
Mendengar hal itu, Tania dan Rania kembali dengan cepat melalui sihir teleport yang sudah disiapkan seorang misterius. dengan secapat mereka sampai di kediaman Duke Vessalius dan mendatangi Weis Vessalius secara langsung.
"Permisi" Sambil membuka pintu.
"Owalah, teman-teman dari pemuda Sam. Ada apa membuat kalian kemari? apa penyelidikan nya sudah selesai?" Kata Weis Vessalius.
"Sudah cukup dengan permainan ini, kita tahu bahwa anda menyembunyikan sesuatu dari kami" Ucap Tania dengan suara lantang.
"Maksudnya? menyembunyikan apa?"
"Heleh gak usah sok gak tahu ya, anda telah membawa teman kami kan? sekarang dimana dia?"
"Hohoho, ternyata ketawan sudah ya. Baiklah akan saya perjelaskan, saya membutuhkan daging segar untuk bertahan hidup. Mungkin sudah cukup kan dengan ini?" Kata Weis Vessalius.
"Daging segar? jangan-jangan anda-"
"Yah, betuh sekali. Kami adalah golongan ras setngah Vampire yang merupakan Vampire kelas atas yang telah di modifikasi agar lebih kuat"
"Sialan kau, dimana teman kami"
"Tunggu dulu, kamu ingin sekali tahu kan? Tenang-tenang. Dirinya masih berada dalam kondisi pingsan, tapi nanti malam akan ada sebuah tragedi besar wahahahaha"
"Cih, gak bisa dibiarin. Rania keluarkan sihir Tipe A, kita akan segera menyegel nya" Kata Tania.
"Hah Tipe A? sihir lemar itu memangnya bisa menyegel ku? hahahahaha, Lawak. Diriku yang keturunan langsung dari Kaisar Duke Trins Vessalius mana mungkin bisa dikalahkan sama magister tidak dikenal ini" Kata Weis dengan sombongnya.
"Kalau begitu terimakah ini!"
("Seitsu Bitlatris Magister")
Serangan sihir nya terlempar oleh sayap yang tiba-tiba muncul dari pundak Duke Weis Vessalius, dengan cepat Weis menyerang dengan sihir hitam pekat kearah mereka dan dengan cepat seorang misterius datang menangkis serangan itu tapi tak bisa dihalangi. Ledakan pun terjadi di ruangan kerja milik Weis Vessalius, karena itu membuat mereka memundurkan terlebih dahulu dan merencanakan strategi untuk menyerang dan mengalahkan nya.
Disisi lain, Zen yang tak sadarkan diri telah di rantai oleh pengawal Weis Vessalius. telah disiapkan beberapa alat pembedah, cairan mematikan, ramuan aneh, dan sebuah kunci berzat emas. Disaat itulah Weis datang kelaboratorium experiment nya dan akan memulai operasi nya dalam waktu 30 Menit lagi.
Disisi lain, Tania dan Rania sedang kwatir tentang Zen. bagaimana dia akan menyelamatkan nya bahkan dia tidak mengetahui keberadaan nya, karena pasukan seorang misterius itu telah menyelidiki rumah Duke Vessalius telah menemukan sebuah pintu masuk rahasia di gudang belakang halaman rumah nya, tak lama mereka menghampiri dan membuka gudang itu. Pintu tersebut dilapisi oleh sihir tingkat tinggi, tak seorang pun bisa memasukinya bahkan dengan menghancurkan nya menggunakan sihir berkali-kali namun hasilnya sia-sia.
Mengetahui pintu masuk laboratorium nya sedang ada yang mencoba membobol nya, Weis mempercepat proses operasi nya. Diambil lah sebuah suntikan bius dan disuntikan ke tangan kanan Zen, saat itu Zen sedang tidak sadarkan diri akibat racun yang diterimanya sangat berbahaya. Dilanjut dengan mengambil sebuah botol ramuan berwarna hitam lalu menuangkan nya tepat ditengah dadanya, disanalah Zen tersadar dan berteriak kencang hingga terdengar hingga keluar pintu masuk lab nya.
