
Masih dihari yang sama. Mereka telah sampai didepan gerbang kediaman Duke Vessalius, disana terlihat tuan rumah sedang berdiri menyambut kedatangan mereka. Penjaga mulai membuka pintu gerbang dengan perlahan dan mereka berjalan menuju tuan rumah dan memberi salam hormat.
"Terimakasih kalian telah menerima misi ini, saya selaku pemilik rumah sangat senang mendengar berita ini dari guild. Perkenalkan saya Weis Vessalius, pemilik rumah ini" Kata Weis Vessalius.
"Kami juga terimakasih, anda telah menyambut kami dengan hangat tuan weis, perkenalkan nama saya Sam dan kedua teman saya ini bernama Kuro dan Navia" Ucap Zen.
"Baiklah, mari silahkan masuk" Kata Weis Vessalius.
Mereka pun memasuki kediaman Duke Vessalius, disekililing rumah tersebut dipenuhi dengan beraneka ragam barang antik dan mewah dengan hiasan dinding ala rumah bangsawan terkenal memakai cat merah dengan motif lambang kerajaan berwarna putih. Berjalan dan berjalan tibalah disebuah ruangan tamu keluarga, tuan rumah perlahan duduk disertai mereka bertiga perlahan duduk.
"Jadi untuk misi ini saya tidak mencantumkannya di surat itu, karena misi ini sebenarnya-"
"Brisik...." Brug....
"Seperti yang kalian dengar, salah satu anak perempuan kami sedang mengalami trauma yang sangat menyakiti dirinya karena ibu nya telah mengalami kecelakaan ketika sedang bertugas melawan iblis tingkat atas di negara Xaimon. Sejujurnya ini sangat menyakitkan bagi saya yang kehilangan sesuatu yang sanga-t meny-akitkan i-ni" Kata Tuan Weis dengan suara sedihnya.
"Baiklah tuan Weis, kita sudah mengetahui masalah yang akan kita hadapi. Bisa tolong ceritakan anak perempuan tuan Weis sebelum sang ibunya wafat?" Kata Tania.
"Ba-baiklah, ini sebelum kejadian beberapa minggu lalu. Ibunya sedang mengadakan liburan bersama di kediaman kami disalah satu Kerajaan Bratania, disana kami menghabiskan waktu bersama selama kurang lebih 1 minggu. Di saat ingin ulang tahun putri kami, ibu nya dipanggil secara mendadak oleh Komandan keamanan Xaimon untuk bertugas di garda depan karena pasukan iblis yang menyerang secara besar-besaran di negara Xaimon. Dirinya berjanji akan membawakan hadiah untuk putri kami ketika tugas yang ia jalankan selesai tapi, nasib berkata lain. Dirinya ditemukan tewas oleh tim pencarian para jasad korban peperangan itu, dengan sangat tragis hanya tersisa kepala nya saja yang ditemukan oleh tim pen-carian" Dengan nada sedih.
"Baik tuan terimakasih untuk informasinya, mohon maaf bila saya lancang menanyakan hal itu" Kata Tania
"Tidak apa-apa, kalau ini akan memberikan petunjuk untuk kalian agar bisa membujuk kembali putri kita satu-satu nya anak yang kami rawat selama ini" Kata tuan Weis.
Setelah mereka mengetahui tugasnya, Tuan Weis menunjukan jalan kekamar sang putri nya. Ketika membuka pintu dengan perlahan, Tuan Weis diteriakin dan diusir dengan melemparkan bantal kearahnya. Karena tak tahan melihat kondisi anaknya, Tuan Weis langsung beranjak dari tempat ia berdiri dan menyerahkan tugas ini kepada mereka bertiga.
"Permisi nona, kami dari guild petualang dipanggil oleh ayah anda untuk menjadi teman bicara anda. Bolehkah kami mengetahui siapa nama nona yang cantik ini" Kata Zen.
__ADS_1
"Pergi!, Pergi!, Pergi!, kalian semua pembunuh!" Kata gadis itu.
"Tenang nona kami bukan pembunuh, kami hanya ingin-"
"Ingin menghancurkan hidup ku lagi?" Selah gadis tersebut hingga melirik kearah Zen dengan wajah yang memerah akibat menangis.
"Tidak mungkin kami begitu nona, kami hanya-"
"Kalau begitu, kalian bisa membangkitkan ibu ku lagi? Tidak kan? yasudah pergi sana!"
Dengan tangan yang dihempaskan gadis tersebut seketika mereka bertiga terhempas keluar dari kamarnya.
