.


"Maaf pak, salah saya apa?" kata si pria sambil berontak.


"Sepertinya lu sekomplotan sama si penghianat, biarkan hakim yang berbicara"


(√|•~•|π|÷|√•×|,¶|÷π×|¶•×π√√`÷|ו¶)


Pria tersebut dibawa oleh prajurit, prajurit dengan tongkat merapal mantra dan membuka gerbang. Karena terkejut dan ketakutan dia memberontak dan akhirnya dibuat pingsan oleh para prajurit, sebelum ia pingsan dia melihat seorang gadis mengintip dari jendela rumah kayu tersebut.


Sesampai di ruangan kecil, dengan penerangan obor ditempelkan di dinding terlihat juga seorang prajurit berdiri di samping obor tersebut sambil memandang nya.


Ia memejamkan matanya perlahan. 3 orang prajurit menghampirinya sembari mengangkat kepala nya dan bertanya.


"Ngerti bahasa gua?"


(^¢¥|÷¶`π?)


Dari lagat bicaranya sang pria tersebut mengetahui artinya dengan menjawab menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya dia tidak tahu bahasa kita, berasal dari mana orang ini?"


(÷`√|÷|×|×`π√^£¥`√`¶,π`×`∆¶¶|÷|π¥÷?)


Setelah melalui beberapa pemeriksaan dan pertanyaan, prajurit tersebut pergi meninggalkannya. Sambil menghela napas, dia berpikir untuk bisa keluar dari ruangan ini.


"Huh... Siapalah mereka itu, bahasanya... susah dimengerti"


"Aku harus keluar dari sini, tapi bagaimana"


Setelah melirik kearah prajurit yang sedang berjaga, dirinya melihat sebuah kunci di pinggir pinggangnya.


"Kunci, hmm dia yang megang. Sepertinya bisa keluar ini. Ehem Pak maaf"


Dengan idenya yang berpura-pura ingin buang air kecil, dengan cepat prajurit tersebut menghampiri nya dan bertanya.


"Kenapa lu? sakit? apa pen kencing?"


(`π`÷|π~?π`√•~√?~~`√|π×?)


Karena sudah pasti artinya sesuai dengan dugaan si pria ia pun mengangguk, prajurit tersebut membuka gelang sel nya dan mengantarkan pria tersebut ke toilet prajurit.


Dengan cepat dia memukul prajurit tersebut tepat di perut nya, prajurit tersebut kesakitan. Tanpa pikir panjang pria tersebut berlari menuju keluar dengan cepat.


Sesampai diluar, ternyata dirinya berada disebuah toko roti. toko tersebut ternyata adalah markas rahasia para prajurit tersebut. Seorang prajurit yang mengintrogasi nya baru saja masuk dari pintu toko tersebut, karena panik pria tersebut berpura-pura menjadi pembeli toko roti tersebut.


Setelah mereka melewatinya, ia pun bergegas keluar dari toko itu. Dan ternyata dia berada disebuah negara terbesar di benua Western.

__ADS_1


Negara tersebut bernama Peace, negara yang berpenghasilan banyak setiap tahunnya membuat negara tersebut dijuluki sebagai negara terbesar dari hasil bertani dan beternak. Dengan namanya Peace mungkin penduduk setempat sangat tidak pantas menyebutnya negara tersebut dikarenakan negara berpenghasilan tinggi ini mempunyai sejarah kelam tersendiri. Yang dimana penguasa negara tersebut sangat haus akan kekayaan yang membuat para warga setiap tahun harus membayar pajak melebihi aturan serikat Dartania yang dimana setiap tahun wajib membayar pajak sesuai dengan luas lahan yang dimiliki x 100tril. akan tetapi negara Peace menolak aturan tersebut dan membuat  aturannya sendiri yakni menjadi luas lahan yang dimiliki x 550tril pertahun. Karena hal itu banyak sekali perselihan dan pemberontakan terjadi setiap tahun kasus pemberontakan kian menaik dan tertinggi sekarang yaitu 90 kasus pertahun.