Tania dan Rania semakin panik, usaha yang mereka lakukan sangat tidak membuahkan hasil. Seorang misterius itu mencari jalan lain untuk dimasuki, Weis yang kegirangan dengan ekspresi tersiksa nya Zen tertawa dengan sadis dengan mata nya yang berubah menjadi merah pekat. Disanalah operasi selanjutnya dilakukan, Weis mengambil kunci emas nya dan memasuki nya kedalam tubuh Zen, ia yang melihat tersebut berteriak lebih keras karena rasa sakit yang begitu besar hingga tak mampu menahan nya perlahan ia menutup matanya.
Weis yang tadinya kegirangan berubah menjadi datar kembali, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Sudah batasnya kah? lemah sekali"
Tapi ketika Weis ingin mengambil kembali kunci itu di dalam tubuh nya inilah yang terjadi. Semua yang terlupakan kembali bermunculan didalam ingatan Zen, ia melihat perjalanan seorang pria berambut biru yang mengiringi padang rumput yang luas dan bertemu dengan seorang gadis yang sama seperti yang ia lihat pertama kali di padang rumput luas itu.
"Cih, kuncinya nyangkut kah? susah sekali dicabut. Cris ambilkan pisau itu"
"Baik yang mulia"
__ADS_1
Weis mengambil pisau pembedah dan mengarahkan nya ke daging yang menyangkut di kuncinya tapi, Zen terbangun dan menampar Weis hingga terpental dan membuat tembok teretak dalam. Melihat hal itu, Weis langsung menyerang balik Zen dengan kekuatan Serangan tak terlihat nya tetapi diabtalkan dengan tangan kosong. Weis semakin panik dan menyerang secara membabi buta kearah Zen, dengan kejadian tersebut semua yang berada di lab itu mengungsikan diri dan pergi keluar dari lab. Pintu perlahan terbuka, Tania dan Rania melihat orang-orang seperti dokter dan beberapa Ras Vampire berlarian keluar karena kwatir dengan Zen mereka langsung memasuki lab tersebut.
"Lumayan juga" Kata Zen
"Au-ura ini saya kenal sekali, apakah anda-"
"Tidak, saya hanyalah pemuda asing dari dataran Vern dan juga tolong jangan mencoba menyebut namaku Weis" Dengan senyuman membunuh nya yang dilakukan Zen.
"Ba-baiklah, saya berjanji tidak akan memanggil nama anda lagi. Tetapi mengapa anda berada di dalam pria ini?"
"Aah itu, karena kunci ini adalah diriku dan kamu memasukan nya kedalam tubuh pria ini jadi aku berada di tubuh pria ini"
"Tapi saya mencoba ke beberapa manusia lain nya hasilnya gagal, mengapa itu bisa terjadi?"
"Karena-"
"Zen kamu baik-baik saja? Hah"
Melihat Zen yang berlumur darah dengan dada yang tercobak cabik menjadikan situasi disana semakin rumit. Tania langsung mengekpresikan mukanya yang seram lalu menyerang Weis dengan tenaga yang kuat, Rania yang baru saja sampai dibuat pingsan dengan keadaan Zen seperti itu. Weis menciba menahan serangan dari Tania dengan keras ia memperkuat badannya melalui darah nya.
Mereka saling bertarung dengan sungguh-sungguh, Zen hanya melihat dan merasa bingung seperti memiliki kesadaran lain di dirinya.
Dengan cepat seorang misterius menghampirinya dan berkata.
"Permisi, saya akan membantu anda"
"Sial, dia lolos. Zen gimana, gimana keadaan nya" Kata Tania dengan wajah cemasnya.
"Tidak apa-apa nona, kami akan membantu menyembuhkan luka ini. Tolong semuanya bantu Tuan Zen ke kamar kediaman ini" Kata Seorang misterius.
Mereka pun membantunya dan membawa Zen ke kamar Duke Weis Vessalius dan Rania pun dibawa oleh Tania ke kamar Tamu kediaman Vessalius.
