
Bima yang melihat Izah tertawa cekikikan tidak tidak tinggal diam, dia segera menghampiri Izah dan Izah yang melihatnya segera lari menghindari Bima. Di dalam kamar hotel mereka berdua bermain kerjar-kejaran, mereka berdua sudah seperti Tom & Jarry. Ting…Ting…Ting… bel kamar hotel berbunyi disaat mereka sedang asyik kejar-kejaran.
“Stop! Ada tamu tuh.” Ucap Izah menunjuk pintu, dan diangguki oleh Bima. Bima segera membuka dan mengambil makanan yang sudah dia pesan tadi.
“Kamu pasti lapar kan?” tanya Bima menyiapkan makanannya, dengan antusias Izah segera menghampiri makanannya. “Hmmm… baunya seperti enak sekali.” Ucap Izah melahap makanan itu, dan memakannya dengan rakus.
“Kamu seperti orang yang udah sebulan ngak makan aja.” Ujar Bima memasukkan satu sendok ke mulutnya. “ Biari aja, kamu fikir marah-marah ditambah lari-lari kayak tadi ngak capek apa?” ujar Nana dengan mulut penuh makanan.
“Siapa juga yang suruh marah-marah sama lari,” ujar Bima santai.
“Emang kamu mau malam ini kita tidur di gubug jelek kayak gitu, kalau aku sih ngak mau. Kalau misalnya nanti pas kita tidur ada angin kencang atau hujan yang lebat di sertai petir, dan gubug itu roboh gimana?” ucap Izah menghentikan makannya sejenak, ketika Bima akan mengatakan sesuatu Izah lebih dulu menyelesaikan kata-katanya yang belum selesai. “Terus aku capek lari-lari, itu juga ulah siapa? Kalau kamu ngak mulai mungkin aku ngak akan se-capek ini.” Ucap Izah melanjutkan makannya.
“Iya…iya aku minta maaf, lain kali aku ngak akan buat kamu capek.” Ucap Bima menyesal, karena sekarang dia sedang di marahi oleh Izah. Setelah selesai makan mereka berdua gantian mandi dan pergi tidur. Mereka berdua tidur di atas kasur yang sama, tapi di tengah-tengah sudah ada pembatasnya. Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka berdua sudah terlelap karena kecapek-an.
Di pagi hari, Bima membuka matanya dan berharap Izah yang pertama dia lihat. Dan sayangnya yang Bima lihat bukan Izah melainkan bantal dan guling. Bima mencari keberadaan Izah, dan ternyata Izah sedang selfi di dekat pantai. Izah terlihat sangat bahagia, Bima melihatnya dari balkon. “ Kenapa perasaan ini semakin hari malah semakin besar ya, dan kenapa juga susah sekali mendapatkan hatinya.” Gumam Bima melihat Izah dari balkon.
Sebenarnya Izah juga mempunyai perasaan yang sama dengan Bima, hanya saja Izah lebih mengesampingkannya, lain halnya dengan Bima yang memikirkannya. Izah takut kalau perasaan dia akan bertepuk sebelah tangan kalau dia menghiraukannya.
Setelah melihat Izah dari atas balkon, akhirnya Bima memutuskan untuk turun menemui Izah. Sebelum turun Bima mengganti bajunya terlebih dahulu, setelah itu bergegas Bima turun. Karena Izah menghadap kearah pantai dan Bima datang dari arah belakangnya Izah, Bima menepuk kedua bahu izah untuk mengagetkannya. “Hey…” ucap Bima mengagetkannya. Izah yang sangat terkejut akhirnya sampai terjatuh dan kakinya terkilir.
__ADS_1
“Aduh…” jerit Izah kesakitan, Bima panik melihat istrinya kesakitan karenanya dan segera berjongkok dan mencoba mengurut kaki Izah yang terkilir untuk menolongnya.
“Aku minta maaf.” Ucap Bima menyesal.
“Bisa ngak sih kamu jangan iseng sama aku!” ucap Izah kesal.
“Udah jangan pegang-pegang.” Tambah Izah mencoba untuk berdiri dan berjalan.
“Kamu mau kemana? Jika kamu berdiri dan berjalan itu akan membuat kaki kamu malah semakin parah.” Ucap Bima mengingatkan.