Mendengar seorang prajurit berteriak dari dalam toko roti, semuanya menghampirinya menyadari akan hal itu pria tersebut langsung bergegas pergi meninggalkan toko roti tersebut.


Sambil berjalan dia mengambil sebuah jubah kain lusuh dan berjalan menuju gang kecil disebelahnya, ia pun berpikir.


"Bagaimana cara keluar dari masalah ini, apa ada seseorang yang bisa membantuku"


"Sulit sekali disini, prajurit banyak yang berpatroli. Bagaimana ini?"


Dan kemudian.


"Itu dia, kejar..."


(π`÷|π~, ?~~`√|)


Pria tersebut berlari dan mencari tempat bersembunyi, dengan cepat ia berlari tibalah disebuah penginapan yang tidak terlalu bagus ataupun buruk. dengan cepat dia memasuki penginapan tersebut dan berkata.


"Tolong sembunyikan saya" dengan wajah yang panik.


Mendengar hal itu, seorang gadis menghampiri nya dan membawanya ke kamar pengunjung yang sedang beristirahat.


"Kak, bantu dia cepat" kata gadis yang menariknya kepada seorang gadis yang lebih tua darinya.


"Hah, kenapa ini, ada apa Ran?' terkejut karna mendadak meminta bantuan.


"Pokok nya kita pergi dari sini nanti aku jelasin"


"Ba-baiklah kita pergi dari sini"


(Shin tera kaimana Shetz)


Dengan cepat mereka bertiga berpindah tempat dari penginapan tersebut menuju sebuah danau yang indah dengan pemandangan yang segar. dari sinilah sang gadis yang menyeretnya memberitahu kejadian di penginapan.


"Jadi apa yang sebenarnya terjadi Ran?" ucap seorang gadis yang lebih tua dari gadis yang menariknya.


"Sebaiknya kita berdua berbicara sebentar"


"Baiklah, maaf ya kita berbicara berdua sebentar, kamu tunggu disini" ucap sang gadis yang lebih tua dan mereka pun pergi dari hadapan dia.


Karena kelelahan, dia pun beristirahat.


10 menit berlalu, mereka pun kembali dengan senyuman manis. Karena curiga pria tersebut melangkah kebelakang dengan perlahan.


"Jangan takut, kita berada di pihak mu" ucap mereka berdua.


"Bagaimana bisa, sedangkan aku tidak mengenali kalian"


"Benar juga, mungkin apa sebaik nya kita perkenalan dulu?"


"Ide bagus tuh, kamu mau kan memperkenalkan dirimu?" tanya sang gadis kepada pria tersebut.


"Ok ok, kita taruh nih tongkat" sambil duduk mereka pun menaruh tongkatnya di sampingnya.


"Baiklah, dimulai dari kita berdua. Perkenalkan namaku Rania Restrict dan ini kakak ku bernama Tania Restrict, kita kenegara ini sedang mencari tanaman obat. Ok sekian perkenalan nya, kalau kamu siapa namanya?"


(Rania Restrict)


Usia 18 Tahun


Talent Penyihir


163cm - 57kg


(Tania Restrict)


Usia 20 Tahun


Talent Penyihir


172 - 62kg


"Namaku, em... Urgh, cih kepala ku sakit"


"Kamu gak kenapa-kenapa?" ucap Rania sambil menghampirinya.


"Tidak apa-apa, kenapa setiap mengingat diriku kepalaku terasa sakit. Sepertinya diriku hilang ingatan"


"Begitu kah, sepertinya ini akan menjadi rumit. Bagaimana kalau kamu ikut bersama kita?"


"Ikut bersama? eh iya. Mengapa bahasa kalian bisa dimengerti olehku? sedangkan prajurit yang tadi tidak mengerti dan malah menangkap ku?"


Merekapun menjelaskan bagaimana ini bisa terjadi.


-Kisah lama-


Seorang gadis berparas cantik disebuah danau yang indah, bersama dengan dua hewan peliharaannya kucing yang berwarna putih dah hitam dengan bulu yang lebat.


