
“Mau ngapain dia habis mandi?” Gumam Izah memutar bola matanya. Izah sudah membayangkan yang aneh-aneh akan terjadi malam ini. Maka dari itu Izah mempunyai ide untuk berpura-pura tidur agar malam ini mereka tidak melakukan apa-apa. Lalu Izah menyiapkan baju tidur untuk Bima dan tiba-tiba, Klekkk… suara pintu kamar mandi terbuka yang menandakan Bima sudah selesai mandi, Izah yang mendengarnya segera naik ke ranjang untuk berpura-pura tidur tidur. Berjalan dengan perlahan dengan hanya memakai handuk yang di lilitkan di pinggangya dan dengan rambut yang masih basah Bima menghampiri Izah.
“Apa! Dia tidur?” Guman Bima sambil mengecek Izah. Dia berjongkok di depan Izah dan terus memandanginya. Izah risih karena Bima terus memandangnya, akhirnya Izah menggeliat, merentangkan tangannya hingga tak sengaja menonjok wajah Bima dan membelakangi Bima.”Auhh…” jerit Bima setelah satu tonjokan mendarat sempurna di wajahnya dan membuatnya lagi-lagi harus jatuh tersungkur untuk yang kedua kalinya. Sebenarnya Izah ingin tertawa tapi dia harus menahannya.
“Dua kali aku jatuh malam ini, keduanya sama pula di dorong sama Izah. Tapi kayaknya kali ini lebih parah deh. Auh… sampai keluar darah lagi. Perih banget!” Gerutu Bima kesal kemudian segera memakai baju tidur yang sudah di siapkan Izah di atas kasur. Setelah itu Bima mengambil kotak P3K dan mengobatinya sendiri sambil mengomel sendiri karena malam pertamanya tidak berjalan lancar. Bima membersihkan lukanya membelakangi Izah.
Izah yang mendengar Bima sedari tadi menggerutu merasa bersalah karena sudah merusak malam pertama mereka. Dengan sedikit membuka matanya Izah mencoba mengintip Bima, dia tidak tega melihat Bima merintih kesakitan karenanya. Kemudian Izah bangun dan membantu Bima mengobati lukanya. “Kamu kok bangun? Emang suaraku terlalu keras ya?” tanya Bima memelankan suaranya.
“Hemmm” jawab Izah mengangguk kemudian mengambil kapas dan membersihkan luka Bima.
“Maaf ya, aku tadi ngak sengaja buat wajah kamu jadi luka gini.” Ucap Izah masih focus membersihkan luka Bima. “Iya tapi kamu harus membayar ganti rugi atas apa yang udah kamu lakuin. Auhhh…” ucap Bima menatap serius Izah. “Iya, iya. Apa aja yang kamu mau aku turutin deh.” Ucap Izah pasrah karena dia sangat merasa bersalah
Setelah Izah mengatakan itu, perlahan Bima mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Izah. Hingga Izah memundurkan badannya dan akhirnya terjatuh ke atas kasur. Dan kini Bima sudah berada di atas Izah dengan perlahan Bima mulai mendaratkan ciuman di bibir Izah dan Izah langsung memejamkan matanya. Ketika tangan Bima mulai meraba bagian sensitive Izah tiba-tiba aktifitas Bima di hentikan Izah dan membuat Bima menatap Izah dengan tatapan bertanya. “Aku belum siap!” ucap Izah ketika Bima menatapnya.
“Ini tidak akan sakit.” Ucap Bima meyakinkan Izah.
“Iya tetap aja, aku belum siap!” ucap Izah dengan mata nerkaca-kaca.
“Ya sudah kalau begitu, sekarang kamu tidur aja. Biar besok ngak telat bangun!” suruh Bima dengan kecewa.
“Maaf! aku akan coba. Tapi lain kali kalau aku kita sudah yakin dengan perasaan kita masing-masing.” Ucap Izah kemudian menarik selimut mencoba untuk tidur. Bima hanya menggangguk mengerti, tanpa Bima sadari dia sudah mencintai Izah. Jika Bima tidak mencintai Izah, mana mungkin Bima mau melakukan itu dengan Izah, kemudian keduanya tertidur dengan saling memunggungi.
