Di Luar Nalar! Ternyata Dia Boy!

Di Luar Nalar! Ternyata Dia Boy!
Prolog


__ADS_3

Perkenalan namaku adalah Grant Valen, saat ini aku adalah seorang anak SMA yang berprestasi. Tahun ini aku akan naik ke kelas 2 SMA dan saat ini sedang hari libur panjang sebelum sekolah memulai kembali. Aku melewati masa-masa kelas 1 SMA dengan baik seperti seorang murid terpelajar. Karena sekarang adalah hari libur sekolah, maka aku menghabiskan waktu libur ini untuk melatih seni bela diriku yang di ajar oleh paman saat itu, pamanku bernama Tono Suratman.


Mungkin kalian berpikir aneh kenapa namaku terdengar keren dan terasa seperti nama-nama orang barat dan sedangkan nama pamanku seperti nama lokal di Indonesia. Baiklah aku akan menjelaskannya kepada kalian kenapa namaku bisa beda jauh dengan nama pamanku.


Itu karena ayahku adalah orang luar negeri dari Amerika dan bernama Bill. Tidak ada nama panjangnya, nama ayahku hanya Bill saja. Ayahku saat pergi ke Indonesia karena ada urusan bisnis dengan perusahaan besar di Indonesia. Jadi ayahku tinggal di Indonesia untuk beberapa waktu sampai urusan bisnisnya telah selesai.


Tapi karena beberapa kejadian yang tak di duga, ayahku jatuh cinta pada ibuku yang bernama Anita yang merupakan orang kampung saat itu. Nama ibuku hanya Anita saja, tidak ada nama panjang seperti ayahku yang bernama Bill saja. Kemudian mereka menikah dan menjalani hidup di sebuah kota besar di Indonesia.


Singkatnya seperti itulah mengapa namaku terdengar seperti nama orang barat. Jadi nama pamanku yang seperti nama lokal penduduk Indonesia, adalah saudara dari ibuku.


Aku menjalani kehidupan yang baik selama ini dan bersekolah di sekolah elite. Sekolah elite internasional yang ada di kota besar Indonesia. Jadi murid-murid yang ada di sana bukan hanya dari orang-orang Indonesia saja, banyak dari berbagai negara yang menyekolahkan anaknya di sekolah itu. Aku mengenal murid-murid di sekolah itu dengan sangat baik dan mereka memperlakukan ku dengan sangat baik.


...****************...


Beberapa Minggu telah berlalu...

__ADS_1


"Grant! cepat bangun!" ucap ibuku yang berada di kamarku pagi-pagi ini. Dia memukulku dengan sebuah guling dengan lembut, itulah ibuku, dia orang yang lembut.


"Ada apa ibu?..." ucapku dengan singkat dan menguap dengan lebar.


"Hari libur mu telah usai! dan kamu harus sekolah sekarang!" ucapku ibuku yang menjewer telinga ku.


"Apa!? cepat sekali liburnya! baiklah aku mandi dulu ibu!" ucapku yang terkejut kalau hari libur telah usai, padahal rasanya baru saja kemarin aku libur.


Aku segera berlari untuk mandi dan melakukan semuanya dengan sangat cepat. Aku bersiap-siap di depan kaca untuk memeriksa apakah aku sudah menggunakan seragam sekolahnya dengan baik atau tidak. Rambutku panjang sekali, ini karena aku tidak pernah memotong rambutku saat hari libur.


Tapi aku sudah tak memiliki waktu untuk itu dan memikirkan soal rambut ku. Aku harus bergegas untuk pergi sekolah sekarang, karena aku adalah murid yang berprestasi. Aku tidak boleh terlambat dihari pertama kenaikan kelas. Aku bergegas mengambil tas sekolah ku dan berlari mengambil roti di meja makan.


Aku melambaikan tangan karena mulutku penuh dengan makanan sekarang. Aku segera berlari sambil makan roti di mulutku untuk sampai di sekolah. Letaknya tidak terlalu jauh dengan rumahku, jadi aku selalu berjalan kaki untuk pergi ke sekolah.