“Itu karena kamu yang membuat aku begini.” Teriak Izah dengan keras.
“Iya! aku yang sudah membuatmu terluka. Aku harus bertanggung jawab, maaf!” Ucap Bima kemudian menggendong Izah tanpa persetujuannya terlebih dulu.
“Tanggung jawab.” Singkat Bima menatap Izah. Dalam hati, Bima sangat senang karena bisa menngendong istrinya, begitu juga dengan Izah. Tapi keduanya sama-sama menutupinya.
“Maksdunya?” tanya Izah bingung.
“Karena aku yang sudah buat kamu begini, makanya aku mau tanggung jawab membawa kamu ke kamar. Dan karena kakimu sedang sakit maka aku yang akan menggendongmu.” Ucap Bima menatap Izah. Izah yang mendapat tatapan dari suaminya itu sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang, yang bisa Izah lakukan hanya diam dan mengikuti apa yang dikatakan Bima.
__ADS_1
“Kamu diam disini! Aku mau cari obat dulu buat kaki kamu.” Ucap Bima memperingatkan dan pergi mencari obat urut untuk Izah.
Sementara itu di kediaman keluarga Bima
Malik dan yuli, orang tua Bima sedang bersantai di teras rumah. Malik sedang membaca Koran dan yuli sedang melihat sosmed, yuli pemasaran dengan Bima dan Izah, bagaimana mereka setelah menikah.
“Pa! gimana ya keadaan Bima sama Izah ya pa?” ucap yuli penasaran.
“Iya! Ya Ma, Papa denger juga Anton, Sofi sama Tedi ngasih hadiah bulan madu, dan kalau ngak salah sih kemaren mereka udah berangkat.” Ucap Malik masih dengan pandangan ke Koran. Tanpa menanggapi apa yang di ucapkan oleh suaminya, Yuli kemudian memeriksa sosmed keduanya. Ketika membuka sosmed milik Bima, dia tidak menemukan update terbaru di sosmednya. “Oh iya! Aku baru inget, Bima kan jarang main sosmed ya, ini juga terakhir postingannya januari, itupun promosi untuk acara kantor.” Ucap Yuli yang baru menyadari kalau anaknya jarang menggunakan sosmed. Kemudian beralih membuka sosmed Izah, ketika membuka foto pertama Yuli di buat kagum dengan Izah. Didalam sosmednya Izah tidak hanya memajang foto dirinya tapi dia juga membagikan momen dimana saat dia sedang belajar di Bangkok, dan ada beberapa video yang berdurasi 30 detik yang isinya bisa mengedukasi orang.
“Ternyata kita ngak salah pilih menantu Pa!” ucap Yuli tersenyum.
“Memang Ma, Izah anak yang baik, cantik, berpendidikan segalanya lah. Jadi kita sangat beruntung memiliki menantu seperti dia.” Sahut Malik sekilas melihat Yuli. Yuli hanya mengangguk dan kembali meneruskan melihat sosmed milik Izah. Yuli membelalakkan matanya ketika mendapati foto Izah sedang berselfi di pinggir pantai dengan cantiknya tapi tanpa adanya Bima disamping Izah. Yuli menggeser foto itu ke kanan ke kiri, tapi dia tak menemukan foto mereka berdua bersama.
“Kenapa ngak ada foto mereka berdua ya?” ucap yuli kecewa, dia berharap dengan segera Bima dan Izah akan saling mencintai dan memberikan kedua orang tuanya cucu.
“Kenapa Ma?” tanya Malik melihat wajah kecewa Yuli.
“Kok ngak ada foto mereka yang bersama ya Pa? padahal kan ini bulan madu pertama mereka. Beda dengan kita dulu.” Ucap Yuli menatap malik .
__ADS_1
“Ya udah lah Ma, kan mereka juga menikah bukan ke mauan mereka. Ya! Wajarlah kalau mereka belum saling cinta atau masih malu untuk saling mendekat. Nanti juga seiring berjalannya waktu, mereka pasti akan ssma-sama jatuh cinta. Percaya sama Papa!” ucap Malik memegang tangan Yuli agar istrinya itu tidak kecewa lagi. Yuli hanya mengangguk mengerti, kemudian tersenyum mendengar apa yang dikatakan suaminya itu.
Bersambung….