"Begitu rupanya" Kata Tania.
"Begitu kenapa? dan mengapa dia mempunyai kekuatan juga, ayah nya tadi gak memberitahu kita" Ungkap Zen dengan rasa penasaran.
"Spirit? semacam roh kah Tania?"
"Iya, semacam roh yang tidak bisa diistirahatkan dengan baik makanya kebanyakan mereka menepelkan dirinya ke orang yang baru saja mengalami hal buruk. Tidak bisa dibiarin ini, kalau tidak dia akan termakan jiwa nya oleh spirit itu" Ungkap Tania.
"Kak, ingat waktu pas kita melawan Spirit Tipe penyerang dulu kan? Apa mau memakai metode yang sama?" Kata Rania sambil memberikan solusi.
"Jangan dulu, sepertinya ayah nya yang perlu diselidiki lebih dalam. Dari ceritanya memang terkesan benar tapi, dia menyembunyikan sesuatu dari keluarganya maupun kita"
"Ayah nya? baiklah kak, apa aku harus mencari informasi mengenai keluarga ini kepada warga setempat?"
"Silahkan Ran, tapi ingat jangan terlalu jauh dari sini karena kita gak tau ayah nya menyiapkan sesuatu yg buruk untuk kita atau tidak. Zen, kamu bisa membujuk gadis itu sendiri? Aku ada urusan sebentar dan Rania akan mencari informasi"
__ADS_1
"Baiklah kalian berdua hati-hati, aku akan berusaha yang terbaik disini"
"Baiklah kita pergi dulu, jangan melakukan hal yang aneh selagi kita pergi Zen"
"Baiklah..."
Mereka pun akhirnya pergi dari kediaman keluarga Vessalius, disisi lain Duke Weis merencanakan sesuatu terhadap Zen yang sedang dirumah utamanya itu. Ia menyuruh bawahan nya untuk menimbulkan fitnah kepada Zen selama masih dikediaman nya.
1 Jam berlalu, sejak kepergian mereka dari rumah Duke Vessalius.
Di aula tamu yang sempat dia kunjungi setelah Duke Weis menyambut kedatangan mereka dijadikan tempat sementara untuk beristirahat.
"Huh, bagaimana caranya agar bisa membujuk gadis itu" Kata Zen dengan wajah yang bingung.
Ketika ia sedang berfikir, pintu tamu diketik oleh seseorang. Zen pun melirik kearah pintu dan melihat sebuah surat dibawah selipan pintu, ia menghampirinya dan mengambil surat tersebut.
Isi surat tersebut antara lain seperti ini.
"Maaf mengganggu waktu anda, saya adalah seorang misterius yang anda temukan di hutan pertengahan Kerajaan Vern. saya ingin memberitahu anda bahwasanya Keluarga Weis Vessalius merupakan keluarga yang sangat menutupi identitas nya, saya merasa keluarga ini sangat tidak bisa dipercaya karena motif istrinya terbunuh itu tidak ditemukan dimanapun bahkan di catatan guild negara Xaimon. Kami hanya bisa memberikan informasi ini, selebihnya saya akan mengamati dari bayang-bayang"
Karena mengetahui isi surat tersebut, dengan cepat Zen keluar untuk memberitahu Tania dan Rania. Bahwa keluarga ini menyembunyikan sesuatu yang besar.
Zen keluar dari ruangan tamu dan bergegas menuju pintu rumah Keluarga Weis Vessalius tetapi, usaha nya untuk memberitahu Tania dan Rania sia sia. Dirinya terkena tembakan jarum yang sudah disiapkan oleh pengawal kediaman vessalius dengan diam-diam membuat Zen merasakan pusing dan pingsan ditempat.
Dirinya dibawa oleh pengawal itu kedalam bunker kediaman keluarga Vessalius, disana terdapat ruangan yang diperkhususkan melakukan experiment manusia. Karena merasa ada yang curiga, seorang misterius yang mengirim surat pun tidak melihat aktifitas Zen akhirnya memutuskan memberitahu pasukan nya untuk mencari dirinya. Sedangkan Tania dan Rania yang masih mencari petunjuk dibeeitahu oleh seseorang misterius itu untuk segera kembali ke rumah Duke Vessalius secepatnya.
"hmmmm, experiment kita akan dimulai nanti malam. Tunggulah manusia lemah, kami akan mengubah mu menjadi kuat" Dengan senyuman jahat.
__ADS_1
Bersambung.