Aku bertemu dengan murid-murid yang satu sekolah dengan ku dan mereka terlihat sedang mengobrol dan tertawa bersama. Ada juga yang bersepeda bersama untuk pergi ke sekolah, aku ikut senang melihatnya. Aku sangat senang untuk memulai hari yang baru di kelas yang baru!.

__ADS_1


Ding! dong! bel sekolah sudah berbunyi! gawat aku masih berada di jalan. Gerbang sekolah sebentar lagi akan di tutup oleh satpam, aku segera berlari meningkatkan kecepatan ku untuk bisa lolos. Wush! aku berjalan dengan sangat cepat dan aku sampai ke sekolah dengan tepat waktu sebelum gerbang di tutup.


Tapi ini masih belum selesai, aku harus segera masuk sekolah dan mencari dimana kelas ku. Ini gawat aku lupa memeriksa grup chat kelas 2 yang baru, karena disana diberikan informasi mengenai lokasi kelas dan murid-murid di kelas 2. Lorong-lorong sudah sepi karena murid-murid sudah masuk ke kelas mereka masing-masing.


Sementara itu aku masih mondar-mandir sambil memegang ponsel ku dan membuka grup kelas. Aku mencari-carinya tak ku sangka selama aku libur chat informasi tentang kelas itu sudah tenggelam. Aku tidak punya waktu lagi, aku harus cepat menemukannya. Sangat gawat jika aku terlambat karena aku adalah murid teladan dan berprestasi di sekolah ini.


Ting! akhirnya aku menemukan informasi itu, kelas ku ada di lantai 3 kelas 2-7. Aku segera bergegas menaiki tangga ke lantai 3 dan tiba tepat waktu di kelas 2-7. Aku berdiri dengan sangat gugup di depan pintu kelasku. Terdengar suara bising di dalam kelas yang membuat ku merindukan hal ini.


Brak! aku menendang pintu kelas dan secara ajaib pintu kelas terbuka lebar untukku. Aku melihat suasana kelas yang sangat menyenangkan, wajah mereka terlihat marah dan saling adu jotos. Kelas yang acak-acakan dan di penuhi oleh anak-anak nakal, aku benar-benar merindukan kelas ini.


"Aku akan bergabung!" teriakku sambil menghajar salah satu murid yang sedang berkelahi. Lalu dilanjutkan menghajar murid lainnya sampai kelas ini diam dan tidak ada lagi yang berkelahi di kelas.


Yah... seperti inilah sekolah ku, namanya saja sekolah elite internasional. Tetapi ternyata isi muridnya adalah anak-anak nakal yang suka adu jotos. Mungkin kalian terkejut, yang ku maksud aku adalah murid berprestasi adalah aku adalah pentolan di kelas sebelumnya saat kelas 1. Lalu di kelas 2 ini karena muridnya sudah berganti, aku akan bertarung dan mengalahkan mereka semua untuk menjadi pentolan di kelas sebelum cita-cita terbesar ku tercapai yaitu untuk menjadi pentolan disekolah.


Yang diaman itu adalah peringkat tertinggi, pentolan yang menguasai satu sekolah, aku belum mendapatkannya saat ini. Padahal saat aku masih SMP, aku bisa mendapatkan gelar pentolan sekolah dengan sangat mudah. Tapi begitu aku masuk di sekolah elite Internasional ini, aku sangat sulit menjadikan diriku sebagai pentolan disekolah ini.

__ADS_1


Padahal aku mengira aku bisa menjadi Pentolan sekolah dengan mudah karena saat SMP aku dengan mudah menjadi Pentolan sekolah. Tapi di sekolah ini... banyak murid-murid yang kuat dan berbakat. Aku jadi kesulitan untuk menghadapi mereka seorang diri untuk menjadi Pentolan di sekolah. Karena situasinya lebih sulit dari saat aku SMP, jadi aku membutuhkan rekan untuk menjadikan diriku sebagai pentolan sekolah.


Yah... seperti inilah kehidupan sekolah ku, memang sangat mengejutkan bukan.


__ADS_2