Di Jodohkan Berakhir Bahagia

Di Jodohkan Berakhir Bahagia
BAB 6


__ADS_3

“Tiket?” tanya Izah kepada ketiga orang itu. Bima yang mendengar Izah mengatakan tiket, dengan segera dia mengambil kertas itu dan melihatnya sendiri. Itu adalah tiket untuk pergi ke hotel berbintang yang ada di puncak. Di tiket tersebut  dijelaskan bahwa mereka akan di suguhi dengan pemandangan yang sangat bagus dan hotel yang sangat indah dengan fasilitas yang tentunya sangat mahal yang pastinya tidak akan mengecewakan pengunjung. 


“Iya. Kenapa memangnya dengan tiket?” tanya Tedi bingung dengan adiknya itu. Bukannya senang tapi kok malah marah mendapat tiket berlibur.


“Hadiah yang lain kan bisa, ngak harus tiket kan!” ucap Izah protes dengan hadiahnya.


“Papa ngak mau tahu pokoknya besok kalian berdua harus berangkat.” Ucap Anton tegas. Bima langsung membelalakkan matanya karena keputusan mertuanya yang sangat mendadak. 


“Tapi Pa,” sahut Bima ingin meminta keringanan waktu karena dia merasa masih capek.


“Tidak ada tapi-tapian.” Ucap Anton kemudian pergi meninggalkan meja makan, dan di susul dengan ibu kemudian Tedi, tapi sebelum Tedi pergi, Tedi mengatakan sesuatu pada mereka berdua, “Jangan lupa, pulang dari berlibur harus sudah ada keponakan buat aku ya.” Ucap Tedi menggoda mereka berdua kemudian pergi meninggalkan Izah dan Bima.


“Ya udah aku mau siap-siap dulu.” Ucap Izah beranjak dari tempat duduknya,dan hanya di angguki oleh Bima. 


“Huh…” membuang nafas kasar dan menyenderkan punggungnya di kursi. 


“Ternyata sekarang aku sudah menikah. Hanya saja kita berdua belum melakukan itu, tunggu saja Izah kamu pasti akan melakukannya dengan ku cepat atau lambat. Dan aku akan membuat kamu sendiri yang memintanya.” Gumam Bima sambil senyum-senyum.

__ADS_1


Di dalam kamar Izah sedang berkemas dan menggerutu dengan keputusan orangtua serta kakaknya itu. 


“Kenapa sih mereka ngak tanya aku dulu, aku mau atau tidak. Aku mau menikah dengan Bima bukan berarti aku suka sama dia.” Gerutu Izah sambil memasukkan bajunya ke dalam koper dengan kasar. 


“Tapi tunggu dulu, kenapa setiap kali aku deket sama dia aku nyaman dan juga jantung ku berdetak jeuh lebih kencang dari pada biasanya.” Lanjut Izah sambil memegangi jantungnya mengingat-ingat saat Bima mendekatinya. Di saat Izah sedang asyik melamun tiba-tiba Bima mengagetkannya dengan menepuk bahu Izah. “Apa sih kamu, pakai acara ngagetin segala.” Ketus Izah menutupi ke gugupannya. 


“Aku ngak ngagetin, kamu aja yang lagi melamun. Emang kamu ngelamunin apa sih? Oh aku tahu, pasti kamu ngelamunin aku ya?” goda Bima mencolek dagu Izah. Sontak saja Izah kaget membelalakkan mata dan menahan senyum, karena merasa senang di perlakukan seperti itu oleh Bima.


“Sok tahu kamu.” Singkat Izah kembali menata pakaiannya. Dan Bima juga mengambil koper dan menata pakaian yang akan dibawa besok. Selama mereka berdua mengemasi pakaian, Bima tanpa henti menggoda Izah hingga membuat wajah Izah sudah seperti tomat dan sudah kehilangan kata-kata karena Bima menggodanya tanpa henti. Bima suka melihat Izah yang malu-malu dan menahan senyum, sekarang prioritas Bima sudah bukan lagi pekerjaan, tetapi adalah membuat Izah selalu bahagia dan tidak akan membiarkan air mata Izah jatuh. 