Dia membuat janji dengan seorang pahlawan terdahulu agar suatu saat nanti dirinya bisa bertemu kembali dengan sang pahlawan.


Karena janji itu, sang pahlawan membuat sebuah mantra dengan lafal (Shin tera kaimana Shetz) yang artinya "Disinilah kita berjanji" setelah janji itu dibuat, mereka menjauh seakan ditarik oleh seseorang yang tidak terlihat. Dengan berat hati gadis tersebut menyegel hewan peliharaannya untuk menyampaikan pesan nya.


(Siapapun itu, tolong selamatkan kami) ucap sang gadis dengan tetesan air mata.


(Siapapun itu, aku akan berikan kekuatan setara diriku untuk membenarkan kisah ini) ucap sang pahlawan hingga akhirnya ia memudar.


Mereka pun akhirnya berpisah, dengan dijaganya danau itu oleh peliharaan sang gadis. danau tersebut kian menjadi indah, dengan rasa sedih yang mendalam mereka ingin menunjukan danau ini kepada tuan nya kelak.

__ADS_1


-Berakhir-


"Seperti itulah kisah nya, mungkin kekuatan yang dimaksud pahlawan itulah yang membuat kita bisa saling berbicara" Ungkap Tania sambil menutup buku yang ia telah baca.


"Ngomong, ngomong bagaimana kita memanggil namamu?" kata Rania.


"Ntah, setiap kali ingin mengingat nya kepala ku terasa seperti ada yang menusuk. Seakan-akan gak boleh mengingat nya"


"Hmmm, bagaimana kalau kita memanggil kamu Zen?"


Ungkap Rania sambil tersenyum.


"Nama yang bagus, cocok dengan penampilan mu seperti pangeran bangsawan"


"Tapi pakaian kamu mau ganti kah? kaya kaga layak pakai, sobek-sobek. Kamu habis di introgasi ya sama para prajurit tadi?" Kaget melihat pakaian yang dipakai Zen compang-camping seperti dipaksa robek oleh seseorang.


"Yah bisa dibilang begitu, lebih baik aku mengganti nya. apa ada yang mempunyai uang?"


"Uang ya, sebenarnya uang kita tertinggal di penginapan tadi. He..."


"Yosh, kita balik lagi kesana ngambil uang nya" Sontak ceria Rania dengan semangat mengatakan nya.


"Bagaimana kita kesana? sedangkan Zen pasti sudah menjadi buronan tingkat (S) disana. Ouh iya Zen, kamu udah tau tata letak benua Peace kah? kalau belum aku akan tunjukan" Ungkap Tania sambil membacakan mantra.


"Opers on list freza maps"



Dan muncullah sebuah layar transparan dengan peta bertulisan Dartania yang berarti ini adalah peta dunia Dartania.


"Dan kita berada di sini" sambil menunju kearah benua Peace.



Dataran Varn, wilayah kekuasaan jenderal perang bernama (Hans Kritz) dikenal sebagai prajurit tersadis pada masa perang dulu.


"Itulah kisah wilayah ini, sebenernya jenderal Hans Kritz telah meninggal dunia beberapa tahun lalu dan digantikan oleh anak pertamanya Dart Kritz. watak nya sama persis dengan ayah nya"


"Mungkinkah kita menuju penginapan akan aman-aman saja? sedangkan wajah kalian pun ditandai oleh prajurit disana?" Ungkap Zen sambil terheran.


"Hiyahaha benar juga, tapi. Kita punya taktik nya, bagaimana kalau kita mengambil dulu kesana Ran nanti balik lagi kesini?"


"Ide bagus, yaudah kita pergi dulu Zen"


"Baiklah, kalian berdua hati-hati"


Mereka pun pergi sambil melambaikan tangan, dengan rasa penasaran ia membuka buku cerita yang dibaca Tania tadi. Dibukalah buku tersebut hingga memancarkan cahaya terang.


