Di Jodohkan Berakhir Bahagia

Di Jodohkan Berakhir Bahagia
BAB 4


__ADS_3

Setelah percakapan singkat  keduanya, kini mereka berdua telah sampai di suatu rumah makan yang sederhana tapi tetap menunjukkan kesan mewah, dan dengan di suguhi pemandangan yang cantik. Izah yang melihatnya di buat kagum oleh Bima. 


“Bagaimana, apa kamu suka?” tanya Bima melihat Izah. 


“Iya aku suka banget.” Menatap Bima sekilas kemudian beralih menatap pemandangan di depan matanya. 


“Sini!!! Kamu mau pesan apa?” ajak Bima duduk kemudian menanyakan Izah mau pesan apa.


“Emmm, terserah kamu aja deh,” Jawab Izah tanpa menatap Bima.


Kemudian Bima memesankan menu andalan di rumah makan tersebut. Setelah makan datang keduanya segera memakannya. Setelah makanan habis Bima mengantar pulang Izah terlebih dahulu untuk memastikan keselamatannya. 


“Izah, gimana tadi?” tanya Tedi mendelik. “Apanya?” tanya balik Izah tidak mengerti. 


“Ah, jangan pura-pura ngak ngerti kamu!” jawab Tedi menggoda. 


“Emaang aku ngak ngerti.” Sahut Izah kemudian pergi ke kamarnya. Saking bahagianya Izah, sampai-sampai dia tidak menghiraukan Papa Mamanya yang baru keluar dari kamar. 


“Kenapa dengan adik mu itu?” tanya Anton duduk di sofa.


“Ngak tahu Pa, dia habis makan sama Bima tadi makanya dia agak kurang waras sedikit.” Jawab Tedi bercanda dan mendapat cubitan dari Mamanya. “Hehh, gitu-gitu juga adik kamu!” Ujar Sofi. Tedi tidak menjawab, dia diam sambil cemberut karena di cubit Mamanya.


HARI PERNIKAHAN 

__ADS_1


Hari pernikahan akhirnya tiba, semua  orang sedang mempersiapkan segalanya agar acara nanti berlangsung dengan lancar dan tidak ada hambatan apapun. sekarang Izah sedang di rias oleh penata rias terkenal di kotanya. Dia merias Izah sangat baik, sampai semua orang pangling dengannya. 


“Kamu cantik banget nak!” ucap Sofi yang melihat anaknya sedang di rias.


“Makasih Ma. Oh iya Ma, kenapa jantungku berdetak sangat kencang ya Ma?” tanya Izah memegangi jantungnya. “Itu namanya kamu gugup nak,” jawab Sofi membelai rambut Izah yang masih tergerai panjang. “Gini ya Ma rasanya menikah itu?” tanya Izah pada sirinya sendiri. 


Ditempat lain Bima sedang dalam perjalanan menuju tempat resepsi. Selama perjalanan Bima tidak bicara sama sekali. Dia sangat gugup, meskipun dia belum mencintai calon istrinya yaitu Izah. Tetap saja ini membuatnya gugup karena acara ini sangat sakral. “Kamu kenapa Bim?” tanya Malik melihat Bima yang diam saja dari tadi. “Ngak papa kok!” singkat Bima. 


Setelah setengah jam mereka dalam perjalanan dan kini mereka telah sampai di tempat resepsi. Acara akan segera di mulai ke dua mempelai sama-sama gugup. Izah di damping dengan Tedi kakaknya dan orang tua Izah sudah duduk menunggu di atas pelaminan. Sedangkan Bima di damping dengan sahabatnya yaitu Rino. 


Setelah itu Bima di arahkan untuk duduk di kursi untuk mengucapkan ijab qabul.


SAH… kata-kata itu yang mmembuat hati Bima sangat lega, senang, dan bingung. Setelah kata-kata sah menggema barulah mempelai perempuan keluar di damping kakaknya. Alangkah cantiknya Izah memakai gaun pengantin yang berwarna seba putih dan dengan hiasan di kepalanya yang sangat mewah. Izah terlihat sangat cantik, semua mata memandangnya kagum dengan kecantikannya tidak terkecuali Bima yang sekarang sudah sah menjadi suaminya itu.


jam mereka berdiri untuk menyalami tamu.