"Mengapa ini menjadi seperti ini, apakah dia akan selamat." Kata Tania dengan rasa kwatirnya.
"Zen, bangunlah Zen..."
"Rania, akhirnya kamu sadar"
Perlahan Rania membuka matanya dan melihat kearah Tania yang sedang terlihat gelisah, Rania pun menangis dan memeluk Tania dengan erat.
"Bagaimana ini, Zen. Zen mengalami luka parah, bagaimana nasib nya nanti" Sembari menangis di pelukan Tania.
"Sabar Ran, dia akan selamat. Pasti"
Seseorang dengan setelan pelayan menghampirinya.
"Nona, keadaan tuan Zen telah membaik dan sedang dalam masa pemulihan"
"Baiklah, saya akan kesana"
__ADS_1
"Baik, saya permisi terlebih dahulu"
Pelayan tersebut pergi meninggalkan mereka, disusul dengan Tania dan Rania yang mengunjungi kamar Zen. dibukalan pintu dan terlihat sesosok pria dengan status yang belum pasti pahlawan itu tertidur dengan balutan kain dibadan nya dengan wajah yang pucat dan suhu badan yang dingin. Mereka merasa bersalah karena meninggalkan dia seorang diri di kediaman yang asal usul nya belum diketahui banyak orang ini, ketika sedang merenung sang putri Weis Vessalius menghampiri mereka.
"Jadi dia adalah manusia yang telah ayah jadikan tumbal ya?"
Dengan cepat Rania membalas.
"Tutup mulut mu, ini karena keluarga mu membuat dia seperti ini"
"Tapi, dia cukup tangguh juga setelah ayah membedah nya tubuh nya semakin menguat. dan juga kalian tidak bisa menghapus keberadaan spirit ini di dalam tubuh gadis yang sedang kalian lihat ini"
"Maksud nya?"
"Karena akulah roh asli dari pemilik tubuh ini, dia hanyalah sesosok spirit lemah ketika ayah sedang melakukan experimen pemindahan jiwa"
"Brengsek kali itu orang, kalau ketemu lagi gak akan kubiarkan"
"Mungkin bagi kalian dia itu jahat, tapi sebenarnya dia ingin membangkitkan seorang yang penting bagi kaum Vampire. Kalian pasti akan mengetahui nya setelah pria yang ada disana melakukan penolakan terhadap sosok yang ada di dalam dirinya"
"Sosok? maksudnya apa ini"
"Nanti kalian akan mengetahui nya suatu hari nanti"
Dengan apa yang dibicarakan gadis itu dan pergi meninggalkan mereka tanpa mengucapkan kata pamit membuat Rania sedikit jengkel terhadapnya, tak berselang lama Zen pun siuman dam mereka menghampiri lalu memegang tangan Zen dengan penuh rasa syukur.
"Zen, akhirnya kamu sadar" Tania
"Zen, maafkan kami karena telah meninggalkan mu" Rania
"Tak apa, kepalaku sedikit pusing" Zen
"Sudahlah istirahat terlebih dahulu, kita akan menjagamu disini" Tania
"Terimakasih kalian sudah ingin menemaniku, apa kalian sudah mengetahui sosok asli Duke Weis?" Zen
"Yah, kami sudah mengetahui nya. Dan untuk putrinya juga kami sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, mungkin dia akan menjelaskan nya ketika kamu sudah membaik Zen" Tania
"Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa, kami kwatir tau" Rania
"Maaf sudah membuat kalian kwatir ya" Zen
Dibalas dengan senyuman dari Tania dan Rania, Zen dengan senang membalas mereka dengan senyuman juga.
"Baiklahlah Zen, kamu harus beristirahat dengan baik. Nanti kita akan membicarakan ini setelah kamu sudah pilih nanti" Kata Tania.
Zen pun mengangguk dan perlahan tidur kembali, mereka berdua mendekati nya dan tidur sembari duduk disamping kasur yang Zen tiduri.
Bersambung.
__ADS_1