Bima merasa kenapa bisa secepat ini bisa menyukai Izah, selama ini dia mencoba untuk membuka hatinya untuk wanita lain, tapi sangat sulit untuk Bima karena dulu Bima di tingal menikah oleh pacarnya. Dan yang membuat Bima tidak terima adalah suami dari pacarnya itu adalah teman Papanya Bima. Sejak saat itu, Bima memandang wanita sama seperti mantan pacarnya. Tapi tidak dengan Izah, dia melihat Izah wanita yang berbeda yang pernah dia temui, meskipun Izah dari keluarga berada dia tidak pernah sombong dan mau menolong siapapun meskipun dia tidak mengenalnya. 


Mereka berdua telah sampai ditujuan yang ada di tiket tersebut, mereka keluar dari bandara.  Izah dan Bima sama-sama mengenakan kaca mata hitam, Izah membawa satu koper sedangkan Bima membawa dua koper, satu miliknya dan satu lagi milik Izah.


“Kamu bawa koper 2 memangnya kamu mau pindah ke sini apa?” tanya Bima melihat koper Izah yang dirasa terlalu banyak.


“sebenarnya aku tidak mau pergi. Tapi semua orang memaksaku untuk pergi ke sini, sudahlah bawa aja koper ku.” Seru Izah sambil terus berjalan. 

__ADS_1


“Jadi dimana orang yang menjemput kita?” tanya Izah mencari keberadaan orang yang menjemput mereka berdua. Tanpa menjawab Bima segera mengeluarkan poselnya dan menelvon orang yang menjemput mereka. Belum telfon itu tersambung sudah ada laki-laki paruh baya dan berpenampilan seperti orang desa menghampiri mereka berdua.


“Permisi. Silahkan lewat sini.” Ucap laki-laki itu dengan menunjukkan mobil yang akan membawa mereka ke hotel itu. Betapa terkejutnya mereka berdua setelah melihat mobil angkutannya. Bagaimana tidak, mobil yang akan membawa mereka ke hotel adalah mobil bak terbuka yang sudah tua. Di antrian mobil yang ada di bandara hanya mobil mereka yang sangat jelek dan tidak pantas masuk bandara. 


“Silahkan naik. Saya akan membawakan tas anda.” Ucap laki-laki itu mengambil koper mereka dan memasukkannya ke dalam bak mobil. Mereka  berdua saling pandang dengan pandangan yang susah di  artikan. 


Sesampainya di hotel, lagi-lagi mereka berdua di kejutkan dengan kondisi hotelnya. Bagaimana tidak terkejut, ternyata itu bukan hotel melainkan seperti gubug di tengah sawah dan cuma ada satu kamar, tidak ada kamar mandi, jika mau mandi harus pergi ke kamar mandi umum. Karena tempat itu sangat terpencil, selama ini Izah beru pertama kali ini pergi ke tempat seperti ini. 


Setelah mereka berdua bertemu dengan pemilik gubug itu, Izah langsung memarahinya tanpa henti. Bima sangat kaget melihat Izah marah-marah, karena ini pertama kalinya dia melihat Izah semarah ini. Selama Izah berdebat dengan pemilik gubug itu, bukannya melerai Bima malah hanya melihatnya. 


Setelah perdebatan lama, akhirnya pemilik gubug itu mau bertanggung jawab mengembalikan uang yang telah mereka keluarkan untuk gubug itu. Setelah itu mereka berdua pergi ke hotel yang sesungguhnya yang ada di gambar itu. 


“Huhh… Akhirnya bisa istirahat juga.” Ucap Izah lalu merebahkan tubunhya di atas kasur hotel yang sangat nyaman. 


“Kamu ternyata kalau marah-marah serem juga ya?” ucap Bima ikut merebahkan tubuhnya di samping Izah. “Iya, makanya kamu jangan buat aku marah. Capek tahu marah-marah kayak tadi.” Ucap Izah memejamkan matanya dan bernafas dengan kasar. Bima yang melihat Izah sangat kecapekan, dia kasihan dan memesankan makanan secara online. Setelah memesan makanan, Bima mendekati Izah. Niatnya ingin mencium keningnya, tapi setelah Bima memajukan bibirnya dan menutup matanya, Izah membuka matanya dan menghindar dengan pelan supaya Bima tidak menyadari jika dirinya sudah tidak ada, itu karena Bima kurang cepat. 


Setelah Izah berhasil menghindar dan Bima masih berusaha mencium Izah dan meraba ke sekeliling. Izah yang melihat Bima begitu tertawa cekikikan. Bima mulai sadar saat mendengar seseorang tertawa, dan dia segera membuka matanya dan benar saja kali ini Bima gagal lagi. 

__ADS_1


Bersambung… 


__ADS_2