Kini mereka berdua sudah ada di kamar pengantin dengan dua angsa dan taburan mawar merah di atas kasur. Tapi kenapa mereka berdua diam saja, keduanya sama-sama gugup. Di dalam kamar itu tidak ada suara sama sekali sunyi seperti di hutan. 


“Aku ingin mengucapkan terima kasih.” Ucap Bima kemudian memegang tangan Izah.


“Bisakah kamu beri tahu aku, kenapa kamu mau memutuskan untuk menikah?” tanya Bima mendelik.


“Aku hanya tidak ingin mengecewakan Papa kalau aku menolak pernikahan ini.” Jawab Izah gugup.

__ADS_1


“Kamu tahu apa yang pengantin lakukan pada malam pertama di pernikahan mereka?” tanya Bima semakin mendekat dan membuat jantung Izah seperti sedang lari marathon. “Memang apa yang mereka lakukan?” tanya Izah balik pura-pura tidak tahu. 


“Kamu tidak tahu?” tanya Bima semakin mendekat dan Izah hanya menggelengkan kepalanya. Saat ini dia sangat takut untuk melihat wajah Bima, karena wajah mereka sekarang hanya berjarak 5 cm saja. Ketika Bima hendak mencium Izah tiba-tiba saja Izah mendorongnya hingga Bima jatuh tersungkur ke lantai. Izah membelalakkan matanya tidak percaya kalau dia yang mendorong Bima sampai jatuh. Setelah Izah tahu kalau suaminya jatuh dengan begitu keras dan itu pasti rasanya sangat sakit, dia segera berdiri dan membantu Bima untuk duduk. Meskipun, Izah sendiri repot dengan gaun panjang yang di kenakannya. 


“Maaf ya? Aku ngak sengaja!” ujar Izah merasa bersalah. “Auh… sakit!” rintih Bima pura-pura sakit supaya Izah mau memeriksanya. 


“Mana yang sakit? Sini biar aku obati!” tanya Izah khawatir. “Ini!” jawab Bima menunjukkan pinggangnya yang sakit akibat di dorong Izah tadi. Tanpa menjawab Izah segera memeriksa dan memijit pinggang Bima. “Gimana? Apa masih sakit?” tanya Izah setelah beberapa menit memijatnya. 


“Udah sembuh kayaknya setelah kamu pijit.” Ucap Bima sambil memeriksa pinggangnya. 


“Em… aku ganti baju dulu kalau gitu!” pamit Izah ke kamar mandi. “Tunggu! Kamu ngak perlu bantuan apa?” tanya Bima menggoda Izah. Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Izah sangat malu dia segera masuk ke kamar mandi dan segera ganti baju.


“Ternyata begini ya, rasanya jadi pengantin baru. Tunggu! Apa aku sangat suka menggodanya ya? Apa aku mulai jatuh cinta padanya? Dan kenapa tadi aku udah mikir yang aneh-aneh tadi.” Gumam Bima dalam hati sambil melepas jas yang dipakainya. 


“Kamu kenapa?” tanya Izah setelah selesai ganti baju dan melihat Bima sedang melamun. 


“Ngak papa, kamu udah selesai?” tanya Bima setelah sadar dari lamunannya. 


“Iya, kamu kenapa sih?” tanya Izah lagi sambil merapikan tempat tidurnya yang di penuhi dengan ansa dan bunga mawar merah. 


“Kenapa kamu rapikan?” tanya Bima melihat Izah sibuk merapikan ranjang. 


“Masa kamu mau tidur dengan angsa sama bunga mawar ini? Nanti badan kamu gatel!” jawab Izah kembali sibuk merappikannya. “Ya udah deh, aku mau mandi dulu kalau gitu.” Ucap Bima berdiri dan melangkah ke kamar mandi. Belum juga masuk Bima menghentikan langkahnya dan melihat Izah masih merapikan tempat tidurnya dia segera mendekat ke arah Izah dan memeluknya dari belakang. Sontak saja itu membuat Izah tersentak kaget dan berusaha melepaskannya, tapi usahanya sia-sia saja. Bima malah memeluknya dengan sangat erat dan membisikkan sesuatu di telinga Izah, ”Tunggu aku selesai mandi ya!” ucap Bima kemudian langsung berlari ke ke kamar mandi.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2