__ADS_1
Ke esokan harinya, Izah sedang menyisir rambutnya di depan meja rias dan Bima sedang mandi dikamar mandi. Tiba –tiba Izah dikagetkan dengan Bima yang tiba-tiba melihat Bima keluar dari kamar mandi.
“Izah, tolong ambilkan handuk untukku!” pinta Bima sambil mengusap wajahnya yang masih basah. Sontak saja Izah membelalakkan mata, karena Bima tidak memakai satu helai pakaian. Tapi untung saja Bima hanya mengeluarkan kepalanya saja.
“Kenapa harus aku?” tanya Izah menutup matanya.
“Kamu ngak mau? Ya udah biar aku ambil sendiri.” Ucap Bima sambil membuka pintu kamar mandi dengan perlahan. Izah yang melihat Bima akan keluar, dia segera menghentikannya dan mengambikkan handuk untuknya. “Stop! Udah biar aku aja yang ambilin.” Ucap Izah masih dengan menutup matanya. Kemudian Izah mengambilkannya dan memberikan kepada Bima.
“Ini!” ucap Izah memberikannya dengan membuang muka supaya tidak melihat Bima.
“Mendekat sedikit lagi, itu terlalu jauh!” suruh Bima dengan tersenyum. Dengan terpaksa akhirnya Izah mendekat. Tapi Bima malah menyuruhnya terus mendekat, Izah yang merasa kesal langsung mendorong pintu kamar mandi dan membuatnya terbuka dan melihat Bima telanjang.
“Aaaa…” teriak Izah segera lari meninggalkan Bima. Dan Bima hanya tertawa melihat Izah seperrti itu, kemudian melanjutkan mandinya.
“Kamu kenapa dek?” tanya Tedi heran.
“Ngak kenapa-napa kok.” Jawab Izah gugup.
“Kalo ngak kenapa-napa kok kamu gugup?” tanya Sofi menyelidik.
“Oh, Papa tahu! Pasti Bima ngajak kamu, tapi kamu ngak mau makanya kamu lari. Iya kan?” ucap Anton sambil tertawa.
__ADS_1
“Ishh… apa sih Papa ini. Aku sama Bima ngak ngapa-ngapain.” Ucap Izah kemudian menyendok nasi.
“Selamat pagi semuanya!” sapa Bima kemudian duduk di samping Izah.
“Pagi nak Bima. Silahkan makan, jangan sungkan karena kamu sekarang sudah menjadi anggota keluarga kita.” Ucap Sofi ramah pada Bima.
“Baik Ma.” Ucap Bima mengangguk. Izah tidak menghiraukan kehadiran Bima, dia masih enak makan makannya. Sofi yang melihat itu segera menegur Izah.
“Izah!” bentak Sofi pelan. Izah segera melihat kea rah Sofi dengan sorot mata bertanya. Kemudian Sofi mengisyaratkan dengan matanya dan juga gerakan bibir yang di mengerti oleh Izah. Izah tidak mau berdebat dengan Mamanya di pagi ini, jadi dia menurut apa yang dikatakan Mamanya. Kemudian Izah mengambilkan nasi dengan lauk pauknya sekalian dan di taruh di piring Bima. Bima sangat senang Izah berlaku manis padanya. “Terima kasih.” Ucap Bima setelah Izah selesai menuangkan nasi dan lauknya di piringnya. Setelah itu semua makan , tidak ada obrolan selama makan. Mereka makan dengan suasana sunyi.
“Papa, Mama sama kakak kamu sudah mempersiapkan hadiah pernikahan yang sangat istimewa buat kalian berdua.” Ucap Anton setelah semua selesai makan.
“Hadiah apa Pa? “ tanya Izah penasaran dengan hadiahnya.
“Tedi! Ambilkan hadiahnya!” suruh Anton pada Tedi. Dan Tedi segera mengambilkannya.
“Ini hadiah pernikahan dari kami untuk kalian berdua.” Ucap Tedi memberikan amplop putih kepada Izah. Izah menerima dengan ragu dan sedikit curiga dengan isi amplop itu, dia saling menatap dengan Bima seolah-olah ada percakapan batin antara mereka berdua.
“Cepat kalian buka!” perintah Anton pada Izah yang sudah tidak sabar melihat bagaimana ekspresi anaknya ketika melihat hediahnya. Kemudian Izah membukanya dengan ragu, dan Izah sangat terkejut ketika melihat isi amplop itu.
Bersambung…
__ADS_1