Secara langsung dirinya melihat kilasan ingatan seseorang, ntah siapa dia. Melihat kilasan tersebut dengan serius akhirnya tiba disebuah tempat seperti reruntuhan kuno dengan lambang pedang di tengah pintu masuk reruntuhan.


Dengan cepat dia tersadar, mereka berdua telah kembali. Zen yang panik langsung menaruh buku tersebut ketempat semula.


"Kami kembali" Kata Rania sambil berlari.


"Hadeh, dugaan mu benar Zen. uang kita diambil oleh para prajurit tadi untuk bahan bukti" Kata Tania sambil menghela napas.


Karena merasa cemas ia telah membaca buku itu tanpa izin, Tania pun melihatnya. Karena cuman hal sepele dia langsung menghiraukan nya dengan langsung memegang tangan Zen dan membaca mantra.


(Telz Of Varn Detecsa)


Dengan cepat mereka berpindah tempat dari danau yang indah menuju sebuah toko pakaian, dengan semangat Rania telah mengambil beberapa pakaian yang telah ia siapkan untuk dicoba.


Mereka pun dengan ceria membuat hal lucu kepada Zen dengan memilihkan beberapa pakaian seorang gadis. dengan melihat senyuman Rania yang terlihat bahagia, Zen menghampirinya dan berbisik disebelah kirinya dengan mengatakan.


"Kamu sangat cantik Ran"


Mendengar itu dari Zen, Rania langsung melangkah mundur sambil memegang wajah nya yang memerah. Karena Tania tidak paham dengan apa yang sedang terjadi, Tania bertanya kepada adiknya.


"Ran, kamu kenapa? muka mu memerah. Kamu sakit?" Ungkap Tania sambil memegang wajahnya.


Karena malu, Rania menghiraukan nya dan beralasan untuk pergi ke toilet toko tersebut.


"Baiklah, jangan lama-lama. Beritahu aku kalau ada sesuatu" Kata Tania dengan wajah cemasnya itu.


"Iya kak, nanti akan kuberitahu"


Rania pun pergi meninggalkan mereka, Zen yang telah memilih pakaian mana yang akan ia beli lalu ia menunjukkan nya kepada Tania apakah pakaian nya ini pas atau tidak.


Dengan melihatnya berpakaian seperti itu, tersipu malu melihat penampilannya yang seperti seorang pangeran bangsawan yang sedang menyamar menjadi rakyat biasa. Dengan tatapan nya yang tajam dan mata yang biru bagaikan air laut yang dihiasi oleh rambutnya yang panjang hitam bererai membuatnya ia yakin dialah pahlawan yang dimaksud oleh kisah legenda tersebut.


Wajahnya mulai memerah, Tania tanpa pikir panjang menyetujui pakaian yang dikenakan nya. ia mengeluarkan uang nya dan membayarnya dikasir dengan menyelip beberapa pembeli yang sedang mengantri.


Sambil menunggu Rania keluar dari toilet, Zen yang terheran dengan hal itu ia bertanya kepada Tania.


"Wajahmu tadi memerah, apa ada yang salah dengan diriku Tania?"


Karena malu, Tania membalasnya dengan sebuah candaan.


"Yahaha itu tadi mukamu menjadi bulat kaya donat, makanya tadi wajahku memerah karena menahan tawa tau" Padahal dia sangat tertarik dengan nya.


"Ouh, eh mana ada muka kaya donat. Sembarangan aja" Sambil tertawa mereka berdua, Rania pun keluar dari toko tersebut.


"Baiklah kita lanjutkan perjalan lagi"


Rania melihat wajah Zen mulai memalingkan pandangan nya dan mulai berjalan.


Zen yang melihat reaksi tersebut merasa malu untuk bertanya kepadanya, melihat mereka berdua dengan raut wajah seperti itu Tania menyadari akan hal tersebut. Mereka pun pergi dari toko pakaian tersebut dan berencana untuk pergi dari wilayah Dataran Vern.

__ADS_1


Bersambung.


(Bantu untuk mengoreksi novel ini ya teman-teman)


__ADS_2